FILM INDONESIA

Upaya LifeLike Pictures merahasiakan Wiro Sableng

Sebuah adegan di balik layar dari film Wiro Sableng.
Sebuah adegan di balik layar dari film Wiro Sableng. | LifeLike Pictures

Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 adalah salah satu film Indonesia yang paling dijaga kerahasiaannya.

Selain menjaga cerita tidak bocor (spoiler), rumah produksi LifeLike Pictures juga membuat calon penonton makin penasaran dengan merilis bentuk akhir karakter-karakternya secara berkala.

Poster karakter pertama yang dirilis adalah Wiro Sableng (diperankan Vino G. Bastian) serta dua karakter pendamping, Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi), pada Februari 2018. Lantas Dewa Tuak (Andy/rif), Mahesa Birawa (Yayan Ruhian), dan Sinto Gendeng (Ruth Marini) menyusul.

Ini satu hal yang wajar. Sebab hasil desain produksi rancangan Adrianto Sinaga begitu detail dan kompleks. Akan sangat disayangkan jika semua itu bocor sebelum waktunya.

Bagaimana LifeLike Pictures menjaga rahasia Wiro Sableng? Apalagi ada tanganan besar karena yang terlibat dalam film kolosal ini nyaris 1.000 orang.

“Selama syuting dari Agustus sampai November, saya bawelnya setengah mati, sih," ujar produser Sheila “Lala” Timothy dalam kunjungannya bersama para pemain Wiro Sableng ke redaksi Beritagar.id di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (21/8/2018).

Sewaktu persiapan syuting, Lala meminta seluruh kru dan pemain menandatangani Non Disclosure Agreement (NDA/perjanjian kerahasiaan). Mereka tidak boleh mengunggah apapun di dunia maya tanpa persetujuan dari LifeLike.

Meski begitu, ternyata muncul rasa kekeluargaan antara orang-orang yang terlibat memfilmkan Wiro Sableng. Semuanya merasa bersama-sama merasa memiliki tokoh karangan Bastian Tito itu. Di satu sisi ini bagus untuk menjaga suasana harmonis syuting, tapi di sisi lain mereka seperti ingin membagikan ke jejaring sosial.

"‘(Foto) yang ini boleh (dibagikan) enggak mbak?’. Saya jawab, ‘Belakangnya lo lihat, ada siapa? Ada Wiro, enggak boleh!’," ungkap Lala seraya tertawa.

Setiap pengambilan gambar, tim produksi memasang peringatan yang berukuran besar. “Ditulis pakai caps lock (huruf besar, red.) sama tim produksi. Dilarang, enggak boleh foto, enggak boleh posting, enggak boleh apapun. Dan untungnya sih, baik-baik semua anaknya," lanjut perempuan berusia 46 ini.

Ketika syuting sedang rehat sejenak, itu justru jadi saat-saat berbahaya. Hampir semua orang akan sibuk sendiri dengan gawai masing-masing. "Kalau lagi break saya cek media sosial dan segala macam. Kalau ada satu, saya bilang, ‘Ini apa? Turunin!’."

Tantangan semakin besar bila ada adegan yang melibatkan banyak orang. "Paling ribet jaga ada satu scene yang ekstra dan fighter-nya itu banyak banget. Itu ada sekitar 30-50 orang kumpul," kisah ibu empat anak ini.

Ponsel mereka dikumpulkan, tapi kebocoran tetap ada saja. Beberapa orang punya ponsel lebih dari satu. "Kadang suka bandel. Handphone yang satu dikantongi, buat foto-foto, buat video segala macam," keluh Lala.

Ketika akhirnya poster karakter dirilis, semua orang langsung tidak sabar untuk mengunggah foto-foto dan momen saat syuting Wiro Sableng. Ini justru jadi keuntungan tersendiri, jika dipandang dari sisi pemasaran. Terutama di media sosial.

Penantian para pemain yang tangannya gatal ingin mengunggah momen syuting pun berakhir saat Wiro Sableng tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai Kamis (30/8/2018).

"Sekarang ketika semua sudah diungkap, semua orang stoknya banyak banget. Keluar semua, naik semua ke sosial media," tutup Lala.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR