RAMBU-RAMBU BAHASA

Bahasamu, kastamu

Ilustrasi tingkatan "kelas" dalam tangga melingkar
Ilustrasi tingkatan "kelas" dalam tangga melingkar | Luciana Lopez /Pixabay

Sudah kita tahu kemampuan bahasa, yang antara lain berarti penguasaan atas sejumlah kaidah bahasa, lebih diperlukan dalam bahasa tulis demi mendapatkan efektivitas lebih besar. Namun, mungkin sekali ada kesan atau perasaan, tuntutan itu malah lebih sering dianggap bikin repot.

Bukankah yang paling penting adalah pembaca mengerti? Buat apa jadi repot dengan segala urusan hukum bahasa yang banyak bersangkutan dengan ejaan dan tanda baca?

Sebentar. Coba bandingkanlah dua teks ini: (1) "Habis ke Sorong, saya ke Palu", dan (2) "Habis kesorong saya kepalu". Pengetahuan bahwa bentuk ke di situ adalah kata depan, bukan awalan, adalah kunci agar proses penyampaian informasi menjadi lancar.

Tanpa mengerti hukum dasar ini, sangat mungkin yang terjadi adalah komunikasi yang sumbang. Dua kalimat contoh tadi membawa arti atau maksud berbeda. Dan inilah yang bisa terjadi bila meremehkan kaidah. Maksud hati menyampaikan kabar perjalanan, tapi yang sampai ke pembaca adalah pemberitahuan bahwa si penulis mengalami nasib sial.

Yang lebih sering terjadi adalah, komunikasi barangkali tak sampai terganggu sekalipun kaidah telah dilanggar. Cukup sering kita menjumpai, misalnya, tulisan (Rumah ini) dikontrakan atau di kontrakkan pada plakat di sisi depan sebuah rumah.

Jelas kedua bentuk itu keliru, sebab yang benar adalah dikontrakkan. Tapi, pada kenyataannya, tanpa riset pun kita tahu bahwa kebanyakan orang melek huruf, begitu membaca yang pertama tidak akan mengartikannya sebagai ditentangkan. Pun tak ada yang menggugat salah di pada yang kedua, yang mestinya ditulis menyambung.

Belum lagi bila kita bicara soal penulisan kata. Banyak sekali kita dapati penulisan kata antri, blangko, faham, frustasi, dan bukan antre, blanko, paham, frustrasi seperti yang dianjurkan, karena dianggap baku, oleh KBBI.

Contoh semacam ini dapatlah kita perpanjang sesuka hati. Apakah dengan begitu kaidah bahasa tak perlu kita pedulikan? Atau dalam bentuk positif, kenapa di dalam menulis kita mesti menuruti rambu-rambu bahasa yang aturannya sangat banyak itu?

Benar belaka bahwa di dalam berkomunikasi dengan bahasa, yang penting pembaca (atau lawan bicara) mengerti. Karena itu, menurut hemat saya, seperti tatkala berbicara, dalam menulis pun lupakan dulu segala macam aturan kebahasaan.

Nanti, setelah dirasa semua ide tertuang barulah kita kembali dari awal dan menangani hal-hal yang bersangkutan dengannya sambil menambah atau mengurangi apa-apa yang perlu di sana-sini.

Pada akhirnya, kepatuhan pada kaidah dalam berbahasa bukan menunjukkan sebuah sikap taat, tunduk, melainkan wujud sebentuk rasa hormat kepada, dan rasa bangga terhadap, norma-norma bahasa Indonesia yang sudah sepatutnya kita junjung bersama.

Lagi pula, orang suka lupa bahwa bahasa adalah cermin sempurna pemakainya. Bahasa menunjukkan bangsa. Bahwa bahasa adalah penanda identitas. Bahasamu kastamu.

Catatan redaksi: Artikel ini bagian dari rangkaian tulisan tentang "Rambu-rambu Bahasa"
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR