MAKNA KATA

Diksi media dalam obituarium

Ilustrasi: Karangan bunga
Ilustrasi: Karangan bunga | Dhemas Reviyanto/ama / ANTARA FOTO

Arswendo Atmowiloto wafat kemarin sore. Kewafatannya diwartakan sebagai obituarium karena dia bukan orang sembarangan: sastrawan dan wartawan masyhur. Sebagai pengamat bahasa, saya memperhatikan kata yang dipakai oleh media massa dalam mengabarkan lelayu (berita kematian) tokoh.

Bahasa Indonesia punya banyak kata dan ungkapan yang bermakna ‘tidak bernyawa lagi’, baik yang berkonotasi positif maupun yang berkonotasi negatif.

Yang berkonotasi positif, antara lain, mangkat, gugur, wafat, tutup usia, berpulang (ke rahmatullah), tutup usia, meninggal (dunia), berlalu, berkalang tanah, berputih tulang, menemui/bertemu Tuhan, memenuhi panggilan Tuhan, kembali kepada Tuhan, mengembuskan napas terakhir/penghabisan, putus jiwa.

Yang berkonotasi negatif, misalnya mati, mampus, tewas, binasa, koit, modar (Jawa), jangkang (Minangkabau). Tentu saja kata berkonotasi negatif tidak pantas digunakan dalam lelayu tokoh (bukan tokoh jahat) atau orang yang dihormati.

Kata bermakna ‘mati’ yang sering muncul dalam obituarium ialah meninggal (dunia), wafat, tutup usia, berpulang, gugur, dan mangkat. Di antara enam kata tersebut mangkat dan gugur paling jarang dipakai karena penggunaannya sangat khusus: mangkat untuk raja, presiden, atau pemimpin pemerintahan lainnya, sedangkan gugur untuk pahlawan, orang yang gugur dalam pertempuran, atau orang yang menjalankan tugas mulia.

Kata wafat juga bisa digunakan untuk raja atau orang-orang besar ternama yang meninggal dunia (Kamus Besar Bahasa Indonesia V). Sementara itu, meninggal (dunia), berpulang, dan tutup usia dipakai untuk mengabarkan obituarium tokoh secara umum.

Penggunaan kata-kata tersebut memang subjektif dan karena itu bersifat politis. Bagi sebagian orang, seorang tokoh mungkin dianggap raja, pahlawan, atau pejuang, atau orang terhormat. Namun, tokoh tersebut mungkin dinilai sebaliknya bagi pihak yang berseberangan.

Arswendo merupakan salah satu tokoh ternama dalam dunia sastra dan pers di Indonesia. Tentu saja ia dihormati sebagai penulis oleh banyak orang meskipun pernah dianggap menghina Nabi Muhammad—ia menerbitkan hasil jajak pendapat yang bertajuk “Ini Dia: 50 Tokoh Yang Dikagumi Pembaca Kita” dalam tabloid Monitor edisi 15 Oktober 1990.

Dalam hasil jajak pendapat tersebut Nabi Muhammad berada di posisi ke-11, di bawah Soeharto, Zainuddin MZ, Soeharto, Saddam Husein, Soekarno, Iwan Fals, dan Arswendo sebagai Pemimpin Redaksi Monitor. Ia pun divonis hukuman lima tahun penjara.

Karena Arswendo tokoh ternama dalam dunia kepenulisan, apa kata yang paling cocok dipakai dalam memberitakan kewafatannya? Kata mangkat dan gugur jelas tidak pas digunakan dalam obituarium Arswendo karena dia bukan pemimpin pemerintahan atau pahlawan negara, juga bukan tentara yang berperang mempertahankan kedaulatan negara.

Bagaimana dengan kata meninggal (dunia), wafat, tutup usia, berpulang? Di antara empat kata tersebut, meninggal (dunia) dan tutup usia merupakan kata yang dipakai banyak media daring daripada wafat dan berpulang (Anda bisa memeriksa di mesin peramban kata yang paling banyak dipakai dalam lelayu Arswendo dengan kata kunci Arswendo meninggal dan Arswendo tutup usia).

Sementara itu, sedikit sekali media yang memakai kata wafat dan berpulang dalam obituarium Arswendo, antara lain, Tempo.co (“Wartawan Senior Arswendo Atmowiloto Wafat”), Tirto.id (“Arswendo Atmowiloto Wafat Setelah Melawan Kanker Prostat”), Mediaindonesia.com (“Arswendo Atmowiloto Berpulang”).

Bagaimana diksi media dalam obituarium penulis terkenal lain? Ketika Danarto, sastrawan, berpulang pada 10 April 2018, kata yang dipakai dalam obituariumnya di banyak media adalah meninggal dunia, setelah itu tutup usia. Sangat sedikit media yang memilih tutup usia daripada media yang menggunakan meninggal dunia.

Adapun media yang memilih kata wafat dan berpulang dalam lelayu Danarto lebih sedikit lagi, antara lain, Tempo.co (“Danarto Wafat, Ini Kronologi Kecelakaan Lalu Lintas di Ciputat”), Medcom.id (“Sastrawan Danarto Wafat”), Bisnis.com (“Danarto Sastrawan kelas Dunia Telah Berpulang”).

Antaranews.com (“Sastrawan Indonesia Danarto Berpulang”). Jika Danarto bukan tokoh alias orang biasa, mungkin media memilih kata tewas untuk memberitakan peristiwa kematiannya karena ia wafat ditabrak sepeda motor.

Ketika Ani Yudhoyono wafat pada 1 Juni 2019, media yang memakai kata meninggal dunia dalam obituarium mantan Ibu Negara itu sangat banyak daripada media yang memakai kata wafat, berpulang, dan tutup usia.

Demikian pula ketika Sutopo Purwo Nugroho tutup usia pada 7 Juli 2019. Kata meninggal dunia mendominasi obituarium Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB daripada kata tutup usia, berpulang, dan wafat.

Mengapa media memilih kata meninggal dunia daripada wafat, tutup usia, berpulang dalam obituarium tokoh ternama di Indonesia? Padahal, media juga memakai meninggal dunia dalam memberitakan orang biasa yang meninggal dalam peristiwa nahas atau bencana alam. Saya tidak mau gegabah menyatakan bahwa rasa bahasa media yang menggunakan meninggal dunia kurang.

Saya akan memilih kata wafat, tutup usia, atau berpulang dalam membuat obituarium seorang tokoh terkenal atau orang yang berjasa pada suatu bidang di negara ini berdasarkan rasa bahasa dan konotasi saya terhadap tokoh tersebut. Jika tokoh tersebut raja, presiden, atau pemimpin pemerintahan yang saya hormati, saya akan memilih kata mangkat dalam membuat lelayunya.

Ketika Raja Pagaruyung, Sultan Muhammad Taufiq Thaib Tuanku Mudo Mangkuto Alam, mangkat pada 1 Februari 2018, saya menyarankan kata mangkat kepada wartawan harian Haluan yang saat itu menulis berita tersebut—ketika itu saya menjadi Redaktur Bahasa di sana.

Kata mangkat mendominasi obituarium Raja Pagaruyung di berita media daring. Namun, ada media yang hanya memakai kata meninggal dunia, antara lain, Republika.co.id (“Tanah Minangkabau Berduka, Raja Pagaruyung Meninggal Dunia”) dan Bisnis.com (“Raja Pagaruyung Meninggal Dunia.

Pemakaman Dilakukan dengan Prosesi Kerajaan”). Padahal, hanya dalam peristiwa kemangkatan raja atau pemimpin pemerintahan media berkesempatan memakai kata mangkat. Kapan lagi media menggunakan mangkat kalau bukan dalam memberitakan kejadian seperti itu?

Jadi, kata apa yang cocok dan layak dipakai dalam obituarium tokoh tertentu? Bergantung rasa bahasa, konotasi, keberpihakan, dan penghormatan Anda/media terhadap tokoh tersebut.

Dalam memilih kata-kata bersinonim dengan ‘mati’ tersebut, Arswendo dalam buku Mengarang Itu Gampang (Gramedia, 1984) menyarankan pengarang memilih kata yang sesuai dengan ungkapannya sendiri. “Memilih yang tepat.

Banyak kata berbeda tetapi artinya sama. Misalnya mati, wafat, gugur, meninggal, koit, ngegelundung, mampus, tak bernyawa, menjadi mayat. Kalau kita tidak pintar memilih, rasanya jadi lain, dan artinya berbeda.

Pahlawan Jos Sudarso gugur dalam pertempuran dengan Belanda. Konteksnya kena dan kata itu yang kita pilih. Kalau kamu ganti dengan kata lain bisa-bisa ditendang.”

Omong-omong, kata apa yang dipakai untuk memberitakan kematian Tuhan? Dalam keyakinan saya, Tuhan tidak pernah mati karena beliaulah yang menciptakan kehidupan dan kematian.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR