FILM INDONESIA

Vino G. Bastian sempat tak mau memerankan Wiro Sableng

Aktor Vino G. Bastian berpose di depan poster Wiro Sableng dalam konferensi pers perilisan poster tiga karakter film Wiro Sableng di Warung Koffie Batavia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (13/2/2018)
Aktor Vino G. Bastian berpose di depan poster Wiro Sableng dalam konferensi pers perilisan poster tiga karakter film Wiro Sableng di Warung Koffie Batavia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (13/2/2018) | Indra Rosalia /Beritagar.id

Lelaki itu menatap tajam. Kain berwarna putih melingkar di kepalanya, sedikit merapikan rambut gondrong yang berantakan. Pakaian yang ia kenakan tak kalah awut-awutan. Kostumnya serba putih, dengan sabuk dan pengikat lengan berwarna coklat. Si lelaki menggenggam sebuah kapak yang memiliki ukiran naga di bagian ujungnya.

Itulah penampilan aktor Vino G. Bastian dalam poster film Wiro Sableng yang siap tayang September 2018.

Vino tampil meyakinkan sebagai pendekar berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 nan legendaris itu. Padahal awalnya ia enggan terlibat langsung sebagai pemain, apalagi pemeran utama.

Dalam konferensi pers perilisan poster tiga karakter film Wiro Sableng di Warung Koffie Batavia, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (13/2/2018), Vino menceritakan alasannya.

Lelaki berusia 35 ini hanya ingin menjadi perwakilan keluarga untuk film ini. Kebetulan, sang ayah yaitu Bastian Tito adalah pengarang novel "Wiro Sableng" yang terdiri dari ratusan jilid.

Ihwalnya adalah pembicaraan Vino dengan kakak iparnya, Sheila Timothy. Perempuan yang akrab dipanggil Lala itu adalah CEO LifeLike Pictures yang kini memproduksi film Wiro Sableng.

Ketika itu Lala menunjukkan ketertarikan pada waralaba Wiro Sableng, sudah banyak pihak yang minta restu Vino dan keluarganya untuk memfilmkan kisah tersebut.

"Sekitar 3-4 tahun lalu saya mengobrol dengan Lala. Dia bilang mau baca bukunya. Saya kasih 10 episode pertama. Ternyata dia ketagihan, minta lagi semuanya. Setelah itu dia riset untuk mulai memproduksi film ini. Tapi saya sebagai wakil keluarga saja," ujar Vino.

Suatu ketika Lala menawarkan peran pendekar sakti itu kepada Vino yang berbalas penolakan. "Enggak ada kewajiban, kalau bapaknya yang menulis, anaknya yang harus main," jelas suami aktris Marsha Timothy itu.

Ada beberapa faktor yang bikin Vino tidak mau bermain dalam pengejawantahan kisah bikinan ayahnya ke dalam format bioskop.

Ia tidak mau dianggap aji mumpung, mentang-mentang bapaknya yang membuat cerita. Lagipula ia tak punya bekal bela diri, sebuah hal penting yang harus dimiliki pemeran Wiro Sableng.

Selain itu, pria kelahiran Jakarta ini juga awalnya tidak terlalu mengenal kisah perjalanan pemilik rajah 212 itu.

Vino lebih sering menghabiskan masa kecilnya dengan membaca komik-komik bela diri dari luar negeri, semisal "Tapak Sakti" dan "Kungfu Boy".

"Dalam keluarga, saya orang yang paling jauh dari 'Wiro Sableng'. Yang paling dekat itu kakak saya yang kedua," ungkapnya.

Jadi, Vino mengenal "Wiro Sableng" secara lisan dari obrolan dengan sang ayah, terutama mengenai filosofi angka 212 yang menjadi ciri khas murid Sinto Gendeng ini.

Teringat masa lalunya, Vino lalu berpikir betapa Wiro Sableng telah menjadi sebuah hal yang sangat penting bagi keluarganya.

"Saya bisa sekolah sampai saat ini karena Wiro Sableng. Bergabung dalam proyek Wiro Sableng adalah usaha saya melestarikan karya besar ayah dan mungkin ini sebagai bakti kecil kepada orangtua saya," jelas lelaki bertinggi badan 179cm ini.

Pergulatan dalam hati Vino berakhir ketika ia mengiyakan ajakan Lala. "Kesempatan ini mungkin enggak datang dua kali. Umur juga, mumpung saya masih punya stamina kuat untuk memerankan Wiro Sableng. Kebetulan tim yang bikin juga hebat. Saya rasa ini waktu yang tepat untuk meneruskan bakti kepada ayah saya," lanjut Vino.

Walaupun mengiyakan tawaran Lala, tidak serta merta Vino langsung diterima sebagai pemeran utama.

"Enggak seenak dan segampang kata orang," ujar Vino. Mentang-mentang Lala Timothy sang kakak ipar adalah CEO LifeLike Pictures, tidak membuat Vino otomatis maju sendirian dengan mulus sebagai Wiro.

LifeLike tak bisa sembarangan dalam memilih pemain, karena rumah produksi penghasil film Banda (2017) ini harus bekerja sama dengan Fox International Productions (FIP) sebagai tandem untuk urusan dana dan teknik pembuatan. Tentu saja segalanya harus dipertanggungjawabkan LifeLike kepada Fox.

Kandidat lain tetap ada --Vino dan Lala tidak menyebutkan nama, pemilihan pemain juga melibatkan proses casting. Salah satu yang mengawasi proses tersebut adalah Yayan Ruhiyan, pakar silat sekaligus bintang film The Raid (2012) yang kini menjadi koreografer silat Wiro Sableng.

Lalu bagaimana soal beladiri? Kandidat lain seperti Fariz Alfarazi (pemeran Bujang Gila Tapak Sakti) dan Sherina Munaf (Anggini) sudah punya dasar. Sherina pernah mendalami wushu, sementara Fariz justru merupakan atlet pencak silat yang didaulat menjadi aktor.

"Saya nggak ada basic beladiri, tapi Kang Yayan bilang, 'beladiri tuh bisa dipelajari, tapi karakter rasa Wiro itu susah dicari pada diri orang lain'," tutup Vino.

BACA JUGA