MAKNA KATA

Disabilitas, Cacat, dan Eufemisme

Ilustrasi: Sejumlah penyandang disabilitas melakukan Pawai Budaya Disabilitas di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (27/8/2019). Pawai tersebut dalam rangka memperingati HUT Ke-74 Kemerdekaan Indonesia dengan mengangkat tema Menuju Disabilitas Merdeka.
Ilustrasi: Sejumlah penyandang disabilitas melakukan Pawai Budaya Disabilitas di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (27/8/2019). Pawai tersebut dalam rangka memperingati HUT Ke-74 Kemerdekaan Indonesia dengan mengangkat tema Menuju Disabilitas Merdeka. | Sigid Kurniawan/pd /ANTARA FOTO

Beberapa bulan yang lalu kata disabilitas muncul pada banyak media karena kasus diskriminasi yang dialami Romi Syofpa, dokter gigi yang dibatalkan kelulusannya sebagai CPNS di Solok Selatan, Sumatera Barat.

Sejak kasus tersebut muncul dan terus bergulir hingga drg. Romi resmi dinyatakan sebagai PNS, intensitas pemakaian kata disabilitas cukup tinggi karena perhatian publik terhadap kasus ini juga tinggi. Meskipun begitu, masih ada sejumlah media yang menggunakan kata cacat dalam memberitakan kasus tersebut. Padahal, sudah banyak imbauan untuk mengganti kata cacat dengan disabilitas.

Anjuran untuk menukar kata cacat dengan disabilitas setidaknya dilakukan sejak UU No. 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Hak-Hak Penyandang Disabilitas disahkan. Sebelumnya, peraturan mengenai penyandang disabilitas memakai kata cacat, yakni UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.

Pemakaian frasa penyandang disabilitas diperkuat lagi dengan terbitnya UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Persatuan Penyandang Cacat Indonesia pun telah berganti nama menjadi Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia.

Definisi

Ada perdebatan kecil mengenai sebutan penyandang disabilitas dan penyandang difabel. Disabilitas secara leksikal bermakna ‘ketidakmampuan’, sedangkan difabel, yang berasal dari different ability, bermakna ‘kemampuan yang berbeda’.

Oleh karena itu, sebagian orang memilih istilah penyandang difabel untuk menyebut penyandang cacat karena penyandang cacat merupakan orang yang memiliki kemampuan seperti orang lain, tetapi kemampuan dan cara yang digunakannya berbeda.

Sementara itu, penyandang disabilitas berarti orang yang tidak mampu melakukan sesuatu karena keterbatasan fisik atau mental. Dengan kata lain, penyandang difabel lebih halus daripada penyandang disabilitas.

Namun, kesepakatan dunia internasional melalui Convention on the Rights of Persons with Disabilities, yang dalam bahasa Indonesia berarti konvensi mengenai hak-hak penyandang disabilitas, telah memberikan definisi terhadap sebutan penyandang disabilitas, yang dilepaskan dari makna leksikalnya.

Pengertian tersebut juga diamini oleh Indonesia melalui undang-undang. UU No. 19 Tahun 2011 memaknai penyandang disabilitas sebagai orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak.

UU No. 8 Tahun 2016 mengartikannya sebagai setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak. Dengan begitu, sebutan penyandang disabilitas dan penyandang difabel tidak perlu diperdebatkan lagi.

Eufemisme

Ada dua eufemisme dalam frasa penyandang disabilitas. Pertama, penyandang. Penyandang merupakan penghalusan dari kata penderita/pengidap. Penderita/pengidap berkonotasi negatif karena berhubungan dengan, misalnya, sakit, kesusahan, dan cacat.

Artinya, sebutan penderita disabilitas tidak mengenakkan bagi psikologi para penyandang dan keluarga mereka meskipun kenyataannya kondisi mereka memang begitu. Lebih parah lagi apabila sebutan yang dipakai ialah penderita cacat. Kedua, disabilitas.

Disabilitas jauh lebih halus terasa daripada kata cacat. Mengapa demikian? Kata cacat sudah melembaga dan sangat dekat bagi penutur bahasa Indonesia/Melayu. Kata tersebut juga dipakai sebagai makian, hinaan, dan ungkapan buruk dalam masyarakat kita.

Sementara itu, disabilitas merupakan kata yang relatif “baru” bagi orang Indonesia. Oleh sebab itu, kata tersebut memiliki jarak, baik bentuk maupun maknanya, yang relatif jauh bagi masyarakat kita meskipun secara leksikal maknanya mirip dengan cacat.

Sebenarnya, disabilities bisa dipadankan dengan tunagrahita sebagai eufemisme. Meskipun kedua sebutan tersebut kata serapan, tunagrahita, kata serapan bahasa Sanskerta, sudah lama dipakai dalam bahasa Indonesia sebagai eufemisme cacat.

Eufemisme dengan morfem tuna- juga lazim digunakan untuk menyebut kondisi tidak menguntungkan lainnya, misalnya tunanetra (buta), tunawicara (bisu), tunarungu (tuli), tunadaksa (cacat tubuh), tunalaras (cacat suara dan nada), tunawisma (tidak punya rumah).

Namun, pemerintah dan komunitas penyandang disabilitas telah bersepakat menggunakan disabilitas dengan mengadopsi kata tersebut dari bahasa sumbernya.

Hiponim dan Hipernim

Terlepas dari soal disabilitas dan tunagrahita, kedua kata tersebut memiliki kelemahan. Kelemahan sebutan disabilitas ialah tidak mewakili makna detail dari tiap kasus disabilitas. Dengan kata lain, disabilitas merupakan hipernim dari sejumlah hiponim.

Ada beberapa hiponim disabilitas, antara lain, lemah pikiran (feeble minded), terbelakang mental (mentally retarded), autisme, idiot (down syndrome), pandir (imbecile), tolol (moron), oligofrenia (oligophrenia), mampu didik (educable), mampu latih (trainable), ketergantungan penuh (totally dependent) atau butuh rawat, mental subnormal, defisit mental, defisit kognitif, cacat mental, defisiensi mental, gangguan intelektual.

Akan tetapi, tidak semua hiponim itu memiliki padanan yang berkonotasi positif dalam bahasa Indonesia, misalnya idiot (down syndrome), pandir (imbecile), tolol (moron). Idiot, pandir, dan tolol berkonotasi negatif dan sering digunakan untuk menghina dan memaki orang dalam bahasa Indonesia.

Oleh karena itu, perlu dicari padanan yang halus untuk kasus-kasus hiponim dari disabilitas, seperti down syndrome, imbecile, moron. Kalau tidak ada padanan yang halus, adopsi saja kata-kata itu dari bahasa sumbernya, misalnya imbecile menjadi imbesil.

Khusus untuk down syndrome, sepertinya kata ini sudah mempunyai padanan yang lebih halus daripada idiot dan dungu, yakni retardasi mental. Adapun untuk menyebut orang yang mengalami kasus-kasus disabilitas tersebut tambahkan saja kata penyandang di depannya, contohnya penyandang retardasi mental.

Dengan sebutan itu, semoga sebutan anak idiot atau orang idiot dihilangkan dari peredaran kecuali memang digunakan untuk menghina orang.

Dampak Sebutan

Mengapa dibutuhkan eufemisme untuk menyebut kasus disabilitas? Pada dasarnya istilah-istilah dalam kasus tunagrahita, seperti autisme, merupakan istilah dalam dunia kesehatan dan internasional. Tak ada konotasi negatif dalam istilah itu.

Yayasannya bahkan bernama Yayasan Autisma Indonesia. Namun, kata tersebut juga dipakai oleh masyarakat umum untuk menggambarkan perilaku orang dengan tujuan mengejek atau bercanda. Misalnya, ada orang yang menyebut temannya yang bukan penyandang autisme sebagai autis, contohnya orang yang asyik dengan dunia/diri sendiri. Karena digunakan untuk mengejek, kata autis mengalami peyorasi.

Itulah sebabnya banyak orang yang anggota keluarganya menyandang autisme tidak suka dengan sebutan autis. Akibatnya, mereka sedih apabila anggota keluarganya disebut autis dan memiliki motivasi ataupun gambaran buruk terhadap masa depan anggota keluarga itu.

Oleh karena itu, sebutan dalam kasus-kasus disabilitas perlu dicarikan padanan atau sinonimnya untuk membangkitkan rasa percaya diri bagi keluarga maupun penyandang disabilitas. Misalnya, penyandang autisme, retardasi mental, lemah pikiran (feeble minded), terbelakang mental (mentally retarded), idiot (down syndrome), pandir (imbecile), dan tolol (moron) disebut orang berkebutuhan khusus.

Dalam sebutan berkebutuhan khusus terdapat cara pandang bahwa tiap orang punya kebutuhan yang harus dipenuhi. Apabila kebutuhannya terpenuhi, orang berkebutuhan khusus itu dapat normal atau sembuh atau berperilaku seperti orang kebanyakan. Dengan sebutan itu, keluarga penyandang disabilitas memiliki perspektif dan motivasi yang bagus terhadap anggota keluarganya tersebut dengan memenuhi kebutuhannya yang khusus itu.

Sebutan lain bagi orang/anak berkebutuhan khusus ialah anak luar biasa. Itulah sebabnya sekolah bagi anak berkebutuhan khusus itu disebut sekolah luar biasa.

Meskipun penyandang disabilitas/tunagrahita, orang berkebutuhan khusus, dan anak luar biasa bukan istilah spesifik untuk menggambarkan tiap kasus dalam lingkaran penyakit itu, sebutan tersebut berguna sebagai eufemisme untuk membangun perspektif keluarga dan orang lain terhadap penyandang disabilitas.

Prinsipnya, sebutan itu berhubungan dengan cara pandang, dan cara pandang berhubungan dengan tindakan dan penanganan yang dilakukan.

Dengan penjelasan di atas terbukti bahwa kata serapan asing, seperti serapan bahasa Inggris, dan hipernim dapat dipakai sebagai eufemisme dalam bahasa Indonesia untuk mengungkapkan hal-hal yang tabu dan kurang layak jika disampaikan dengan hiponim atau kata spesifik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR