TERKECOH KATA

Autodidak dan autodidaktik

Ilustrasi belajar sendiri
Ilustrasi belajar sendiri | Wokandapix /Pixabay

Ada salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang sering digunakan secara salah, yakni autodidak. Ketika bermaksud menyampaikan bahwa kepandaiannya diperoleh dengan belajar sendiri, seseorang mengatakan bahwa ia belajar secara autodidak. Padahal, maksudnya adalah belajar secara autodidaktik.

Autodidak merupakan kata yang cukup terkenal dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menyerap autodidak dari rumpun bahasa Indo-Eropa, khususnya bahasa Inggris dan Belanda. Dalam kamus kedua bahasa itu tercatat kata autodidact.

Bukan hanya masyarakat umum yang salah memakai dan memaknai kata autodidak, melainkan juga wartawan. Tulislah kata autodidak dan otodidak secara terpisah di mesin pencari Google, lalu klik kanal berita, maka Anda akan menemukan banyak berita yang menggunakan kata autodidak dan otodidak secara salah pada judulnya. Berikut ini empat contohnya. Pencarian ini dilakukan pada 4 Januari 2019.

  • Hanya Belajar Otodidak, Kakak Beradik Ini Mampu Palsukan BPKB dan STNK (Wartakota.tribunnews.com, 13 September 2018).
  • Belajar Secara Otodidak, Remaja Ini Diganjar Rp500 Juta Karena Temukan Kelemahan Google (Kaltim.tribunnews.com, 30 Mei 2017).
  • Pengamat: Mayoritas Peretas Belajar Autodidak (CNNIndonesia.com, 29 Agustus 2018).
  • Sebelum Bunuh Istrinya, dr Helmi Belajar Nembak Autodidak (Detik.com, 29 Maret 2018).

Semua kata autodidak pada judul berita itu harus diganti menjadi autodidaktik agar kalimat itu gramatikal dan benar maknanya.

Pemakaian autodidak dan autodidaktik tidak bisa dipertukarkan karena autodidak (kata benda) adalah "orang yang mendapat keahlian dengan belajar sendiri". Sedangkan autodidaktik (kata sifat) berarti "dengan belajar sendiri".

Demikianlah arti dua kata tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam jaringan (daring) Edisi V (Badan Bahasa, 2016).

Berbeda dengan autodidak, kata autodidaktik tidak populer dalam masyarakat Indonesia. Mungkin karena itu banyak orang yang salah memaknai autodidak. Mereka memakai autodidak untuk semua situasi karena hanya mengenal kata itu, dan karena tidak mengetahui autodidaktik.

Salah satu bukti tidak populernya autodidaktik adalah sedikitnya pemakaian kata itu dalam surat kabar dibandingkan dengan penggunaan autodidak, setidaknya itu yang terpantau pada koran daring.

Di Google, saya tak menemukan kata autodidaktik dipakai dalam judul berita di media daring kecuali dalam isi berita. Misalnya, dalam berita berjudul “Ketika Model Majalah Dewasa Alih Profesi Jadi DJ, Ini Kisahnya” (13 Maret 2018). Tempo.co menulis, “Ria belajar selama tiga bulan di sekolah DJ Rumus, dan meneruskan belajarnya secara autodidaktik selama setahun.”

Selain karena autodidaktik tidak populer, pemakaiannya dalam kalimat tidak dicontohkan dalam KBBI, kamus yang konon menjadi acuan bagi masyarakat umum. KBBI juga tidak menyertakan contoh pemakaian kata autodidak.

Bandingkanlah dengan kamus bahasa Inggris daring, seperti kamus Merriam-Webster, kamus Oxford, dan kamus Cambridge. Tiga kamus itu memberikan banyak contoh pemakaian kata autodidak dan autodidaktik di dalam kalimat.

Sebagai pembuat KBBI, Badan Bahasa tidak punya alasan tidak memberikan contoh pemakaian kata dalam KBBI daring karena tidak akan menambah tebal kamus, seperti kekhawatiran menambah contoh pemakaian kata dalam kalimat pada KBBI cetak.

Karena KBBI tidak mencontohkan pemakaian autodidak dan autodidaktik, saya berikan sebuah contoh, “Dia seorang autodidak dalam dunia bahasa. Ia mempelajari linguistik secara autodidaktik.”

Autodidak atau otodidak

Manakah yang harus dipakai: autodidak atau otodidak? KBBI membakukan autodidak. Sementara itu, Tesamoko: Tesaurus Bahasa Indonesia (Gramedia, 2016) susunan Eko Endarmoko membakukan otodidak. Tesaurus ini memang memuata kata autodidak, tetapi memberikan tanda rujuk silang ke kata otodidak. Artinya, kamus ini membakukan otodidak.

Jadi, manakah yang baku antara autodidak dan otodidak? Persoalan ini sebaiknya tidak dipandang dari sudut baku atau tidak baku karena pemakaian kedua kata itu bersaing dalam masyarakat.

Selain itu, persoalan kata yang mengandung kata bentuk terikat auto- dan oto- dalam bahasa Indonesia memang agak pelik karena tidak konsisten. Misalnya dalam autobiografi dan otobiografi, autokrasi dan otokrasi, dan autopsi dan otopsi. Jadi, tidak ada salahnya memakai autodidak maupun otodidak.

Lagi pula, kata baku bukanlah kata yang lebih benar daripada kata yang tidak baku, dan kata yang tidak baku bukanlah kata yang salah dibandingkan dengan kata yang baku--kecuali kata yang disebut tidak baku itu tidak bisa diderivasikan ke dalam berbagai bentuk, misalnya merubah, yang tidak bisa diperlakukan selentur mengubah.

Kata yang disebut terakhir ini dibentuk dari ubah. Ubah bisa dibentuk menjadi mengubahkan, pengubahan, peubah, ubahan. Sementara itu, merubah tidak bisa dibentuk menjadi kata-kata tersebut karena kata dasarnya sudah salah, yakni rubah, dan tidak ada awalan mer- dalam bahasa Indonesia.

Jadi, sebenarnya, merubah bukan lagi tergolong kata tidak baku, melainkan kata yang salah karena derivasinya bertabrakan dengan derivasi mengubah. Karena itu, kamus tidak mencatat merubah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR