MAKNA KATA

Dari Sanskerta, tetapi (mungkin) disangka dari Arab

Ilustrasi: Pengunjung Frankfurt Book Fair mengambil gambar sebuah buku.
Ilustrasi: Pengunjung Frankfurt Book Fair mengambil gambar sebuah buku. | REUTERS/Ralph Orlowski/djo/18 / ANTARA FOTO

Bahasa Indonesia menyerap sangat banyak kosakata asing. Bahasa Sanskerta dan bahasa Arab adalah dua bahasa asing yang termasuk paling banyak kosakatanya dipungut ke dalam bahasa Indonesia.

Namun, ada sejumlah kosakata serapan bahasa Sanskerta yang seakan-akan merupakan serapan bahasa Arab karena digunakan sebagai istilah untuk menyebut hal-hal yang berhubungan dengan Islam. Sejumlah kata yang demikian akan dibahas secara singkat dalam tulisan ini.

Di Indonesia kosakata serapan Arab sudah seperti “milik” umat Islam karena bahasa tersebut merupakan bahasa Alquran dan hadis. Padahal, di Timur Tengah bahasa Arab juga dipakai oleh, misalnya, umat Nasrani karena agama tersebut lahir di kawasan tersebut, bukan di Eropa.

Adapun banyak kata serapan Sanskerta di negara ini yang tidak dianggap seperti “kepunyaan” umat Hindu, padahal bahasa Sanskerta di India merupakan bahasa keagamaan oleh umat Hindu.

Hal itu mungkin terjadi karena kosakata Sanskerta sudah terlalu lama dipakai oleh orang Nusantara, jauh sebelum pengaruh bahasa Arab masuk bersama Islam ke negeri ini.

Karena kosakata Sanskerta sudah sangat lama digunakan, banyak orang Indonesia yang mungkin tidak tahu lagi bahwa kosakata yang sehari-hari mereka pakai merupakan kosakata Sanskerta.

Karena telah mendarah daging bagi orang Indonesia, sejumlah kata serapan bahasa Sanskerta dianggap kata serapan Arab karena kerap dipakai oleh kaum muslim Indonesia sebagai kata yang berkaitan dengan Islam dan ibadahnya.

Berikut ini sejumlah kata serapan Sanskerta dan Arab dalam bahasa Indonesia dan Melayu.

Data ini sebagian besar saya ambil dari Loan-Words in Indonesian and Malay (Obor, 2008) yang dieditori oleh Russell Jones—sebagai informasi, ada tiga jenis pungutan kosakata dalam bahasa penerima, salah satunya loanwords (pungutan kata murni alias tanpa perubahan bentuk, seperti Alquran dan al-quran).

Pungutan kedua adalah loanblends (pungutan kata dari dua bahasa, misalnya salat (kata Arab) gerhana (kata Sanskerta, grahana). Salat gerhana diserap dari bahasa Arab, salat al-kusuf. Pungutan lainnya adalah loanshifts (pungutan kata berdasarkan pungutan terjemahan dan pungutan makna.

Contoh pungutan terjemahan: sembahyang malam dari salat al lail [salatul lail]. Contoh pungutan makna: puasa enam dari as-saum sittatan min Syawwal ‘puasa enam hari pada bulan Syawal’). Tiga penjelasan pungutan kosakata ini saya olah dari buku Pungutan Padu Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2000).

Puasa. Puasa adalah kata yang sangat populer bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam. Saking terkenalnya, puasa mungkin dianggap sebagai kata serapan Arab, padahal kata ini diambil dari bahasa Sanskerta, upavasa.

Sebagai informasi, puasa tidak hanya dilakukan oleh umat Islam, tetapi juga oleh umat lain, misalnya Hindu dan Buddha. Sebagian orang yang mengetahui bahwa puasa bukan kata serapan Arab dan menganggap kata tersebut tidak cocok dengan makna ‘puasa bagi umat Islam’ menggantinya dengan saum, kata Arab yang berarti ‘puasa’.

Berbeda dengan puasa yang tidak terasa lagi sebagai kata serapan Sanskerta, justru terasa seperti kata serapan Arab, saum masih terasa sebagai kata serapan Arab.

Surga. Seperti halnya puasa, surga merupakan salah satu kata termasyhur di Indonesia. Di negara ini surga populer bagi semua orang, baik pemeluk agama maupun ateis, sebagai istilah dalam agama.

Bagi sejumlah orang, surga mungkin dianggap kata serapan Arab sehingga ada yang menuliskannya dengan syurga agar terlihat ngarab. Padahal, surga adalah kata serapan Sanskerta, svarga. Sementara itu, surga dalam bahasa Arab adalah jannah, yang diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi janah.

Kata ini jauh kalah populer dibandingkan dengan surga. Ungkapan-ungkapan yang beredar di tengah masyarakat memakai kata surga, bukan janah, antara lain, pemegang kunci surga, mengaveling surga, surga dunia, ahli surga. Anda tentu saja tidak pernah mendengar orang mengatakan pemegang kunci janah, mengaveling janah, janah dunia, ahli janah.

Neraka. Neraka adalah kebalikan dari surga. Menurut Loan-Words in Indonesian and Malay, neraka diserap dari bahasa Sanskerta, naraka. Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa neraka berasal dari bahasa Arab, naar atau an-nar.

Karena pengaruh Hindu yang membawa bahasa Sansekerta lebih dulu masuk ke Nusantara daripada pengaruh Arab dan Islam, berkemungkinan tinggi neraka diserap dari naraka. Adapun kata Arab yang juga berarti ‘neraka’ yang diserap bahasa Indonesia adalah jahanam.

Jahanam dalam bahasa Indonesia juga berarti ‘terkutuk; jahat’ dan ‘celaka; binasa’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2016). Dalam bahasa Indonesia jahanam dengan arti ‘neraka’ tidak dipakai tunggal, tetapi digabungkan dengan neraka sehingga menjadi ungkapan neraka jahanam.

Neraka jahanam, ungkapan gabungan kata serapan Sanskerta dan Arab menciptakan tempat penyiksaaan yang amat mengerikan dalam imajinasi orang yang memercayai akhirat.

Sabda. Sabda berarti ‘perkataan’. Namun, dalam bahasa Indonesia sabda dimaknai sebagai perkataan khusus untuk orang berkedudukan tinggi, seperti nabi dan raja. Kita akrab dengan frasa sabda nabi, sabda rasul, sabda raja.

Bagi kaum muslim, sabda seakan-akan menjadi kata sakral karena dipakai dalam terjemahan Alquran dan hadis, serta sering digunakan oleh dai dalam ceramah. Oleh karena itu pula, mungkin banyak orang yang mengira sabda sebagai kata serapan Arab, padahal kata serapan Sanskerta.

Sementara itu, perkataan yang khusus untuk Tuhan dalam bahasa Indonesia adalah kalam (dari bahasa Arab) dan firman (dari bahasa Persia, farman), seperti kalam Allah, firman Allah, Allah berfirman. Meskipun bersinonim dalam bahasa Indonesia, kalam dan firman sedikit berbeda artinya: firman adalah perkataan sebagai perintah.

Pahala. Pahala adalah kata penting bagi umat Islam di Indonesia. Mereka meyakni beribadah mendatangkan pahala. Apabila jumlah pahala lebih banyak daripada jumlah dosa, mereka percaya akan masuk surga sehingga orang-orang berlomba mencari pahala—surga adalah otoritas Tuhan dan konon masuk surga bukan soal jumlah pahala.

Karena dekat sekali dengan kehidupan kaum muslim Indonesia, pahala mungkin dianggap sebagai kata serapan Arab. Padahal, pahala adalah kata serapan Sanskerta, phala. Dalam bahasa Arab, yang disebut dengan pahala adalah sawab. Sawab sangat tidak populer di Indonesia.

Dosa. Dalam hal ganjaran perbuatan, dosa adalah antonim dari pahala. Sejak kecil, kaum muslim di Indonesia diingatkan akan dosa, bahkan ditakut-takuti bahwa perbuatan buruk melahirkan dosa, bahkan ada dosa yang tak terampuni.

Jika di akhirat nanti timbangan dosa lebih berat daripada timbangan pahala, seseorang diyakini masuk neraka. Seperti halnya pahala, dosa bukan kata serapan Arab, melainkan kata serapan Sanskerta. Adapaun dosa dalam bahasa Arab adalah az-zanb atau zanb.

Santri. Dalam bahasa Indonesia santri adalah orang yang mempelajari agama Islam, biasanya di sekolah-sekolah khusus agama, seperti pesantren. Oleh sebab itu, mungkin orang menganggap santri sebagai kata serapan Arab, padahal kata serapan Sanskerta, sastri(n) variasinya senteri.

Dari kata santri ini diturunkan kata pesantren. Pesantren berasal dari pe-santri-an mengalami proses morfofonemis yang disebut dengan sandi vokal sehingga menjadi bentuk pesantren. Sandi vokal terjadi apabila dua vokal yang berderet menjadi luluh (satu vokal), seperti ia (bukan diftong) dalam pesantrian menjadi e.

Bersambung pekan depan ....

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR