MAKNA KATA

Barangkali mereka lupa kepanjangan nama DPR

Ilustrasi: Gedung DPR tengah diamankan anggota Brimob.
Ilustrasi: Gedung DPR tengah diamankan anggota Brimob. | Muhammad Iqbal/aww /ANTARA FOTO

Kita sudah terlalu lama menyebut dewan perwakilan rakyat dengan singkatan DPR. Begitu juga dengan anggota badan legislatif tersebut. Kita dan mereka mungkin sudah lupa akan frasa yang terkandung dalam kependekan itu, yakni perwakilan rakyat.

Baik kelupaan kita maupun kealpaan mereka berpotensi merugikan masyarakat. Mengapa begitu? Sebelum membahas itu, kita simak dulu kegaduhan yang terjadi sepekan belakangan ini.

Para anggota DPR membahas draf revisi sejumlah undang-undang (UU) pada masa akhir jabatan mereka kali ini, antara lain, UU Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), UU Pemasyarakatan, dan UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Gelombang protes dari publik terhadap lembaga legislatif itu pun muncul karena menilai banyak pasal peraturan tersebut yang bermasalah sehingga berdampak, antara lain, melemahkan pemberantasan korupsi (revisi UU KPK) dan menguntungkan koruptor/meringankan ancaman hukuman dan denda bagi koruptor (revisi UU KUHP dan UU Pemasyarakatan). Informasi lebih lanjut mengenai hal ini bisa Anda baca di media massa.

Para legislator itu mungkin lupa atau pura-pura tidak ingat bahwa mereka wakil rakyat. Sebagai wakil rakyat, mereka merupakan penyambung lidah rakyat untuk menyampaikan aspirasi atau manifestasi keinginan rakyat dalam pemerintahan.

Jika rakyat ingin pasal-pasal bermasalah dibuang dalam undang-undang yang direvisi itu, anggota DPR sebagai wakil rakyat seharusnya mengikuti kehendak rakyat. Namun, mereka justru mengabaikannya.

Oleh sebab itu, sebaiknya kita berhenti menyebut dewan perwakilan rakyat sebagai DPR. Kita harus menyebut kepanjangan nama lembaga mereka untuk mengingatkan mereka atau untuk menggebuk pikiran bebal mereka bahwa mereka merupakan wakil rakyat; dan dengan harapan agar kepanjangan itu menjadi sugesti bahwa mereka berasal dari rakyat, dipilih oleh rakyat, dan bekerja untuk rakyat.

Kepraktisan berbahasa dengan memakai singkatan mesti kita abaikan dulu khusus untuk mengingatkan lembaga seperti DPR yang penghuninya lupa akan fungsi dan tugas etisnya.

Mengapa demikian? Dengan menyebut singkatan DPR, kita berarti membantu anggota dewan itu memperpendek ingatan mereka. Dengan sebutan DPR, kita telah menolong mengekalkan kepura-puraan mereka terhadap nama lembaga mereka.

Kalau perlu, kata legislator tidak kita gunakan lagi untuk menyebut anggota DPR. Menyebut mereka sebagai legislator hanya akan membuat mereka lupa bahwa fungsi DPR hanya fungsi legislasi (pembuat undang-undang) dan fungsi anggaran (menyusun anggaran).

Padahal, fungsi lainnya ialah fungsi pengawasan (mengawasi pelaksanaan UU, APBN, dan kebijakan pemerintah) yang dijalankan dalam kerangka representasi rakyat. Dalam menjalankan fungsi ini, DPR wajib mengutamakan kepentingan rakyat.

Fungsi terakhir ini tidak terkandung dalam kata legislator secara semantis sehingga berpotensi diabaikan oleh anggota DPR, terutama apabila DPR dikuasai oleh partai pengusung presiden, apalagi jika tidak ada partai oposisi.

Selain menyebut DPR dengan kepanjangannya, kita harus memikirkan panggilan baru untuk anggota lembaga itu, misalnya penyambung lidah rakyat, penyampai aspirasi masyarakat, pejuang suara rakyat.

Dengan panggilan-panggilan itu, kita bisa menuntut mereka, baik untuk kembali kepada khitah sebutannya maupun untuk mundur (bahkan memasukkan mereka ke tempat sampah seperti yang dilakukan sekelompok demonstran terhadap seorang anggota parlemen di Ukraina pada September 2014), jika mereka bekerja keluar jalur sebutan tersebut.

Singkatan Menyembunyikan Kepentingan

Selain untuk menyampaikan pikiran, bahasa juga berfungsi menyembunyikan pikiran. Ada dua ungkapan Prancis perihal itu. Pertama, la parole a été donnée à l'homme pour déguiser sa pensée (bahasa diberikan kepada manusia untuk menyembunyikan pikirannya).

Ungkapan ini konon kali pertama diucapkan Charles-Maurice de Talleyrand-Périgord, Menteri Luar Negeri Prancis setelah keruntuhan pemerintahan Napoleon. Kedua, les paroles sont faites pour cacher nos pensées (bahasa-bahasa dibuat untuk menyembunyikan pikiran-pikiran kita). Ungkapan ini konon diucapkan Joseph Fouché, Menteri Kepolisian Prancis pada masa yang sama.

Apa yang disembunyikan dari dan melalui bahasa oleh politikus? Kepentingan. Makna kata kepentingan di sini sudah peyoratif. Maksud saya, kepentingan ini tentu saja bukan kepentingan rakyat, melainkan kepentingan yang menguntungkan mereka.

Singkatan dan akronim merupakan bagian dari bahasa. Jika kita mengacu pada dua ungkapan Prancis tersebut, singkatan juga bisa digunakan oleh politikus untuk menyembunyikan pikirannya.

Dalam hal ini singkatan DPR juga bisa dipakai oleh anggota parlemen untuk menyembunyikan pikiran mereka dari rakyat dengan ucapan-ucapan retoris, alasan-alasan teknis, dan ungkapan-ungkapan kamuflatif.

Singkatan DPR menyembunyikan para anggotanya dari kepanjangan nama lembaga tersebut. Makin sering kita menyebut DPR makin klise singkatan itu dan kian terbiasalah kita dengannya tanpa merasa ada yang salah, serta kian dalam wakil rakyat itu menyurukkan tugas etis mereka dalam palung singkatan nama lembaga.

Karena bahasa juga dipakai untuk menyembunyikan pikiran, saya mulai khawatir kita terbiasa menyebut Komisi Pemberantasan Korupsi dengan singkatan KPK. Jangan-jangan kita tidak mempermasalahkan apabila nanti kepanjangan P pada KPK diganti menjadi pengawasan.

Hal itu mungkin saja terjadi karena reivisi UU KPK yang ditolak publik pun sudah disahkan. Lagi pula, apa yang tidak mungkin terjadi pada hari-hari ini?

Tidak memakai singkatan bukanlah hal mustahil untuk dilakukan. Majalah Tempo sudah lama menolak singkatan dan akronim sebagai cara untuk berbahasa secara ringkas, dan mencari cara lain untuk mencapai efektivitas berbahasa, misalnya membuang kata mubazir.

Dengan tidak menggunakan singkatan, Tempo pasti sudah lama tahu bahwa bahasa, termasuk singkatan dan akronim, dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menyembunyikan pikiran serta maksud mereka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR