TERKECOH KATA

Judul yang mengecoh pembaca

Logo klub sepak bola Real Madrid
Logo klub sepak bola Real Madrid | Jossué Trejo /Pixabay

Real Madrid memecat Solari sebagai pelatih dan menunjuk Zidane kembali sebagai pelatih. Dari narasi itu, ada media massa dalam jejaring yang menulis judul “Pecat Solari, Zidane Kembali Latih Madrid”. Sayangnya, judul itu keliru karena tidak sesuai dengan fakta dalam isi berita. Hal itu terjadi karena penulisnya gagap memahami kalimat yang anak kalimatnya mendahului induk kalimatnya.

Ada dua klausa pada judul tersebut. Pertama, Zidane memecat Solari. Kedua, Zidane kembali melatih Madrid. Apabila digabung menjadi kalimat “(Setelah) memecat Solari, Zidane kembali melatih Madrid”, (setelah) memecat Solari merupakan anak kalimat karena tidak bisa berdiri sendiri dalam kalimat itu, sedangkan Zidane kembali melatih Madrid merupakan induk kalimat.

Kalimat judul itu betul jika maksud penulisnya adalah Zidane melatih Madrid kembali setelah memecat Solari sebagai pelatih. Begitulah makna yang muncul berdasarkan struktur kalimat judul tersebut.

Akan tetapi, dalam isi beritanya tidak ada informasi bahwa Zidane memecat Solari karena memang maksud yang diinginkan penulisnya tidak seperti itu. Maksud penulisnya adalah bahwa Madrid memecat Solari dan memilih Zidane kembali sebagai pelatih. Agar maksud penulis sesuai dengan isi berita, judul berita itu harus diganti.

Ada beberapa judul yang bisa dibuat dari kalimat “Real Madrid memecat Santiago Solari sebagai pelatih dan menunjuk Zinedine Zidane kembali sebagai pelatih. Berikut ini dua contoh judulnya.

Pertama, “Pecat Solari, Madrid Tunjuk Zidane Kembali sebagai Pelatih”. Dalam judul ini ada klausa Madrid memecat Solari dan Madrid menunjuk Zidane kembali sebagai pelatih. Apabila dua klausa itu digabung menjadi satu kalimat, salah satu subjeknya (Madrid) dilesapkan (dihilangkan).

Kedua, “Solari Dipecat, Zidane Ditunjuk Kembali sebagai Pelatih ". Dalam judul ini terdapat klausa Solari dipecat dan Zidane Ditunjuk Kembali sebagai Pelatih.

Klausa pertama merupakan klausa pasif. Pada klausa pasif, penulisnya boleh hanya menulis penderita/pasien (Solari) tanpa menyebut pelaku/agen yang melaksanakan pekerjaan pada predikatnya (dipecat) dan boleh juga menuliskan pelakunya (Madrid). Jika ditulis lengkap, klausa tersebut adalah Solari dipecat (oleh) Madrid.

Klausa kedua juga merupakana klausa pasif. Pelaku yang tersembunyi pada kata kerja ditunjuk itu juga Madrid. Berdasarkan kalimat judul ini, tak mungkin muncul arti bahwa Zidane memecat Solari karena kata kerja yang digunakan pada kedua klausanya merupakan kata kerja pasif. Artinya, Solari dan Zidane pada kedua klausa itu sama-sama penderita dari kegiatan (dipecat dan ditunjuk) yang dilakukan oleh pelaku.

Kembali pada judul “Pecat Solari, Zidane Kembali Latih Madrid” yang tidak sesuai dengan isi beritanya, judul seperti itu merupakan judul yang mengecoh pembaca meskipun penulisnya tidak bermaksud begitu.

Pembaca memang memahami maksud judul yang tidak cocok antara struktur dan maknanya itu. Namun, pembaca memahaminya dengan “terpaksa”. Idealnya, penulis harus memahami pembaca, bukan sebaliknya: pembaca terpaksa memahami penulis.

Judul “Pecat Solari, Zidane Kembali Latih Madrid” merupakan salah satu judul berita yang tidak sesuai dengan logika dalam beberapa minggu belakangan. Ada beberapa judul berita lainnya yang tidak cocok dengan logika dan mengecoh pembaca. Berikut ini dua contohnya.

Pertama, berita tentang teroris yang menembak jemaah masjid di Selandia Baru. Sejumlah media massa dalam jejaring membuat judul begini: (1) “Puluhan Jamaah Masjid Tewas Ditembak di Selandia Baru”. (2) “40 Jamaah Masjid di Selandia Baru Tewas Ditembak, Pelaku Dinyatakan Teroris”. (3) “Puluhan Jamaah Salat Jumat di Selandia Baru Dibantai”.

Tentu saja maksud ketiga judul tersebut adalah puluhan anggota jemaah, sesuai dengan fakta yang dihadirkan wartawan dalam isi berita. Tidak mungkin maksudnya puluhan jemaah karena jemaah adalah ‘kumpulan orang yang beribadah’ atau ‘orang banyak’.

Kedua, berita tentang sertifikasi halal untuk produk cat yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beberapa media massa dalam jejaring membuat judul begini: (1) “Bahan Baku Cat Berpotensi Mengandung Babi, MUI Keluarkan Sertifikasi Halal”. (2) “Bahan Baku Diduga Mengandung Babi, MUI Sertifikasi Halal Produk Cat”.

Oleh pembaca yang iseng, judul seperti itu dijadikan lelucon: bahan baku cat tersebut pasti sangat besar karena bisa menampung (badan) babi. Padahal, maksud penulis judul itu adalah mengandung unsur babi.

Dengan judul-judul yang tidak logis seperti itu, bagaimana mungkin media-media massa diharapkan untuk mengajari masyarakat membangun logika melalui berita. Mereka saja belum becus mendidik wartawan berpikir logis dalam menulis berita.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR