MAKNA KATA

Ganti rugi dan ganti untung

Warga melintas di depan lahan yang baru dibuka untuk pembangunan tol Sumatera Barat, di kawasan Padang Industrial Park (PIP), Padangpariaman, Sumatera Barat, Kamis (14/2/2019).
Warga melintas di depan lahan yang baru dibuka untuk pembangunan tol Sumatera Barat, di kawasan Padang Industrial Park (PIP), Padangpariaman, Sumatera Barat, Kamis (14/2/2019). | Iggoy el Fitra /Antara Foto

Awalnya hanya ada istilah ganti rugi atau ganti kerugian, lalu muncul ganti untung. Belakangan ini, ganti untung makin sering digunakan. Alhasil, pemakaian ganti rugi dan ganti untung bersaing di tengah masyarakat. Apa itu ganti rugi dan ganti untung dan dari mana asalnya?

Ganti rugi merupakan istilah untuk menyebut pemberian materi atau sesuatu kepada korban yang terdampak sebuah masalah, misalnya kerusakan barang dan kecelakaan. Karena dirugikan, korban diberi sesuatu sebagai pengganti kerugian yang ia alami. Istilah ganti rugi juga lazim dipakai dalam pembebasan lahan oleh pemerintah.

Bagaimana dengan ganti untung? Ganti untung merupakan istilah tidak resmi yang dipakai oleh pemerintah sebagai istilah tandingan ganti rugi. Istilah ini dimunculkan karena banyak warga yang merasa rugi akibat uang yang dibayarkan untuk pembebasan lahan bernilai rendah atau tidak sesuai dengan harga wajar.

Mengapa ganti untung merupakan istilah tidak resmi? Nyaris semua peraturan yang menyangkut dengan pertanahan dan pembebasan lahan memakai istilah ganti kerugian. Misalnya dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa ganti kerugian adalah penggantian yang layak dan adil kepada pihak yang berhak dalam proses pengadaan tanah. Pemberian ganti kerugian dapat diberikan dalam bentuk uang; tanah pengganti; permukiman kembali; kepemilikan saham; atau bentuk lain yang disetujui oleh kedua belah pihak.

Dalam debat calon presiden (capres) kedua pada 17 Februari 2019 lalu, capres petahana, Joko "Jokowi" Widodo, memakai istilah ganti untung.

“Kemudian untuk ganti rugi, mungkin Pak Prabowo bisa lihat dalam empat setengah tahun ini hampir tidak ada terjadi konflik pembebasan lahan untuk infrastruktur kita. Karena apa? Tidak ada ganti rugi. Yang ada ganti untung,” ujar Jokowi.

Jokowi bukanlah orang pertama yang memakai istilah ganti untung. Pada 2014, Chairul Tanjung, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian saat itu, menggunakan istilah ganti untung sehubungan dengan masalah pembebasan lahan.

"Nggak ada ganti rugi, tapi adanya ganti untung. Jadi, pemahaman dibuat baik, ini lebih mudah," katanya, seperti dikutip dari Detik.com, dalam berita berjudul “CT: Pembebasan Lahan Tak Ada Ganti Rugi, Adanya Ganti Untung”, 9 September 2014.

Dalam kutipan langsung, tentu saja media harus menuliskan istilah ganti untung yang diucapkan narasumber. Di luar kutipan langsung, media punya pilihan untuk memilih istilah.

Sejauh ini, istilah ganti untung hanya digunakan dalam masalah pembebasan lahan. Ganti untung dimaknai sebagai penggantian kerugian yang diberikan kepada warga dengan harga yang tinggi.

Dulu, nilai tanah warga dalam pembebasan lahan dihitung oleh juru taksir (appraisal) berdasarkan nilai jual objek pajak (NJOP), yang biasanya jauh lebih rendah daripada harga pasar. Hitungan seperti ini dianggap merugikan warga.

Konon, kini, tim penilai menghitung harga lahan warga berdasarkan harga pasar atau nilai lain, yang tidak merugikan pemilik tanah. Jadi, ganti rugi dimaknai jika harga yang dibayarkan bernilai rendah, sedangkan ganti untung dimaknai jika harga yang dibayarkan bernilai tinggi.

Dr. Sugianto dan Leliya (dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam pada IAIN Syekh Nurjati Cirebon) menjelaskan dengan baik istilah ganti untung dalam pembebasan lahan dalam buku Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum (Deepublish, 2017). Simaklah penggalan paragraf berikut ini.

“...Pengertian 'ganti untung' harus dimungkinkan terwujud karena masyarakat yang terkena dampak harus diangkat martabat dan kesejahteraannya menjadi lebih baik. Nilai ganti rugi harus dapat memberikan makna sebagai 'ganti untung' bagi masyarakat yang terkena dampak dari pengadaan tanah untuk kepentingan umum.”

Jadi, yang dimaksud dengan ganti untung adalah pemberian ganti rugi yang memberikan keuntungan kepada warga. Meskipun begitu, tetap saja ganti untung merupakan ganti rugi atau ganti kerugian karena istilah itu berangkat dari hitungan ganti rugi.

Sebenarnya, tidak ada hubungan sebuah istilah dengan harga yang dibayarkan untuk ganti rugi. Jika pemerintah menggunakan istilah ganti untung dan membayar lahan warga dengan harga yang tinggi, itu bukan karena pemakaian istilah ganti untung, melainkan karena pemerintah memang membayar lahan itu dengan harga yang tinggi sehingga warga tidak rugi.

Pada dasarnya, tetap saja masalahnya berawal dari kerugian karena warga harus menyerahkan lahan yang ia miliki untuk kepentingan umum, sementara lahan itu bisa ia gunakan untuk kepentingan lain yang lebih menguntungkannya, misalnya untuk investasi atau berdagang.

Maka, istilah ganti untung cacat logika. Bandingkanlah dengan istilah ganti rugi: ‘ganti kerugian’. Sementara itu, ganti untung bukanlah ganti keuntungan. Istilah itu lahir dari rahim politik, dibuat dengan “logika” lain dan dipaksakan untuk dipahami.

Ganti untung merupakan istilah bermuatan politis yang diciptakan oleh pihak yang memberikan ganti rugi kepada korban yang dirugikan atas sesuatu.

Melalui istilah itu, pihak pengganti kerugian berusaha meyakinkan korban bahwa nilai ganti rugi yang diberikan memberikan keuntungan atau setidaknya tidak merugikan. Jadi, ada ideologi yang disisipkan oleh pengganti kerugian melalui wacana ganti untung.

Bagaimana dengan media massa? Media sebaiknya memakai istilah yang berpihak kepada korban (warga) karena media bekerja untuk menjunjung kebenaran dan mengupayakan keadilan bagi pihak yang tertindas atau terancam.

Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa bahasa menunjukkan keberpihakan. Pembaca akan menilai keberpihakan media melalui diksi yang digunakan media tersebut. Diksimu, keberpihakanmu!

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR