Usaha memfilmkan novel Eka Kurniawan

Edwin (kanan) saat menerima penghargaan di atas panggung Asian Project Market 2016 di Busan, Korea Selatan.
Edwin (kanan) saat menerima penghargaan di atas panggung Asian Project Market 2016 di Busan, Korea Selatan. | Palari Films

Dalam sejarah dunia perfilman global, tidak terkecuali di Indonesia, mengadaptasi novel ke medium gambar bergerak adalah hal lazim. Ikhtiar terbaru adalah ekranisasi novel "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" karya Eka Kurniawan keluaran 2014.

Jalan mewujudkan keinginan tersebut tampaknya bakal semakin mulus. Dalam Asian Project Market (APM) di The Westin Chosun Busan, Korea Selatan (9-11/10/2016), "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" arahan Edwin berhasil memenangi kategori Busan Award.

Dalam siaran pers yang disebar APM, proyek produksi Palari Films yang mengusung Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash sebagai judul internasional itu berhak membawa pulang hadiah USD15.000 (Rp195 juta).

APM merupakan bagian dari Busan International Film Festival. Diadakan mulai 2006 dengan nama Pusan Promotion Plan.

Tujuannya adalah mempertemukan para pembuat film terbaik dari kawasan Asia dengan penyandang dana, investor film, dan pembeli film alias distributor dari berbagai negara.

Dua tahun silam dalam ajang serupa, film A Copy of My Mind arahan Joko Anwar juga berhasil mendapatkan bantuan pendanaan. Karena menang pada kategori CJ Entertainment Award, Joko membawa pulang USD10 ribu.

Meiske Taurisia, salah seorang produser selain Lorna Tee dan Muhammad Zaidy, sejak awal yakin "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" punya kans besar menang di APM.

"Kami para produser melihat potensi Vengeance sebagai film yang memiliki daya tarik internasional dan pasar global. Karena itu kami mencari potensi ko-produksi dengan negara lain," ujar Meiske dilansir dalam laman qubicle.id.

Zaidy melihat potensi luar biasa dari novel ketiga Eka Kurniawan ini sebagai materi yang kuat untuk diolah menjadi film. Meski mengakui bahwa mengadaptasi novel ke dalam film bukan pekerjaan gampang, pihaknya berusaha membuat film yang menghibur, indah, dan unik secara kemasan maupun isi cerita.

"Visi Edwin terhadap film, dan pemahamannya terhadap buku 'Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas' membuat kami semua bersemangat dan percaya bahwa proyek film ini harus dikerjakan," lanjut pria kelahiran Makassar yang juga terlibat memproduksi film Athirah ini.

Perihal alasannya mengadaptasi "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" alih-alih novel Eka yang lain, Edwin yang pernah menyutradarai film Babi Buta yang Ingin Terbang (2008) mengatakan bahwa novel tersebut sangat sinematik.

"Bahkan beberapa bagian cerita di dalamnya terasa ada baunya. Buku ini sangat kental dengan pengetahuan dan segenap misteri yang mempengaruhi pembentukan kebudayaan modern masyarakat kita. Seperti jutaan anak laki-laki di Jawa yang tumbuh pada era tahun 1980-an, saya sangat mengenali Ajo Kawir dan dunianya," ungkap Edwin dalam siaran persnya kepada Beritagar.id, Rabu (12/10).

Laiknya dalam versi novel, tokoh Ajo Kawir dipertahankan sebagai protagonis utama dalam versi film. Ia dikisahkan bekerja sebagai sopir truk yang sudah bertahun-tahun tak bisa ereksi. Penyebabnya, Ajo sewaktu remaja pernah mengintip dua orang polisi yang memperkosa seorang janda bernama Rona Merah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR