MAKNA KATA

Haji sebagai Gelar

Ilustrasi: Umat Muslim melakukan Tawaf keliling Kakbah.
Ilustrasi: Umat Muslim melakukan Tawaf keliling Kakbah. | Aji Styawan/nz / ANTARA FOTO

Frasa jemaah calon haji kerap diperdebatkan oleh kalangan pengamat bahasa Indonesia, terutama ketika frasa tersebut bermunculan di media massa dalam musim haji. Perbantahan itu berkaitan dengan pengakuan haji sebagai gelar dalam masyarakat kita.

Ada pihak yang setuju dengan haji sebagai gelar, dan ada pihak yang menolaknya. Pendapat terkuat di antara kedua pihak tersebut akan menentukan berterima atau tidaknya frasa calon haji.

Apakah haji dalam frasa calon haji sebuah gelar? Untuk menjawab pertanyaan ini kita terlebih dahulu harus mencari tahu arti haji dalam calon haji. Secara leksikal, menurut kamus-kamus bahasa Indonesia, haji berarti ‘ibadah’ dan ‘gelar’.

Arti secara leksikal ini belum final dalam menentukan arti kata dalam satuan lingual, baik frasa maupun klausa. Padahal, makna kata lebih kuat muncul dalam hubungannya dengan kata lain dalam satuan lingual.

Untuk menentukan makna haji dalam frasa calon haji kita bisa melihatnya berdasarkan polanya. Kita cari beberapa frasa yang diawali oleh kata calon, misalnya calon pacar, calon presiden. Semua kata yang berpasangan dengan kata calon adalah orang, dan arti kata calon itu juga ‘orang’. Dengan demikian, kata haji dalam calon haji berarti ‘gelar’, bukan ‘ibadah’.

Gelar atau sebutan haji merupakan fakta sosial dalam masyarakat kita. Ada yang berpendapat bahwa gelar haji diberikan oleh masyarakat karena naik haji pada masa lalu sangat susah sebab membutuhkan waktu berbulan-bulan naik kapal untuk sampai di Tanah Suci, bahkan ada yang meninggal dalam perjalanan itu, dan tak kembali lagi karena wafat di Tanah Suci. Karena itu, orang yang kembali dari berhaji diberi semacam “gelar penghormatan”: haji.

Pendapat lain mengatakan bahwa gelar haji merupakan stempel yang diberikan Belanda kepada warga Hindia Belanda melalui Ordonansi Haji. Pada waktu itu seseorang dicap sebagai haji dan berhak menggunakan gelar haji serta boleh (wajib?) memakai atribut khusus haji, misalnya jubah, serban putih, kopiah putih, setelah diketahui telah melaksanakan haji di Tanah Suci.

Pemakaian gelar haji tersebut untuk mempermudah Belanda mengidentifikasi setiap orang yang pulang berhaji. Belanda melakukan pengawasan tersebut karena sering terjadi pemberontakan terhadap Belanda setelah ada orang yang pulang naik haji, dan pemberontakan itu melibatkan haji.

Hingga kini gelar tersebut masih ada dan menjadi sebutan dalam keseharian kita, seperti Pak Haji, Bu Haji, Bu Hajah, haji laut, haji udara, bahkan disematkan di depan nama, seperti haji, hajah, kiai haji.

Sebutan haji bahkan sudah melekat pada nama beberapa tokoh, seperti Oemar Said Tjokroaminoto: Hadji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto, dan Abdul Malik Karim Amrullah: Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka).

Karena sudah menjadi fakta sosial dan bahasa adalah kesepakatan, gelar haji tidak perlu kita perdebatkan lagi. Setakat ini ada orang yang menolak haji sebagai gelar karena gelar tersebut warisan Belanda dan hanya ada di Indonesia (padahal gelar haji juga dipakai di Malaysia, Brunei, Singapura, dan Pattani, Thailand).

Ada juga orang yang menolak gelar haji karena berpendapat bahwa tak ada gelar bagi orang yang menunaikan rukun Islam lainnya, seperti salat dan puasa: tak ada Pak Salat, Bu Puasa, Kiai Salat, Kiai Puasa.

Analogi seperti ini tak bisa dipaksakan untuk membantah haji sebagai gelar. Salat dan puasa terbukti tak dianggap sebagai gelar oleh masyarakat Indonesia, dan oleh sebab itu tak menjadi fakta sosial.

Karena itu, gelar haji tak bisa dianalogikan sebagai gelar untuk orang yang melaksanakan salat atau puasa karena tidak ada peristiwa yang memicu munculnya sebutan itu.

Ada pula yang menolak haji sebagai gelar karena menganggap gelar tersebut sebagai pamer kesalehan dan status sosial sehingga dikhawatirkan mengurangi, bahkan menghilangkan keikhlasan beribadah.

Hal ini bukan urusan linguis dan pengamat bahasa karena hal tersebut berada di luar urusan bahasa sebagai fakta sosial. Seseorang boleh tidak setuju dengan haji sebagai gelar. Namun, ia tak boleh memaksa orang berhenti memaknai haji sebagai gelar karena hal itu sudah menjadi fakta sosial.

Soal pamer, apakah Anda mengira para ulama yang memakai gelar kiai haji (K.H.) di depan namanya bermaksud memamerkan kesalehan? Saya tak berani berprasangka begitu. Yang jelas sesuatu dinilai berdasarkan niat.

Ada orang yang sengaja membubuhkan haji di depan namanya sebagai pengingat diri agar tidak berbuat dosa karena ia seorang yang sudah berhaji. Tentu saja perlu dihindari memakai gelar haji untuk melegitimasi status sosial atau kesalehan, apalagi naik haji agar dipanggil haji.

Oleh sebab itu, frasa calon haji yang dipakai oleh media-media massa tidak salah. Frasa tersebut meneguhkan bahwa orang yang telah menunaikan haji disebut haji, terlepas apakah ia masih di Tanah Suci atau sudah di Tanah Air.

Bagaimana apabila ada media yang menulis jemaah haji, bukan jemaah calon haji? Boleh juga. Haji dalam frasa jemaah haji berarti ‘ibadah’. Penyebutan frasa tersebut seperti frasa jemaah salat.

Bagaimana pula dengan media yang menulis jemaah haji dengan menganggap bahwa haji dalam frasa tersebut berarti ‘gelar’, padahal rombongan itu belum berangkat haji?

Sebutan itu juga tidak salah apabila pandangan tersebut berangkat dari pendapat bahwa rangkaian ibadah haji sudah dimulai dari berihram (meniatkan dan melakukan pekerjaan ihram untuk tujuan ibadah haji). Hal ini memang tidak sesuai dengan definisi haji sebagai gelar dalam kamus-kamus bahasa Indonesia.

Kamus Besar Bahasa Indonesia V (Badan Bahasa, 2016) mendefinisikan haji sebagai sebutan untuk orang yang sudah melakukan ziarah ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Kamus Umum Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1952) susunan W.J.S. Poerwadarminta juga mencatat arti haji sebagai orang yang berziarah ke Mekah; sebutan kepada orang yang telah berziarah ke Mekah.

Persoalan lainnya adalah kapan seseorang bisa disebut calon haji? Apakah setelah mendaftar sebagai anggota jemaah haji atau sejak berkeinginan untuk berhaji sebelum mendaftar haji? Dibutuhkan satu tulisan khusus untuk menjelaskan ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR