FILM INDONESIA

Wiro Sableng mengandalkan desain khas Nusantara

Adrianto Sinaga, Angga Sasongko, dan Sheila Timothy (dari kiri), ditemani Makbul Mubarak sebagai moderator saat mengadakan diskusi di Universitas Multimedia Nusantara, Gading Serpong, Banten (27/3/2018)
Adrianto Sinaga, Angga Sasongko, dan Sheila Timothy (dari kiri), ditemani Makbul Mubarak sebagai moderator saat mengadakan diskusi di Universitas Multimedia Nusantara, Gading Serpong, Banten (27/3/2018) | Jessycha Nayoan/Beritagar.id

Awalnya dikenal sebagai serial buku cerita silat, tokoh Wiro Sableng produksi Lifelike Pictures dan 20th Century Fox kembali beraksi di medium audio visual. Pembeda utama dengan versi film dan sinetron terdahulu adalah kentalnya desain khas Nusantara dengan nuansa kekinian.

Hal itu diungkapkan Sheila Timothy (produser), Chris Lie (pendiri Caravan Studio), Alvin Hariz (desainer poster), Angga Dwimas Sasongko (sutradara), dan Adrianto Sinaga (desainer produksi) saat mengadakan diskusi bertajuk "Local IP Breakthrough in International Market" di Lecture Theatre Gedung D, Universitas Multimedia Nusantara, Gading Serpong, Banten (27/3/2018).

"Saya ingin ketika orang menonton, mereka tidak mengatakan bahwa film ini terlihat seperti film-film Cina, Korea Selatan, atau Jepang," kata Adrianto Sinaga.

Lala --sapaan akrab Sheila-- mengaku bahwa usulan awal memproduksi film Wiro Sableng datang dari Vino G. Bastian, pemeran Wiro Sableng yang notabene putra Bastian Tito, penulis cerita silat dari pendekar pemilik Kapak Maut Naga Geni 212.

Dari yang semula belum tertarik karena beragam pertimbangan, Lala akhirnya membentuk tim produksi dan perlahan mulai menggarap proyek film ini. "Tokoh Wiro Sableng yang seolah terus memanggil membuat saya akhirnya tergerak," ungkap Lala.

Pertimbangan utama yang muncul kemudian adalah menjadikan versi yang sekarang lebih meningkat dibandingkan film-film dan sinetron Wiro Sableng terdahulu.

Solusinya dengan membuka pintu kerja sama dengan pihak luar. Setelah melalui proses pencarian dan penjajakan selama setahun, Lifelike sepakat mengandeng 20th Century Fox, salah satu studio film kenamaan di Hollywood, Amerika Serikat.

"Selain Indonesia, saya tahu 20th Century Fox juga ingin masuk ke Vietnam dan Filipina. Begitu mereka tahu Wiro Sableng punya tiga captive market (pangsa pasar potensial, red.) yang besar, mereka akhirnya memilih kami," tambah Lala.

Alhasil Wiro Sableng menjadi proyek kolaborasi film pertama 20th Century Fox di kawasan Asia Tenggara.

Tiga captive market film Wiro Sableng yang dimaksudkan Lala adalah pembaca buku cerita silat dari generasi X, penonton versi sinetron mewakili generasi Y, dan anak-anak zaman sekarang yang keranjingan film-film pahlawan super.

Selain itu, 20th Century Fox menganggap Wiro Sableng punya ciri khas yang tergambar mulai dari penggunaan seni bela diri, desain produksi yang menggabungkan kekayaan budaya nusantara, dan beberapa atribut lain yang sangat Indonesia.

Film ini juga menampilkan detail-detail hasil pertimbangan berbagai aspek, seperti filosofi pada pembaharuan logo, bahan dan jahitan pada kostum, warna dan elemen yang ditampilkan dalam poster, juga pernik ukiran pada senjata yang digunakan Wiro Sableng.

Semua gabungan kemasan tersebut untuk membuat studio besar Hollywood tertarik sehingga kekayaan intelektual (intellectual property) Wiro Sableng mampu menembus pasar internasional.

Selain mengadakan sesi diskusi, Lifelike Pictures bekerja sama dengan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) juga menggelar kompetisi desain poster alternatif film Wiro Sableng di Gedung A, Universitas Multimedia Nusantara (23-28/3).

Total karya yang mendaftar mencapai 350 poster. Dewan juri kemudian menyeleksi dengan kriteria penilaian meliputi segi estetika, kejelasan/dampak visual, dan orisinalitas sehingga terpilih 25 poster yang masuk babak final.

Secara runut, pemenang kompetisi ini adalah Kevin Insan Rasyid, Alodia Yap, dan Nalta 097.

Menurut para juri, secara keseluruhan desain poster buatan Kevin mampu memberikan dampak dan impresi yang kuat ketika orang melihatnya. Tata letak logo dan judul juga menjadi nilai plus.

Sementara poster karya Alodia Yap yang menjadi pemenang kedua memiliki pemilihan warna yang bagus dan kuat secara poster. Tambah lagi dengan adanya perpaduan antara simbol matahari dan ukiran-ukiran menyerupai alur kapak.

Poster karya Nalta 097 sebagai pemenang paling bontot dianggap bagus secara komposisi dan eksekusi, serta memiliki corak desain khas Indonesia.

Kepada Beritagar.id, Kevin mengaku terkejut saat namanya ditahbiskan sebagai pemenang pertama yang berhak atas hadiah iPad Pro dan mengunjungi kantor pusat Hewlett-Packard di Singapura.

Menurutnya, poster yang menyabet gelar juara justru adalah karya terakhir yang dikerjakannya. Kevin total mengikutkan empat karya dalam kompetisi kali ini.

"Karena ini poster paling terakhir yang saya buat, dibikinnya agak malas-malasan. Pengerjaannya berlangsung seminggu lebih karena banyak berhentinya," ujar pria yang sehari-hari berprofesi sebagai freelance designer.

Tentang latar belakang terciptanya desain poster yang menjadi pemenang ini, Kevin mengaku berangkat dari ide sederhana.

"Yang paling teringat dari sosok Wiro Sableng kan kapaknya, makanya saya bikin siluet kapak," pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR