MAKNA KATA

Dua Tempat Berbeda

Ilustrasi percabangan dua tempat
Ilustrasi percabangan dua tempat | Wilhan José Gomes /Pixabay

Ada satu frasa yang menarik perhatian saya dalam pemberitaan kasus pelacuran selebritas baru-baru ini: dua tempat berbeda. Frasa dua tempat berbeda itu bisa termasuk gejala pleonasme, atau pemakaian kata yang mubazir.

Simaklah berita “Polisi Sebut Pengusaha Pemesan VA Bebas Hukum” (Tempo.co, 6 Januari 2019): Kepala Subdirektorat Siber 5 Direskrimsus Polda Jawa Timur, Ajun Komisaris Besar Harissandi, mengatakan VA dan AS ditangkap di dua tempat berbeda.

VA digerebek di kamar sebuah hotel di Surabaya bersama seorang lelaki, sedangkan AS ditangkap dalam perjalanan dari Bandara Juanda.

Agar kalimat itu efisien, wartawan tidak perlu menulis ditangkap di dua tempat berbeda karena tempat penangkapannya, walaupun bukan tempat yang bermakna wilayah administratif atau wilayah geografis, memang tidak sama: yang satu di hotel, sedangkan yang satu lagi di jalan.

Ada dua cara menuliskannya. Pertama, “VA dan AS ditangkap di dua tempat”, lalu tuliskanlah nama dua tempat tersebut. Dengan demikian, kalimat itu sudah jelas dan tidak menyisakan pertanyaan tentang tempat penangkapan di dalam benak pembaca.

Kedua, “VA dan AS ditangkap di tempat berbeda”, kemudian tuliskanlah tempat berbeda yang penulis maksud. Kalimat itu jelas sekali karena ada dua orang ditangkap di tempat berbeda artinya ada dua tempat yang merupakan lokasi dua orang itu ditangkap. Kalau tempat penangkapannya cuma satu, tidak perlu ditulis di tempat berbeda.

Oleh karena itu, menulis dua tempat berbeda merupakan perbuatan mubazir.

Pemakaian kata mubazir seperti itu sering terjadi dalam berita kriminal. Misalnya, dua lokasi berbeda, seperti dalam judul “Polisi Tangkap Dua Pengedar Narkotika di Dua Lokasi Berbeda” (Acehtrend.com, 7 Agustus 2018). Yang lebih parah lagi, dalam berita itu ada frasa dua kecamatan berbeda:

“Sat Resnaskoba Polres Aceh Utara menangkap dua pelaku penyalahgunaan narkoba jenis sabu-sabu di dua kecamatan berbeda, yakni Baktiya dan Tanah Luas.” Dua tempat tersebut merupakan wilayah administratif. Mungkinkah ada kecamatan yang sama?

Pleonasme

Dalam ilmu bahasa, pemakaian kata mubazir disebut pleonasme. Pleonasme adalah pemakaian kata-kata yang lebih daripada yang diperlukan (Kamus Besar Bahasa Indonesia V). J. S. Badudu dalam buku Bahasa Indonesia dalam Pembinaan di TVRI (Pustaka Prima, 1978), mencatat tiga macam bentuk pleonasme.

Pertama, dua kata atau lebih yang sama maknanya dipakai sekaligus dalam suatu ungkapan. Kedua, dalam suatu ungkapan yang terdiri atas dua kata, kata kedua sebenarnya tidak diperlukan sebab maknanya sudah terkandung dalam kata pertama.

Ketiga, bentuk kata yang dipakai mengandung makna yang sama dengan kata lain yang dipakai bersama-sama dalam ungkapan itu. Frasa dua tempat berbeda termasuk ke dalam bentuk yang disebutkan terakhir ini.

Dalam buku Pelik-Pelik Bahasa Indonesia (Pustaka Prima, 1971), Yus Badudu mengatakan bahwa gejala pleonasme timbul karena beberapa kemungkinan. Pertama, pembicara tak sadar bahwa apa yang diucapkannya itu mengandung sifat berlebih-lebihan.

Kedua, dibuat bukan karena tak sengaja, melainkan karena tak tahu bahwa kata-kata yang digunakannya mengungkapkan pengertian yang berlebih-lebihan. Ketiga, dibuat dengan sengaja sebagai salah satu bentuk gaya bahasa untuk memberikan tekanan pada arti (intensitas).

Frasa dua tempat berbeda termasuk ke dalam gejala pleonasme yang ketiga ini kalau kata berbeda dianggap memberikan tekanan arti atau penegasan terhadap frasa dua tempat.

Pertanyaannya, apakah bahasa jurnalistik membutuhkan majas pleonasme, apalagi dalam berita langsung (straight news)?

Dalam menulis berita, wartawan perlu menghindari pleonasme karena sifat-sifat khas bahasa jurnalistik menurut Rosihan Anwar dalam buku Bahasa Jurnalistik dan Komposisi (Pradnya Paramita, 1991) adalah singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik.

Baginya, bahasa jurnalistik adalah bahasa yang membuang kata mubazir untuk mencapai efisiensi dalam bahasa. Ia menganggap efisiensi sebagai syarat penting yang harus dipenuhi bila hendak menulis berita dengan baik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR