Jika dan maka yang tak dapat bersatu

Ilustrasi menulis kalimat majemuk bertingkat.
Ilustrasi menulis kalimat majemuk bertingkat. | Pixabay

Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri atas dua bagian: induk kalimat dan anak kalimat. Induk kalimat berisi gagasan utama sedangkan anak kalimat mengandung penjelasan terhadap gagasan utama tersebut. Contoh kalimat majemuk bertingkat: "Saya tidak datang jika hari hujan." Bagian "saya tidak datang" adalah induk kalimat sedangkan "jika hari hujan" adalah anak kalimat.

Induk kalimat dan anak kalimat dihubungkan dengan kata sambung (konjungsi), misalnya "jika" atau "karena". Kata sambung hanya diletakkan sebelum anak kalimat untuk menunjukkan hubungan bagian tersebut dengan induk kalimatnya. Kalau ada dua kata sambung, kedua bagian kalimat menjadi anak kalimat tanpa ada yang menjadi induk kalimat. Tiadanya induk kalimat membuat kalimat kehilangan gagasan.

Hal inilah yang membuat "jika" dan "maka" tidak boleh dipakai sekaligus dalam satu kalimat. Perhatikan contoh berikut:

(1) Hari hujan maka saya tidak datang.
(2) Jika hari hujan, saya tidak datang.
(3) Jika hari hujan, maka saya tidak datang.

Induk kalimat pada kalimat #1 adalah bagian awal, yaitu "hari hujan". Induk kalimat pada kalimat #2 adalah bagian akhir, yaitu "saya tidak datang". Induk kalimat memang bisa diletakkan di awal atau di akhir kalimat. Bila diletakkan di akhir kalimat, tanda koma (,) dipakai untuk memisahkan induk kalimat dan anak kalimat.

Kalimat #3 mengandung dua konjungsi sekaligus sehingga tidak memiliki induk kalimat. Model seperti ini lazim digunakan pada ranah logika atau hukum untuk memperjelas hubungan. Namun, dalam ranah umum, struktur kalimat seperti ini salah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR