Waktu tayang ''Overdose'' dari Agnez Mo dibatasi KPID Jabar

Artis Agnes Monica berjalan keluar Komplek Istana Kepresidenan usai bertemu Presiden Joko Widodo di Jakarta, Jumat (11/1/2019).
Artis Agnes Monica berjalan keluar Komplek Istana Kepresidenan usai bertemu Presiden Joko Widodo di Jakarta, Jumat (11/1/2019). | Akbar Nugroho Gumay /Antara Foto

Agnes Monica, populer disebut Agnez Mo, telah lama memulai langkahnya untuk lebih dikenal di tingkat dunia. Lagu-lagunya pun banyak yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris. Namun, upaya tersebut justru terantuk peraturan di negeri sendiri.

Tersiar kabar bahwa salah satu single berbahasa Inggrisnya, "Overdose", dibatasi waktu pemutarannya, baik di radio maupun televisi, di Jawa Barat. Maksudnya, lagu itu hanya boleh diputar pada waktu tertentu saja. Demikian ditegaskan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, seperti dikabarkan detikHot (26//2019).

Sebabnya, lagu yang masuk ke dalam beberapa tangga lagu di Amerika Serikat itu dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat, terutama yang belum dewasa.

Jika ditilik dari liriknya, lagu tersebut menceritakan tentang dua orang yang saling tergila-gila. Ada dua kali kata "sex" dinyanyikan di sana. Sedangkan dari segi visual, Agnes dan Chris Brown, teman duetnya dalam lagu tersebut, memang mengumbar beberapa adegan mesra yang sulit ditemukan di video musik berbahasa Indonesia.

KPID mengategorikan lagu tersebut dalam klasifikasi D (dewasa). Akibatnya, radio dan televisi yang beroperasi di wilayah Provinsi Jawa Barat hanya boleh menyiarkannya pada pukul 22.00 hingga 3.00 WIB.

Ketetapan tersebut merujuk pada Pasal 9 Ayat (1) & Ayat (2) Peraturan KPI No.02/P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran, yang berbunyi:

(1) Program siaran wajib memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan yang dijunjung oleh keberagaman khalayak baik terkait agama, suku, budaya, usia dan/atau latar belakang ekonomi, dan

(2) Program siaran wajib berhati-hati agar tidak merugikan dan menimbulkan dampak negatif terhadap keberagaman norma kesopanan dan kesusilaan yang dianut oleh masyarakat.

Lalu pada Pasal 20 Ayat (1) dan (2) Peraturan KPI No.02/P/KPI/03/2012 tertulis:

(1) Program siaran dilarang berisi lagu dan/atau video klip yang menampilkan judul dan/atau lirik bermuatan seks, cabul dan/atau mengesankan aktivitas seks.

(2) Program siaran yang menampilkan musik dilarang bermuatan adegan dan/atau lirik yang dapat dipandang menjadikan perempuan sebagai objek seks.

Tak hanya "Overdose" milik Agnez Mo saja yang waktu penyiarannya dibatasi, ada 16 lagu lain juga yang masuk daftar dan semuanya merupakan lagu yang didendangkan penyanyi luar negeri.

Berikut adalah daftar 17 lagu yang dibatasi penayangannya oleh KPID Jawa Barat, termasuk milik Agnez Mo.

  • "Dusk Till Dawn" oleh Zayn Malik
  • "Sangria Wine" oleh Camila Cabello dan Pharrel
  • "Mr Brightside" oleh The Killers
  • "Let Me" Zayn Malik
  • "Love Me Harder" oleh Ariana Grande
  • "Plot Twist" oleh Marc E. Bassy
  • "Shape Of You" oleh Ed Sheeran
  • "Overdose" Chris Brown feat Agnez Mo
  • "Makes Me Wonder" oleh Maroon 5
  • "Thats What I Like" oleh Bruno Mars
  • "Fuck it I Dont Want You Back" oleh Eamon
  • "Bad Things" oleh Camila Cabello dan Machine
  • "Versace On The Floor" oleh Bruno Mars
  • "Midsummer Madness" oleh 88rising
  • "Wild Thoughts" oleh DJ Khaled feat Rihanna
  • "Till it Hurts" oleh Wild Thoughts
  • "Your Song" oleh Rita Ora

Langkah ini pun mendapat komentar dari beberapa musisi. Misalnya saja anggota grup band Superman is Dead (SID), Jerinx, yang berkomentar lewat Instagram.

"Di Jawa Barat, lagu-lagu berbahasa Inggris akan dibatasi di radio, ditetapkan 18 Februari 2018. Baru ditetapkan sih. Mungkin nunggu RUU Permusikan sah jadi UU baru dieksekusi. Belum ada RUU Permusikan saja sudah ada regulasi fasis macam ini. Makin jelas kan ke mana arah RUU Permusikan ini? Kalau gak ke Korut ya ke Indonistan," tulisnya.

Pembatasan waktu tayang lagu ini bukan yang pertama dilakukan KPID Jawa Barat. Pada 2016, mereka melarang 13 lagu dangdut disiarkan di Jawa Barat dan membatasi jam siar 11 lagu dangdut lain.

Lagu-lagu tersebut juga dianggap melanggar norma, menjadikan perempuan sebagai obyek, dan tidak melindungi anak-anak.

Keputusan ini sempat mengundang pro dan kontra. Para penggemar penyanyi yang lagunya dilarang disiarkan pun menghujat dan mencemooh KPID. Namun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengapresiasi positif langkah KPID ini.

KPID Jawa Barat juga memantau lagu-lagu berbahasa Sunda dan tarling (musik populer di pantai utara Jawa Barat), terutama yang liriknya mengumbar sensualitas. Pemantauan dilakukan di siaran radio dan televisi swasta lokal di 27 kota dan kabupaten di Jawa Barat. Hingga kini, belum ada kabar lebih lanjut soal pelarangan tarling dan lagu berbahasa Sunda tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR