TERKECOH KATA

Dialek dan Logat: Istilah yang Tertukar

Ilustrasi: Corak daun  aksen embun
Ilustrasi: Corak daun aksen embun | Yusro M. Santoso /Beritagar.id

Judul tulisan ini mirip dengan judul sinetron. Namun, itulah judul yang cocok untuk menamai tajuk tulisan ini yang membahas tertukarnya pemakaian istilah dialek dan logat.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang menyamakan dialek dengan logat. Peneliti bahasa sekelas Ayatrohaedi, orang pertama yang menulis buku dialektologi di Indonesia, juga menyamakan dialek dengan logat.

“Istilah dialek yang merupakan padan kata logat lebih umum dipergunakan di dalam pembicaraan ilmu bahasa,” katanya dalam buku Dialektologi: Sebuah Pengantar (Pusat Bahasa, 1979).

Dalam kajian dialektologi, dialek merupakan istilah khusus untuk menyebut bentuk bahasa/wicara. Dialek adalah variasi fonologi, morfologi, leksikon, sintaksis, semantik dalam suatu bahasa.

Dengan kata lain, dialek merupakan bagian dari suatu bahasa. Misalnya, bahasa A memiliki dialek 1, 2, 3, 4. Dialek 1, 2, 3, 4 tersebut hanya berada dalam pembahasan tentang bahasa A, tidak bisa dibahas dalam bahasa B.

Suatu bentuk wicara dalam sebuah bahasa disebut sebagai dialek setelah diteliti perbedaannya dari segi fonologi, morfologi, kosakata, sintaksis, dan semantik. Jika belum diteliti, suatu bentuk wicara tidak bisa disebut sebagai dialek atau bahasa, tetapi disebut dengan isolek.

Istilah isolek (isolect) dimunculkan oleh Alfred B. Hudson saat memublikasikan penelitiannya tentang bahasa-bahasa di Kalimantan, yang terbit dalam buku The Barito isolects of Borneo; a classification based on comparative reconstruction and lexicostatistics (Southeast Asia Program, Dept. of Far Eastern Studies, Cornell University, 1967).

Ia memakai isolek sebagai istilah umum untuk menyebut semua jenis bahasa (language maupun dialect).

Isolek adalah istilah netral untuk menyebut bentuk bahasa (lihat buku Dialektologi: Teori dan Metode (Elmatera Publishing, 2009) susunan Prof. Nadra dan Reniwati dan Dialektologi Diakronis: Sebuah Pengantar (Gadjah Mada University Press, 1995) susunan Prof. Mahsun).

Bentuk bahasa yang disebut isolek itu bisa saja berupa bahasa, dialek, atau subdialek setelah diteliti. Jadi, dalam dialektologi, hanya peneliti bahasa yang berhak menentukan suatu bentuk bahasa sebagai dialek, subdialek, atau bahasa karena istilah-istilah tersebut merupakan istilah dalam kajian linguistik, terutama dialektologi.

Istilah yang ditemukan oleh Hudson itu lalu dipakai oleh peneliti lain, seperti Karl Alexander Adelaar (lihat “The relevance of Salako for Proto-Malayic and for Old Malay epigraphy”, 1992) dan Bernd. Nothofer (Lihat Dialek Melayu Bangka terbitan Universiti Kebangsaan Malaysia, 1997).

Mereka menggunakan istilah isolek untuk membicarakan bahasa-bahasa Melayik dan kelompok bahasa lain yang belum jelas pola kekerabatannya.

Sayangnya, Kamus Linguistik (Gramedia, 2008) susunan Harimurti Kridalaksana dan KBBI keliru mendefinisikan isolek. Dalam kedua kamus itu, isolek berarti isoglos pada peta bahasa yang digambarkan melingkari satu kata tertentu. Para pakar dialektologi di Indonesia, seperti Prof. Mahsun, Prof. Nadra, dan Prof. Multamia Lauder, mungkin tertawa membaca pengertian itu.

Istilah isolek memang tidak populer. Mungkin itulah yang menyebabkan kamus-kamus bahasa Inggris, seperti kamus Oxford, Merriam-Webster, dan Cambridge, tidak merekam isolect. Isolek merupakan istilah yang hanya dikenal oleh orang yang mempelajari linguistik, khususnya dialektologi.

Sementara itu, logat bersinonim dengan aksen. Logat adalah cara penutur mengucapkan bunyi bahasa (Nadra dan Reniwati, 2009). Mereka juga mendefinisikan logat sebagai variasi bahasa secara fonetis dan/atau secara fonologis.

Dalam definisi ketiga (Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI V, 2016) tentang kata logat ada arti ‘cara mengucapkan kata (aksen) atau lekuk lidah yang khas’.

Dari definisi dialek dan logat di atas terlihat jelas bahwa arti kedua istilah itu berbeda jauh. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, dialek dan logat disamakan.

Hal itu tidak salah karena dialek dan logat juga merupakan istilah umum untuk menyebut bahasa, seperti dicatat oleh kamus-kamus Melayu/Indonesia lama—kamus bahasa Inggris tidak menyamakan definisi dialek dengan aksen.

Selain itu, kajian dialektologi, yang di dalamnya dialek dan logat dijadikan istilah teknis, baru berkembang di Indonesia kurang lebih 40 tahun terakhir. Artinya, jauh sebelum ada kajian dialektologi di negara ini, penutur bahasa Melayu/Indonesia sudah memakai kata dialek dan logat (aksen).

Lihatlah kamus-kamus berikut ini. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1952) susunan W.J.S. Poerwadarminta mendefinisikan dialek sebagai ‘logat’; ‘bahasa tempatan’, dan mengartikan logat sebagai (1) terjemahan lurus sekata demi sekata (bukan makna atau murad); (2) bahasa atau lafal setjara bahasa daerah; bahasa setempat (dialek); (3) kitab kamus. Dalam kamus ini, kata logat tidak bersinonim dengan aksen karena aksen hanya dimaknai sebagai ‘tekanan suara’.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Pustaka Sinar Harapan, 1994) susunan Badudu dan Zain, dialek adalah bahasa yg berubah krn pengaruh tempat di mana bahasa itu tumbuh sehingga bahasa tidak lagi sama benar dng bahasa aslinya. Sementara itu, logat adalah (Ar) (1) bahasa; (2) dialek; (3) ucapan, lafal.

Kamus ini juga memuat subentri kitab logat: daftar kata-kata dengan pelafalannya. Adapun aksen dimaknai sebagai (1) tekanan atas bunyi yg diberikan pd suku kata; (2) ucapan atau lafal yg khas seseorang; (3) penekanan atau pementingan. Beraksen berarti ‘memperdengarkan aksen atau logat tertentu’.

Kitab Logat Melajoe (Landsdrukkerij, 1901) susunan Charles Adrian van Ophuijsen tidak memuat lema dialek dan aksen, tetapi hanya mencatat lema logat. Kamoes Indonesia cetakan ketujuh (Gunseikanbu Kanri Insatu Kodjo, 1942), yang dikembangkan oleh E. Soetan Harahap dari Kitab Logat Melajoe, merekam logat dengan definisi ‘kata-kata jang ada sesoeatoe pengertiannja’; kitab logat, kitab perhimpoenan atau daftar kata-kata’; pada logatnja, menoeroet artinja, boekan kiasan atau arti ‘ibarat; ahloe’llogat, ahli dalam bahasa; ‘ilmoe logat, ‘ilmoe bahasa.

Tidak ada yang salah dari pengertian logat sebagai ‘bahasa’ karena logat yang diserap dari bahasa Arab, lughah, memang bermakna ‘bahasa’. Dulu logat bahkan didefinisikan sebagai ‘kitab daftar kata-kata’, seperti yang dipakai oleh Raja Ali Haji dalam menjuduli karyanya, Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Logat Melayu Johor, Pahang, Riau, Lingga (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986). Kitab ini terbit kali pertama pada 1927 di di Singapura dalam aksara Arab-Melayu.

Akhirulkalam, biarlah masyarakat awam menyamakan istilah dialek dan logat dalam percakapan sehari-hari karena mereka tidak mengetaui perbedaannya, juga karena kedua kata itu adalah istilah umum. Akan tetapi, orang yang sudah mengetahui definisi logat dan dialek, dan pemelajar serta pakar linguistik mesti menggunakan kedua istilah itu dengan tepat agar pengertiannya tidak rancu.

Pemakaian logat dan dialek sangat perlu dibedakan dalam pembicaraan mengenai ilmu bahasa agar tidak menimbulkan salah paham.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR