MAKNA KATA

Kamus bukan ''Kitab Suci''

Ilustrasi kitab suci
Ilustrasi kitab suci | Günter /Pixabay

Badan Bahasa menetapkan lima syarat suatu kata dapat dimasukkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni unik, eufonik (enak didengar), seturut kaidah bahasa Indonesia, tidak berkonotasi negatif, dan kerap dipakai.

Tampaknya, syarat tidak berkonotasi negatif perlu ditinjau ulang karena bahasa tidak hanya berisi kata-kata yang berkonotasi positif.

Dalam artikel berjudul "Bagaimana Sebuah Kata Masuk ke KBBI" di situs badanbahasa.kemdikbud.go.id, Badan Bahasa menjelaskan bahwa kata yang berkonotasi negatif tidak dianjurkan masuk karena kemungkinan tidak berterima di kalangan pengguna tinggi.

Misalnya, beberapa kata yang memiliki makna sama yang belum ada dalam bahasa Indonesia. Dari beberapa kata tersebut, yang akan dipilih untuk masuk ke dalam KBBI adalah kata yang berkonotasi lebih positif.

“Kata lokalisasi dan pelokalan, misalnya, memiliki makna sama. Bentuk terakhir lebih dianjurkan karena memiliki konotasi yang lebih positif.” Demikian Badan Bahasa mencontohkannya.

Lihatlah makna lokalisasi dalam KBBI: 1. Pembatasan pada suatu tempat atau lingkungan 2. Pembatasan sumber-sumber stimulus tertentu. Makna yang pertama merupakan makna umum, sedangkan makna kedua merupakan makna dalam ilmu psikologi.

Dalam makna yang pertama, KBBI mencontohkan kalimat yang menggunakan kata lokalisasi: "lokalisasi wabah kolera". Contoh kalimat ini adalah contoh yang ideologis karena contoh kalimatnya memberikan contoh positif. Sayangnya, contoh itu tidak menggambarkan makna lokalisasi yang sangat hidup dalam masyarakat, yakni merujuk tempat khusus prostitusi.

Jadi, meskipun makna lokalisasi dalam KBBI sudah betul, contoh kalimatnya menjauhkan penutur dari makna yang hidup. Tidak ada salahnya KBBI menambah contoh kalimat penggunaan lokalisasi dengan makna yang berkaitan dengan tempat prostitusi.

Syarat tidak berkonotasi negatif perlu ditinjau ulang, bahkan mesti dibuang? Sebagai alat komunikasi, bahasa juga mengandung kata-kata berkonotasi negatif yang digunakan untuk menyampaikan emosi perlawanan yang agresif, antara lain, untuk mengungkapkan kemarahan, ungkapan untuk menghina, memandang rendah, meremehkan, dan benci.

Karena itu, syarat tidak berkonotasi negatif bertentangan dengan fungsi kamus sebagai pencatat kata yang digunakan masyarakat. Kamus adalah dokumentasi khazanah kata yang dipakai oleh masyarakat penutur sebuah bahasa. Kamus bukan pengarah masyarakat menggunakan suatu kata. Penutur bahasa berhak memilih kata apa saja untuk berkomunikasi.

Anggaplah kamus sebagai pedagang, dan kata-kata adalah pisau. Pisau bisa digunakan untuk memotong bahan makanan, dan untuk membunuh orang. Saat menjual pisau, pedagang tidak pernah—karena memang tidak perlu—menceramahi calon pembeli tentang kegunaan pisau.

Pedagang hanya harus melayani calon pembeli, mengenalkan kekuatan dan kelemahan pisau itu, menginformasikan cara mengasahnya, dan informasi lainnya. Pedagang tidak pernah melarang calon pembeli agar tidak memakai pisau untuk tujuan tertentu karena itu bukan urusannya.

Simpulannya, kamus bukan “kitab suci”, bukan penjaga moral. Kamus tidak punya urusan dengan dosa dan pahala, dan pekamus bukan ulama, pendeta, atau pemuka agama.

Meskipun ada syarat tidak berkonotasi negatif, KBBI menyimpan banyak kata atau frasa berkonotasi negatif, misalnya biang keladi, kutu loncat, ular kepala dua, cuci tangan, buaya dan benalu. Kata-kata tersebut memiliki dua makna dalam KBBI, yakni makna denotasi dan konotasi negatif.

Ada juga frasa yang hanya berkonotasi negatif tanpa bermakna denotasi dalam KBBI, antara lain, adu domba (makna denotasinya ‘mengadu hewan bernama domba’), kambing hitam (makna denotasinya ‘kambing berwarna hitam’), kupu-kupu malam (makna denotasinya ‘hewan bernama kupu-kupu yang beraktivitas pada malam’).

Jika memang syarat kata masuk KBBI tidak boleh berkonotasi negatif, mengapa Badan Bahasa tidak mencabut kata berkonotasi negatif yang telanjur ada dalam KBBI?

Kalau syarat itu dipertahankan, kata-kata berkonotasi negatif maupun makna berkonotasi negatif yang sudah sangat hidup dalam masyarakat tidak punya tempat dalam KBBI, misalnya tikus kantor, yang dikenal luas bermakna ‘koruptor’; buaya darat ‘lelaki tidak setia’, ‘pria hidung belang’.

Kata berkonotasi negatif merupakan salah satu sumber untuk memperkaya bahasa Indonesia, bahkan jika dalam bentuk ungkapan, kata berkonotasi tersebut justru lebih memperhalus katanya.

Karena itu, sayang sekali apabila sumber kekayaan ini diabaikan, apalagi Badan Bahasa memiliki target memasukkan sekian entri setiap kali pemutakhiran KBBI.

BACA JUGA