MAKNA KATA

Batang, Rambut, dan Bulu

Ilustrasi bulu (atau rambut?)
Ilustrasi bulu (atau rambut?) | Alexandra /Pixabay

Bulu kaki saya jarang, tapi ada. Pada satu sore di beranda sepulang kerja, saya bercengkerama dengan seorang anak saya, Dika, yang waktu itu baru masuk sekolah dasar. Adik ipar duduk di sebelah saya.

"Rambut kaki Bapak kok sedikit?" tiba-tiba Dika bertanya sembari mengelus-elus tulang kering saya, kiri dan kanan.

Adik ipar saya, yang sedikit lebih lebat bulu kakinya, cuma senyam-senyum.

"Bulu, bukan rambut." Bergantian, kini saya yang mengelus-elus dia, di kepalanya. Sontak dia mendongak. Ekspresi air mukanya menunjukkan kombinasi tidak mengerti dan dorongan menyatakan protes.

Rupanya, rambut bagi anak saya persis sebagaimana definisi dalam kamus bahasa Indonesia: bulu yang tumbuh pada kulit manusia--tapi kamus menambahkan penjelasan dalam tanda kurung "(terutama di kepala)".

Penjelasan tambahan ini sedikit banyak menyebabkan semua yang tumbuh di bagian tubuh selain kepala tak bisa lagi menyandang nama rambut. Mereka punya sebutan lain: bulu. Bulu hidung, bulu kuduk, bulu ketiak, bulu kaki--bukan rambut hidung, dan seterusnya.

Anehnya, jarang sekali kita temukan bentuk "rambut kepala". Bagi penutur bahasa Indonesia umumnya, rupanya kata rambut pertama-tama sudah otomatis merujuk pada bulu yang tumbuh di kepala, seperti ditunjukkan oleh pangkas, potong, atau gunting rambut (yang sama sekali tak memerlukan embel-embel kepala).

Jadi, rambut adalah bulu yang tubuh di kepala. Lalu, apakah bulu? Rambut pendek dan lembut pada tubuh manusia (bukan di kepala) atau binatang, begitu penjelasan KBBI. Lihatlah, bertubi-tubi kita disuguhi definisi melingkar.

Rambut adalah bulu . . . sedangkan bulu adalah rambut . . . . .

Terlepas dari sifat penjelasan yang rada kusut berputar-putar begitu, perumusan bulu dan rambut sampai di situ menunjukkan bahwa keduanya punya sejumlah unsur makna yang sama. Kesamaan ini ditegaskan sekaligus diingkari oleh rumusan "bulu adalah rambut yang pendek dan lembut".

Bulu adalah rambut, tapi pendek dan lembut. Ini menyiratkan rambut itu tidak pendek dan tidak lembut. Maka masuk akal bila rambut pada di tubuh manusia, selain di kepala, dinamai dengan sebutan tersendiri. Dan lagi, ada satu pembeda yang mencolok sebenarnya.

Berbeda dari rambut, bulu punya unsur batang atau tangkai. Ini paling jelas kita lihat pada bulu unggas. Bulu kaki, atau bulu-bulu lain yang tumbuh bukan di kepala tak punya batang seperti pada bulu angsa atau ayam. Karena itu, nalar logis membimbing kita menyebut semua itu bukan sebagai bulu melainkan rambut.

Nah, kenapa kita, penutur bahasa Indonesia, bukan memilih memakai kata rambut melainkan bulu untuk semua itu? Rambut hidung. Rambut kuping. Rambut ketiak. Mau, dan berani, coba menggunakannya?

Asal jangan lupa, berbeda dari bulu, rambut bisa bertumbuh kian panjang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR