FILM INDONESIA

Upaya Yandy Laurens agar Keluarga Cemara tetap relevan

Sutradara Yandy Laurens berpose saat mendatangi kantor Beritagar.id di Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Senin (26/11/2018).
Sutradara Yandy Laurens berpose saat mendatangi kantor Beritagar.id di Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Senin (26/11/2018). | Muhammad Imaddudin Siregar /Beritagar.id

Saat tayang di televisi pada 1990-an, sinetron Keluarga Cemara cukup populer. Kisahnya membumi karena mengenai keluarga menengah atas yang terpaksa hidup sederhana tanpa meninggalkan rasa bersyukur.

Kini kisah yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Arswendo Atmowiloto itu diangkat ke layar lebar oleh Visinema Pictures. Mereka menunjuk sineas muda Yandy Laurens (29) sebagai sutradara.

Keluarga Cemara menjadi film layar lebar panjang pertama Yandy. Sebelumnya, jebolan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV IKJ) ini terbiasa menangani film pendek yang menghasilkan sejumlah prestasi.

Wan An besutannya meraih penghargaan Film Pendek Terbaik pada Festival Film Indonesia 2012. Film berdurasi 20 menit itu menceritakan hubungan keluarga. Tentu saja, ini modal kuat Yandy sebelum mengangkat kisah Keluarga Cemara ke layar lebar.

Yandy pun mengunjungi kantor Beritagar.id di Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Jumat (16/11/2018). Yandy menceritakan awal mula didaulat menggarap film tersebut serta membagi kesannya tentang versi sinetron dan relevansi Keluarga Cemara bikinannya pada zaman sekarang.

Bagaimana ceritanya Mas Yandy bisa menggarap Keluarga Cemara, proyek yang cukup besar karena ini film panjang layar lebar pertama Anda?
Kenapa ujug-ujug Keluarga Cemara, (sebenarnya) melewati prosesnya cukup panjang dari film pendek, saya selalu bikin film, dan sepertinya saya suka dengan isu-isu keluarga dan hubungan.

Mas Angga (Dwimas Sasongko, produser Keluarga Cemara, red.), Mbak Gina (S. Noer, penulis naskah), dan Teh Anggia (Kharisma, produser) melihat itu dan memberikan kepercayaan bahwa saya bisa menggarap proyek film Keluarga Cemara ini.”

Apakah dulu Mas Yandy sempat menonton sinetron Keluarga Cemara bikinan Arswendo Atmowiloto?
Waktu kecil yang tersisa hanya memori-memorinya saja, karena saya tidak benar-benar stay tune nonton. Tapi saya ingat ada sinetron yang mood-nya sedih sekali, ada Abah yang baik, yang menarik becak, ada anak yang jualan opak.

Pas ditawarkan Keluarga Cemara, pertama kali yang saya lakukan mencoba menonton lagi, menonton sekali lagi waktu saya berumur 28. Pengalamannya berbeda sekali.

Nanti coba deh cari di Youtube, episode 1-nya ada kalau gak salah, episode 1-nya sinematik sekali. Terus, melihat Mas Arswendo begitu menulisnya dan sinetronnya begitu, jadi kita melihat ini sinetron zaman dahulu saja sangat sinematik cara membuatnya.

Mas Yandy kan sempat bertemu Arswendo sebelum menggarap Keluarga Cemara. Apa katanya?
Mas Arswendo filosofis sekali ngomongnya. (Katanya): ‘Kalau Semeru itu bayi saya, saya lahirkan, saya besarkan, sekarang ia sudah mau menikah. Saya tahu siapa suaminya, saya percaya dia akan mengarungi bahtera rumah tangganya, biarkan itu jadi keluarganya dia.’

Bagaimana relevansi kisah Keluarga Cemara dengan kondisi zaman sekarang?
Ini yang mencoba dibuktikan oleh film ini. Nilai Abah yang selalu ia pegang, Emak, dan seluruh keluarganya 20 tahun lalu, kalau diterapkan di tahun ini dengan segala perkembangan zaman, apakah masih relevan? Pertanyaan yang seharusnya dapat dijawab kalau kita nonton film ini.

Apa harapan Mas Yandy untuk film Keluarga Cemara?
Dengan menonton ini, kalau teman-teman sudah ada yang menonton sinetron-nya, kami berharap penonton paham kenapa ada karakter seperti Emak, Abah, Ara. Kenapa mereka seperti itu, seharusnya ada jawabannya di film ini.

‘Harta yang paling berharga’ menurut Yandy Laurens itu seperti apa?
Menurut saya harta yang paling berharga adalah hubungan. Karena saya punya berkah yang paling baik dalam hidup kita adalah hubungan. Kita bisa punya (materi) tapi belum tentu bisa menikmati. Itu yang paling berharga.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR