BULAN BAHASA

Bersedih dengan bahasa asing

Ilustrasi percampuran
Ilustrasi percampuran | Gerd Altmann /Pixabay

Bencana atau peristiwa buruk memunculkan simpati. Simpati itu diperlihatkan dengan berbagai bentuk, salah satunya membuat tanda pagar (tagar) di media sosial. Sayangnya, ungkapan keprihatinan itu menimbulkan keprihatinan yang baru.

Mengutarakan keprihatinan terhadap bencana dengan menggunakan bahasa Inggris merupakan keprihatinan dalam hal sikap berbahasa atau nasionalisme berbahasa.

Senin 29 Oktober 2018, pesawat Lion Air Boeing 737 Max 8 PK LQP dengan nomor penerbangan JT610 tujuan Pangkalpinang jatuh di perairan di Tanjung Karawang, Jawa Barat, tidak lama setelah tinggal landas dari Bandara Soekarno-Hatta.

Informasi tentang jatuhnya pesawat itu pun bermunculan di media sosial disertai dengan tagar #pray4JT610 atau #prayforJT610 sebagai ungkapan turut berdukacita. Tagar berbahasa Inggris ini muncul pada banyak bencana lain, yang terbaru misalnya gempa Lombok dan gempa dan tsunami Palu-Donggala masing-masing dengan tagar #prayforlombok dan #prayforpalu maupun #prayforpaludonggala.

Yang menarik dari jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 dan munculnya tagar #prayforJT610 adalah bahwa peristiwa itu terjadi sehari setelah peringatan Hari Sumpah Pemuda. Tagar tersebut bertentangan apabila dibandingkan dengan salah satu putusan Kongres Pemuda II, yakni Kami poetra-poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Pernyataan sikap memakai bahasa Melayu—yang kemudian diberi nama bahasa Indonesia—sebagai bahasa persatuan merupakan perlawanan terhadap pemakaian bahasa Belanda oleh pemerintah kolonial di Hindia Belanda. Meskipun pemakaian bahasa Belanda tidak menonjol sebagai bahasa pemersatu di Hindia Belanda, pemerintah Belanda terus mempropagandakan pemakaian bahasanya.

Menurut Prof. Dr. Slametmuljana dalam buku Politik Bahasa Nasional (Penerbit Djambatan, 1959), Sumpah Pemuda adalah manifes politik pada zaman penjajahan. Tiap manifes politik yang berasal dari rakyat jajahan selalu merupakan antitesis sikap penjajah. Pengangkatan bahasa Melayu menjadi bahasa kesatuan oleh para pemuda nasionalis adalah tantangan terhadap bahasa Belanda. Bahkan penyebutan Indonesia adalah antitesis dari Hindia Belanda.

“Jika kemudian bahasa Indonesia disebut bahasa nasional, pengertian nasional ini merupakan antitesis pula dari kolonial,” kata Slametmuljana dalam pidato penerimaan jabatan Guru Besar dalam bahasa Indonesia untuk dirinya pada Fakultas Sastra Indonesia, Universitas Indonesia, 16 Mei 1959.

Slametmuljana menceritakan, Dr. G.J. Nieuwenhuis, promotor bahasa Belanda untuk mengabadikan penjajahan, berusaha sekeras-kerasnya menyuburkan pertumbuhan bahasa Belanda di Hindia Belanda.

Perluasan daerah bahasa dan kebudayaan Belanda mempermudah perluasan ekonomi dan pengabdian penjajahan. Bahasa Belanda harus menyusup ke desa-desa. Itulah sebabnya didirikannya Schakel School di mana-mana untuk anak-anak desa yang telah menamatkan sekolah desa atau sekolah angka 2 karena mereka tidak dapat masuk Hollandsch-Inlandsche School.

Tujuan pokok politik bahasa kolonial seperti yang direncanakan oleh Dr. G.J. Nieuwenhuis, kata Slametmuljana, ialah menolong bangsa Hindia membangun masa depan dan menolong bangsa Belanda mempertahankan masa yang silam. Untuk mencapai jalan itu, tidak ada jalan lain kecuali:

1. Menjauhkan para pelajar bumiputra dari bahasa Melayu dan memupuk pertumbuhan bahasa daerah dengan kedok kepentingan pendidikan; 2. Membuka perspektif kehidupan yang luas dan menguntungkan bagi bumiputra yang pandai berbahasa Belanda; 3. Menyebarkan bahasa Belanda seluas-luasnya.

Persebaran bahasa Belanda akan merapatkan hubungan antara bangsa bumiputra dan bangsa Belanda. Rintangan yang terbesar untuk tujuan ini ialah pertumbuhan bahasa Melayu.

Kini, sehari setelah peringatan 90 tahun Sumpah Pemuda, warganet Indonesia mengungkapkan simpati terhadap korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 dengan memakai tagar berbahasa Inggris: #prayforJT610, bukan #doauntukJT610 atau #berdoauntukJT610. Apakah kita memang bangsa yang mudah lupa dan melupakan?

Memakai tagar berbahasa Inggris untuk mengungkapkan simpati terhadap bencana atau peristiwa nahas merupakan salah satu contoh sikap negatif masyarakat kita dalam berbahasa. Dalam banyak hal, masyarakat kita, termasuk pemerintah, menunjukkan sikap negatif dalam berbahasa, antara lain, menamai bangunan, kompleks perumahan, acara, program, dan dalam percakapan sehari-hari.

Apa pangkal masalah yang mengakibatkan munculnya fenomena ini?

Badan Bahasa sebagai institusi pemerintah yang diamanahi melakukan pemartabatan dan pengutamaan bahasa Indonesia melalui slogan “Utamakan bahasa Indonesia, kuasai bahasa asing, lestarikan bahasa daerah” telah melakukan tugasnya dengan cukup baik selama puluhan tahun.

Perguruan tinggi, media massa, pengamat bahasa, dan pihak lainnya juga ikut melakukan sosialisasi pengutamaan penggunaan bahasa Indonesia. Namun, orang-orang tetap gemar memakai bahasa asing, setidaknya dengan menyelipkan kata-kata asing. Pembinaan seperti apa lagi yang harus dilakukan kepada masyarakat untuk menimbulkan kebanggaan berbahasa Indonesia dalam diri mereka?

Orang-orang Indonesia yang suka berbahasa Inggris maupun yang menyelipkan kosakata bahasa Inggris dalam situasi yang memungkinnya berbahasa Indonesia dianggap memiliki motivasi bermacam-macam, antara lain, agar kelihatan intelektual dan gaul, yang kesemuanya bermuara pada status sosial.

Namun, mereka marah apabila dituduh begitu dan punya berbagai dalih untuk membantahnya, misalnya, campur kode dan alih kode tanpa kita tahu apakah mereka betul-betul paham dengan campur kode dan alih kode yang mereka maksud dan dalam situasi seperti apa harus memakainya.

Kita juga tidak tahu apakah mereka mengetahui bahwa ada disebut dengan kesetiaan bahasa dan kebanggaan bahasa, yang merupakan dua ciri sikap positif terhadap bahasa menurut P. L. Garvin dan M. Mathiot dalam “The Urbanization of The Guarani Language: Problem in Language and Culture”, sebuah tulisan dalam buku Reading in The Sociology of Language (Mouton, 1968).

Betapa mengerikannya masa depan bahasa Indonesia di tengah masyarakat yang tidak memiliki kebanggaan berbahasa, yang bahkan untuk bersedih pun mereka menggunakan bahasa asing.

BACA JUGA