ALBUM MUSIK

Upaya Rival Himran mengenalkan Kaili lewat musik reggae

Rival Himran saat meluncurkan mini album Man di Foodism, Kemang, Jakarta Selatan (24/11/2016).
Rival Himran saat meluncurkan mini album Man di Foodism, Kemang, Jakarta Selatan (24/11/2016). | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Menyebut Kaili kepada awam mungkin menghadirkan tanda tanya. Berbeda dengan suku lain di Sulawesi seperti Bugis, Makassar, atau Toraja misalnya, yang lebih populer. Hal tersebut mendorong musikus reggae, Rival Himran, membentuk proyek musik bernama Man.

Rival yang lahir dan besar di Palu, Sulawesi Tengah, sebelumnya dikenal sebagai pencabik bass kelompok Steven & Coconut Treez. Masa vakum grup yang tenar dengan lagu "Welcome to My Paradise" itu diisinya dengan membentuk duo bernama Pallo yang merupakan nama panggilan Rival semasa kecil.

Tiga album berhasil diluncurkan Pallo, yaitu Life Goes On (2009), P.I.S.S (2013, mini album), dan Wortel & Brokoli (2014).

Selanjutnya bungsu dari dua bersaudara ini tercatat pula sebagai personel kelompok Free On Saturday yang sempat merilis album self-titled (2011) dan Gravity (2014). Band pengusung musik rock n' roll itu sempat tampil mewakili Indonesia di Hyde Park, London, Inggris, usai memenangi kompetisi Hard Rock Calling 2012.

Perjalanan musikal Rival bertambah panjang jika menghitung kontribusinya dalam berbagai proyek sampingan seperti Rock N' Colla (dibentuk Ridho Hafiedz, gitaris Slank) dan Sound of 90's bersama Stevie Item (gitaris Deadsquad), Eno Gitara (drummer NTRL), Taraz Bistara (gitaris), dan Dendy (vokalis).

Itu belum termasuk kegiatannya belakangan ini yang terkadang mengiringi penampilan Kikan Namara (mantan vokalis Cokelat).

"Kedondong lah. Ha-ha-ha," ujar Rival mengistilahkan kesibukan yang dialaminya.

Meski sangat menyita waktu, ia senang terlibat dalam banyak band karena bisa melebarkan silaturahmi dengan musisi lain, melatih kemampuan, dan belajar bagaimana menjaga sikap baik.

Hanya saja keterlibatannya dengan sejumlah musikus tadi mendapat cibiran dari segelintir orang. Mereka menganggap Rival sengaja mengambil jarak karena terlalu sering manggung dengan musisi di luar jalur reggae.

"Saya juga ingin bereksplorasi dan tidak ingin terpaku pada mindset bahwa musikus reggae tidak boleh memainkan genre musik lain. Padahal reggae sebenarnya menyampaikan semangat untuk bersosialisasi," Rival menukas.

Frekuensi manggung dengan musisi lain dan mencoba banyak genre musik tidak membuat Rival lupa pada akar bermusik dan kampung halaman.

Man adalah proyek solo yang menggambarkan idealismenya dalam bermusik sembari menggali akar budaya leluhurnya dengan cara yang paling ia bisa, memperkenalkan bahasa Kaili dalam aransemen musik reggae. Penggarapan album memakan waktu satu tahun.

Didit Saad dan Ridho Hafiedz (gitaris), Estu Pradhana (keyboard), Masanis Saichu (salah satu legenda reggae di Indonesia), Septino Ompi dan Rama Moektio (drum), Nita Aartsen (kibor), Jean Sebastian asal Prancis (trompet), dan Disto (perkusi) adalah sejumlah musisi yang terlibat. Sementara Ari Stefanus dan Manto bertindak sebagai produser.

Langkah awal Man adalah meluncurkan mini album berisi lima lagu produksi NuSoundTara. Terpilih sebagai lagu tunggal jagoan adalah "Nemo (Last Time in Summertime)". Empat lagu lainnya adalah "Riumba Rara", "Inaa", "Pakanoto Rara", dan "Damai (Peace)".

Dikisahkannya, alasan memajukan "Nemo" sebagai single pertama karena mewakili keseluruhan album perdana Man yang berisi pengalaman personal, retrospeksi, dan introspeksi.

Bernyanyi menggunakan lirik bahasa Kaili dengan iringan musik reggae sebenarnya sudah pernah dilakukan Amri Palu pada awal dekade 90-an bersama kelompok Batavia Reggae Band, meski dengan porsi lebih sedikit.

Rival ingin melanjutkan apa yang telah dimulai oleh seniornya itu. "Dengan warna musik dan cara saya sendiri tentunya."

Sambil menikmati secangkir kopi di salah satu warung yang ada di Jalan Petogogan, Jakarta Selatan, Kamis (1/12/2016), Beritagar.id menemui Rival Himran dan berbicang tentang proyek terbarunya tersebut. Berikut petikannya.

Musisi pengiring proyek solo Man yang dibentuk Rival Himran.
Musisi pengiring proyek solo Man yang dibentuk Rival Himran. | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Kenapa mengubah nama dari Pallo menjadi Man?

Karena saya tidak mau mengganggu konsep Pallo yang secara musikal dan jumlah personel berbeda dengan Man.

Awalnya saya sempat berpikir proyek ini tetap mengusung nama Pallo. Tapi akhirnya saya urungkan niatan itu. Man ingin saya usung sebagai proyek musikal pribadi dan idealis sebagai orang Palu. Tapi dalam rangka sekalian belajar menggali budaya daerah sendiri.

Hal lainnya, lewat Man saya ingin memperkenalkan Kaili dan indahnya Palu kepada orang-orang. Lagipula berkat kecintaan orang-orang Jamaika terhadap akar budaya mereka, maka reggae bisa hadir.

Semangat itu yang ingin saya tangkap. Setelah saya mengulik, ternyata aksen orang Jamaika dan Palu saat menggunakan bahasa Kaili punya kemiripan.

Enaknya lagi, bahasa Kaili itu punya banyak akhiran huruf vokal, semisal doko deo (rakus, red.), nemo (jangan), iyomo (iya), atau roa (teman). Cocok banget dikemas dalam lagu reggae.

Apa alasan menamai proyek ini dengan Man?

Man itu sebenarnya nama panggilan mendiang ayah. Nama panjangnya Abdul Rahman Himran.

Dulu beliau gitaris. Dikisahkan sahabat mendiang ayah, pernah dalam satu kesempatan saat menonton konser musik di Jakarta, ayah saya bilang ke sahabatnya bahwa suatu saat anaknya yang akan mewujudkan mimpinya tampil di atas panggung.

Kisah itu terus terngiang di kepala saat menggarap album ini. Jadilah saya menggunakan nama Man untuk proyek ini. Sekalian bentuk persembahan saya kepada beliau.

Mengapa tidak sekalian saja merilis album penuh?

Saya sih awalnya mau langsung rilis full album. Namun, dalam kondisi industri musik sekarang, produser saya dan manajemen memutuskan maju dengan mini album terlebih dahulu. Istilahnya test hearing alias cek ombak.

Soalnya kami menerima banyak masukan yang bilang bahwa mubazir jika langsung merilis album penuh, lebih baik mencicil, jadikan produk ini viral di media sosial dan YouTube, baru kemudian melepas album penuh.

Aslinya kami bahkan hanya melempar single "Nemo". Berdasarkan masukan Bens Leo (wartawan dan pengamat musik), akhirnya kami luncurkan mini album berisi lima lagu ini.

Menurut pertimbangan beliau, promosi jadi tidak maksimal jika hanya jalan berbekal satu lagu jagoan. Wawancara di stasiun radio misalnya, akan sangat singkat karena hanya membahas satu lagu.

Kapan Man merilis album penuh?

Awalnya berencana rilis Maret 2017. Tapi kemungkinan mundur jadi Mei 2017, agar bersamaan dengan acara Kampung Baru Fair. Jadi sekalian launching di kampung halaman.

(Kampung Baru adalah nama kelurahan di Palu yang jadi tempat tinggal Rival)

Lantas mengapa tidak menyertakan musisi Palu dalam penggarapan Man?

Niat saya kan ingin memperkenalkan Kaili. Itu kenapa saya sengaja mengajak musisi yang bukan orang Palu. Setelah bersama saya dalam proyek ini, mereka akhirnya jadi tahu, "Oh, seperti ini ternyata bahasa Kaili."

Selain itu, semoga bantuan dari para musisi ternama yang punya banyak followers di media sosial ini bisa membuat album Man menyebar semakin luas.

Apa saja yang jadi inspirasi selama menggarap album ini?

Penggalian tentang musik dan budaya Kaili terutama saya dapatkan saat masih bergabung dengan band Plisit dan Komunitas Seni Tadulako. Inspirasi lain tentu saja datang dari Bob Marley, Soja, dan Jack Johnson karena saya senang mendengarkan musik mereka.

Apakah semua lagu dalam album perdana Man merupakan pengalaman pribadi?

Iya. Semua lagu berdasarkan apa yang saya rasakan. Misalnya lagu "Riumba Rara" (di mana hatimu?). Itu saya buat sebagai bentuk kesedihan setelah melihat pegunungan di Palu yang mulai ompong akibat terus menerus diambil untuk jadi bahan Galian C.

Kalau "Nemo" bercerita tentang perpisahan dengan orang yang kita sayang, apa pun itu kita harus siap dengan perpisahan. Pesan dalam lagu ini sebenarnya berupa ajakan untuk move on. Juga pengingat agar jangan mengulangi kesalahan masa lalu yang mengakibatkan perpisahan. Istilahnya retrospeksi.

Apa alasan mencampurkan lirik lagu berbahasa Kaili, Indonesia, dan Inggris dalam album ini?

Sama seperti jawaban tadi, alasannya untuk lebih mengenalkan bahasa Kaili tidak hanya kepada orang Indonesia, tapi juga pada publik mancanegara. Penggunaan lirik berbahasa Inggris juga disesuaikan dengan kebutuhan lagu.

Tiga bahasa yang digunakan itu sebenarnya berkelindan. Contohnya dalam lagu "Damai (Peace Man)". Lirik bahasa Kailinya berbunyi "nemo pakaeya mata, kita pura nosarara nemaria posisala" (jangan bikin malu, kita semua bersaudara jangan ada perselisihan), bersanding dengan lirik "we don't need to fight and make peace my man", dan dilanjutkan "reggae itu cinta, reggae itu damai, reggae itu sayang, reggae itu indah."

Mana yang lebih penting, memberi akses musik bagi orang banyak atau kepuasan kreatif pribadi?

Keduanya penting. Pertama saya melakukan ini dengan jujur. Semacam ada panggilan untuk mengenalkan tempat saya lahir dan besar melalui jalur musik.

Apakah kemudian banyak orang yang jadi lebih mengenal Palu atau Kaili karena proyek ini merupakan persoalan lain. Intinya saya sudah berbuat.

Saya selalu percaya bahwa musik yang dibuat dari hati dan penuh kejujuran akan membuat orang lain merasakan vibe tersebut dan menikmatinya, apa pun bahasa pengantarnya.

Buktinya saat saya tampil, banyak orang yang meminta lagu "Nemo".

Apa khas Palu yang sampai sekarang masih susah terlepaskan?

Logat. Walaupun saya sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta, logat itu susah sekali hilang. Ha-ha-ha.

NEMO - MAN Official Video Clip /Man M.A.N
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR