PEMBENTUKAN KATA

Judul sebagai kalimat

Ilustrasi: Judul media satu kata,  merupakan kalimat.
Ilustrasi: Judul media satu kata, merupakan kalimat. | Aprillio Akbar/wsj /ANTARA FOTO

A.S. Laksana, sastrawan dan wartawan kenamaan, menulis artikel di Beritagar.id, 30 Januari 2019, sebagai memoar untuk mengenang Ging Ginanjar, wartawan BBC Indonesia sekaligus salah seorang pendiri Aliansi Jurnalis Independen, yang wafat pada 20 Januari 2019. Artikel itu berjudul “Ging”. Judul tersebut merupakan kalimat meski hanya satu kata.

Pada 26 Januari 2019 Beritagar.id memuat artikel Muhammad Iqbal, sejarawan muda yang sedang naik daun, tentang sejarah orang atau kelompok yang disebut preman; tentang sepak terjang mereka sampai menjadi bagian kebudayaan Indonesia hingga kini. Artikel itu berjudul “Babad Preman”. Judul tersebut merupakan kalimat walau hanya satu frasa.

Mengapa satu kata dan satu frasa pada judul disebut kalimat? Kalimat dalam definisi linguistik tidak ditentukan berdasarkan jumlah kata. Satu kata atau satu frasa bisa disebut kalimat apabila sudah menjadi bentuk yang maksimal sebagai ujaran.

Itu merupakan pengertian kalimat menurut Leonard Bloomfield, linguis Amerika Serikat, berdasarkan aksioma X maksimal adalah X yang bukan merupakan bagian dari X yang lebih besar.

Dari aksioma itu ia mendefinisikan kalimat sebagai bentuk maksimal dalam ujaran apa pun. Oleh karena itu, kalimat adalah sebuah bentuk yang, dalam ujaran tersebut, bukan merupakan bagian dari konstruksi yang lebih besar.

Pendapat Bloomfield tersebut diperkuat oleh definisi kalimat menurut Robert Lado, linguis Amerika Serikat: unit terkecil dari ekspresi penuh adalah kalimat, bukan kata.

Kata Ging pada judul artikel A.S. Laksana tersebut sudah maksimal sebagai ujaran karena bukan merupakan bagian dari ujaran lain. Intonasi Ging pada judul itu sudah selesai apabila dilafalkan alias tidak menggantung. Demikian pula dengan frasa Babad Preman pada judul artikel Muhammad Iqbal.

Bandingkanlah dengan Ging pada sebuah kalimat dalam artikel tersebut: Ging tampak sangat bugar setelah berhenti merokok dan kamarnya tidak pernah serapi ini seingat saya. Ging dalam kalimat tersebut tidak dapat disebut kalimat karena merupakan bagian dari konstruksi yang lebih besar: sebuah kata dalam sebuah kalimat.

Jadi, Ging dan Babad Preman dalam kedua judul tersebut memang tergolong sebagai kata dan frasa dalam satuan lingual, tetapi merupakan kalimat secara konseptual.

Judul tulisan, berita, buku, atau apa pun yang terdiri atas satu kata atau satu frasa merupakan kalimat yang tak memiliki klausa. Kalimat tak berklausa ini tidak mempunyai predikat.

Sementara itu, judul yang memiliki predikat adalah kalimat yang berklausa, baik lengkap maupun tak lengkap.

“Demokrasi yang Sehat Butuh Oposisi yang Kuat” (Beritagar.id, 28 Juni 2019) adalah judul yang tergolong kalimat yang berklausa lengkap: demokrasi yang sehat (subjek) butuh (predikat) oposisi yang kuat (objek).

Adapun contoh judul yang termasuk kalimat yang berklausa tak lengkap adalah “Menekan Angka Kecelakaan Kerja” (Beritagar.id, 26 Juni 2019): menekan (predikat) angka kecelakaan kerja (objek).

Definisi kalimat berklausa inilah yang sering dijadikan definisi kalimat secara umum dalam beberapa buku. Misalnya, kalimat adalah satuan gramatika yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat.

Ini adalah definisi kalimat berklausa lengkap; atau, kalimat adalah satuan gramatika yang mengandung predikat. Ini adalah definisi kalimat berklausa tak lengkap. Kalau definisi seperti itu dipakai untuk mendefinisikan kalimat secara umum, kalimat tak berklausa bukanlah kalimat. Padahal, banyak kalimat yang tak berklausa.

Pendapat Linguis Indonesia

Beberapa linguis Indonesia juga berpendapat bahwa judul merupakan kalimat. Berikut ini nama-namanya.

Pertama, M. Ramlan. Dalam buku Sintaksis (1981)—lihat halaman 25 dan 26—ia menyatakan bahwa judul karangan merupakan kalimat karena diakhiri dengan jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik.

Dalam buku itu ia memang mendefinisikan kalimat sebagai satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. Definisi tersebut sesuai dengan definisi kalimat menurut Gorys Keraf dalam buku Tatabahasa Indonesia (1980)—lihat halaman 138 dan 139.

Unsur kata, frasa, ataupun klausa dapat dijadikan kalimat kalau diberi unsur suprasegmental, dalam hal ini intonasi. Dengan kata lain, kata, frasa, ataupun klausa bisa menjadi kalimat jika diberi intonasi. Rumusnya: kata + intonasi > kalimat; frasa + intonasi > kalimat; klausa + intonasi > kalimat.

Berdasarkan unsur fungsi sintaksis Ramlan membagi kalimat menjadi kalimat berklausa dan kalimat tak berklausa. Dari hal itu ia menggolongkan judul menjadi kalimat berklausa dan kalimat tak berklausa.

Seratus Orang Tokoh Islam Akan Menerima Penjelasan adalah judul yang tergolong kalimat berklausa; Tantangan Pembangunan Ekonomi Indonesia adalah judul yang termasuk kalimat tak berklausa, yang berujud satuan frasa.

Kedua, Jos Daniel Parera. Dalam buku Sintaksis (1988)—lihat halaman 28 dan 29—Parera menyatakan bahwa judul buku, puisi, dan artikel biasanya bukan merupakan sebuah kalimat penuh atau klausa.

Oleh sebab itu, ia menggolongkan judul sebagai kalimat minor tak berstruktur, seperti Layar Terkembang (judul novel Sutan Takdir Alisjahbana); Listrik Masuk Desa; Aku (judul puisi Chairil Anwar); Nilai Rapor Siswa SMA.

Parera mengamini definisi kalimat menurut Bloomfield. Namun, ia mengawinkan definisi kalimat tersebut untuk menekankan tanda batas dari sebuah maksimal X dengan menambahkan ciri prosidi kesenyapan final sebagai batas maksimal X: kalimat adalah sebuah bentuk gramatikal yang maksimal yang bukan merupakan bagian dari bentuk gramatikal lain yang lebih besar dan mempunyai ciri kesenyapan final yang menunjukkan bentuk itu berakhir.

Ketiga, Harimurti Kridalaksana. Dalam Kamus Linguistik (edisi keempat, 2009), Harimurti mengategorikan judul sebagai kalimat minor. Menurutnya, kalimat minor adalah kalimat yang dipakai secara terbatas; dapat lengkap, dapat pula tak lengkap, seperti panggilan, salam, judul, moto, pepatah, kalimat telegram, dsb. Definisi ini sama dengan definisi kalimat minor dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V (2016).

Dalam Kamus Linguistik tak ada penjelasan apakah judul termasuk kalimat minor berklausa atau kalimat minor tak berklausa. Namun, kamus ini memuat definisi kalimat minor bukan klausa yang sepertinya mencakup judul yang bukan klausa meski tidak disebutkan di dalamnya: kalimat minor bukan klausa adalah bentuk berupa kata tunggal atau frasa yang tidak mengandung predikat, tetapi mempunyai intonasi final, a.l, salam, panggilan, seruan.

Akan tetapi, dalam buku Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis (1985)—lihat halaman 165 dan 166—Harimurti dan kawan-kawan mengategorikan judul sebagai kalimat minor yang tidak berstruktur klausa, misalnya Las Vegas, Kota Judi, dan Kadarwati.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR