FESTIVAL FILM INDONESIA

Tiga hal penting tentang FFI 2018

Edwin menerima Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik dalam Malam Penghargaan FFI 2017 di Grand Kawanua Convention Center, (11/11/2017).
Edwin menerima Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik dalam Malam Penghargaan FFI 2017 di Grand Kawanua Convention Center, (11/11/2017). | Indra Rosalia /Beritagar.id

Tahun 2018 sudah mendekati akhir. Seperti biasa, Festival Film Indonesia (FFI) kembali digelar untuk memilih deretan insan film terbaik di negeri ini.

Bertempat di XXI Metropole, Jakarta Pusat, pada Senin (1/10/2018), Komite FFI telah mengumumkan beberapa hal penting yang akan diterapkan pada FFI 2018.

Kembali ke Jakarta

FFI tahun lalu digelar di Manado, Sulawesi Utara (Sulut) pada 11 November. Pemerintah daerah Sulut saat itu mendatangkan para nomine dan peramai acara, yang sebagian besar bermukim di Jakarta. Tak terbayang kerepotan dan ongkos yang harus dikeluarkan.

Kali ini, ajang yang kerap disebut Piala Citra ini kembali diadakan di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat pada 6 Desember. Pada 2016, FFI juga diadakan di pusat kesenian yang berdiri sejak 1968 itu.

“Secara industri tetap pelaku kebanyakan di Jakarta. Bukan berarti daerah enggak penting, tapi secara teknis akan mempermudah,” ujar Lukman Sardi, Ketua Komite FFI periode 2018-2020.

FFI 2018 memiliki tajuk "Mencari Mahakarya Batasnya Hanya Kualitas". Total ada 23 kategori termasuk film terbaik, aktor atau aktris terbaik, hingga penghargaan seumur hidup. Para nomine akan diumumkan pada 6 November, juga bertempat di Taman Ismail Marzuki.

Sistem penilaian

Sistem penilaian dan kriteria pada FFI 2018 kurang lebih masih sama dengan tahun lalu. Langkah pertama, film-film dan insan perfilman yang menjadi nomine FFI 2018 dipilih oleh asosiasi profesi dan komunitas perfilman lokal serta 10 juri mandiri.

Mereka mewakili masyarakat industri film untuk menyuarakan pendapat dan memilih para nomine berdasarkan 110 film Indonesia yang tayang di bioskop atau tayangan berbayar kurun 1 Oktober 2017 hingga 31 September 2018. Peredaran boleh di bioskop umum, atau jaringan pengaliran video di internet.

“Sistemnya bukan mendaftar, kalau tayang dari tanggal 1 Oktober 2017 sampai 31 September 2018 otomatis dia masuk untuk diseleksi. Setelah asosiasi merekomendasikan, asosiasi memunculkan 25 film yang dibagi ke nominasi dalam setiap kategori,” jelas Lukman.

Setelah dibagi dalam setiap kategori nominasi, selanjutnya pemenang akan ditentukan melalui sistem voting di bawah pengawasan konsultan publik independen, Deloitte Consulting. “Komite tidak akan tahu hasilnya,” ujar Lukman.

Sementara kriteria penilaian ada tiga yaitu gagasan dan tema, kualitas estetika, serta profesionalisme. Selain itu, untuk film panjang diwajibkan sudah lulus sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF).

Untuk film pendek, maksimal berdurasi 50 menit. Begitu sebuah film pendek masuk nominasi, Komite FFI akan meneruskannya pada LSF untuk disensor.

Apresiasi untuk kritikus

Selama ini, Festival Film Indonesia hanya memberi penghargaan untuk orang yang terlibat dalam film, dari aktor, sutradara, penulis, produser, hingga para kru. Kali ini, para kritikus juga akan diberi apresiasi.

"Tentunya kritik film itu penting. Bagaimana kami melihat begitu berkembangnya orang-orang mengamati film. Yang akhirnya kami pikir kami harus melakukan kayak semacam 'pendidikan' tentang kritik film itu sendiri. Supaya si filmmaker akan merasa mendapatkan masukan yang benar," ujar Lukman.

Menurut aktor berusia 47 ini, proses pemilihan dan penilaian untuk kritik film akan diumumkan melalui jejaring sosial.

Selain kritikus, orang-orang yang dianggap sudah punya jasa besar terhadap industri film Indonesia juga akan diberi penghargaan. Terutama mereka yang kadang ada di luar radar.

“Yang punya pencapaian dalam film, tapi belum pernah dapat piala. Misalnya produser yang terus bikin film pas film Indonesia jatuh, atau orang teknis,” jelas Lukman.

Pemberian penghargaan itu akan dibarengkan dengan malam pengumuman nomine FFI 2018 pada 6 November.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR