MAKNA KATA

Kata bahwa dalam Bahasa Indonesia jurnalistik

Ilustrasi:  Berita surat kabar
Ilustrasi: Berita surat kabar | Yusro M. Santoso /Beritagar.id

Dalam berita sering kali kata bahwa dihilangkan dan diganti dengan koma. Misalnya, Presiden mengatakan, Indonesia akan mencapai swasembada pangan.

Dalam kalimat itu klausa (presiden mengatakan) terpisah dengan klausa (Indonesia akan mencapai swasembada pangan). Padahal, kata penghubung dibutuhkan untuk menghubungkan dua klausa/kalimat dalam satu kalimat.

Bagaimana “sejarah” bahwa dihilangkan dalam kalimat bahasa jurnalistik dan seperti apa pemakaian konjungsi tersebut sebenarnya dalam bahasa Indonesia? Tulisan ini akan menjelaskannya.

Pada 1979 Rosihan Anwar menulis buku Bahasa Jurnalistik dan Komposisi (diterbitkan Departemen Penerangan RI). Dalam tulisan itu ia menilai penggunaan bahwa dalam kalimat bahasa Indonesia sebagai pengaruh bahasa asing, seperti dat dalam bahasa Belanda dan that dalam bahasa Inggris.

“Karena pengaruh bahasa asing seperti bahasa Belanda yang memerlukan perkataan dat dalam kalimat majemuk, maka kita berbuat yang sama dalam menyusun kalimat bahasa Indonesia,” katanya dalam buku yang diterbitkan ulang oleh Prandnya Paramita pada 1984 itu.

Rosihan mengakui bahwa sebagai kata sambung yang dipakai untuk menggabungkan induk kalimat dengan anak kalimat pengganti subjek atau objek secara eksplisit. Namun, ia menilai bahwa sebagai kata mubazir.

Baginya, berdasarkan keperluan bahasa jurnalistik yang menghendaki sifat singkat, padat, lancar, kalimat-kalimat pendek, pemakaian bahwa perlu ditinjau kembali.

Untuk mendukung pendapatnya, Rosihan menyertakan pendapat wartawan senior lain tentang kata bahwa, yakni M. Wonohito (pendiri koran Kedaulatan Rakyat) dan Goenawan Mohamad (pendiri majalah Tempo).

Menurut M. Wonohito dalam Lokakarya Pers Se-Indonesia (Yogyakarta, 5 Maret 1972), tanpa bahwa, dua kalimat yang disambung tidak kurang baik, tidak berkurang daya dan gayanya, justru lebih mengesankan, menjadi lebih pendek, enak dibaca, lebih akrab suasananya, lebih chatty (celoteh).

“Rasanya baik bahwa dihemat, dan hanya kita pakai apabila memang amat perlu untuk kejelasan kalimat yang sekali-sekali harus panjang,” ujarnya.

Goenawan Mohamad dalam tulisan “Bahasa Jurnalistik Indonesia” yang dimuat dalam buku Pengetahuan Dasar bagi Wartawan Indonesia (Dewan Pers, 1977) berpendapat bahwa kata bahwa dalam kalimat berikut ini diganti dengan koma: Tidak diragukan lagi bahwa ialah orangnya yang tepat.

Rosihan makin yakin menolak memakai bahwa sebagai konjungsi setelah mendengar pendapat Prof. Dr. Sutomo Tjokronegoro, guru besar patologi Universitas Indonesia.

Berdasarkan cerita Rosihan, Sutomo berpendapat bahwa tata bahasa Melayu Riau yang merupakan landasan bahasa Indonesia tidak mengenal kata bahwa sebagai kata sambung. Oleh karena itu, kata tersebut dapat ditiadakan.

Pendapat Rosihan itu diamini oleh Ras Siregar. Dalam Bahasa Pers – Bahasa Indonesia Jurnalistik (Grafikatama Jaya, 1992), dalam kalimat Saya katakan padanya bahwa saya baru saja tiba dari Padang, Ras berpendapat bahwa bahwa cukup diganti dengan koma demi efisiensi.

Ia lalu mengajukan pertanyaan: berbedakah maknanya dengan membuang bahwa pada kalimat di atas?

Ada dua poin yang perlu dibahas dari pendapat para wartawan senior di atas. Pertama, menghilangkan bahwa dan menggantinya dengan koma demi efisiensi. Kedua, bahwa tak ada dalam tata bahasa Melayu dan penggunaannya dalam bahasa Melayu/Indonesia merupakan pengaruh bahasa asing. Benarkah demikian? Mari kita analisis.

Pertama, berbahasa bukan cuma soal efisiensi, melainkan soal taat asas agar bahasa tersebut mudah dipelajari. Berbahasa dengan efisien, tetapi tidak taat asas mengakibatkan ketidakgramatikalan sebuah bentuk atau konstruksi bahasa sehingga sulit dipelajari/dianalisis.

Pada kasus bahwa, penghilangan konjungsi tersebut membuat kalimat menjadi tidak gramatikal dan tidak bisa diurai secara sintaksis. Kalimat Presiden mengatakan, Indonesia akan mencapai swasembada pangan seharusnya dihubungkan oleh bahwa.

Bahwa berfungsi menyambung induk kalimat (Presiden mengatakan) dengan anak kalimat (Indonesia akan mencapai swasembada pangan). Jika diuraikan, presiden adalah (subjek), mengatakan (predikat), bahwa Indonesia akan mencapai swasembada pangan (objek). Dalam bahasa Indonesia telah umum diketahui bahwa objek yang berupa klausa didahului oleh konjungsi bahwa.

Hal paling naif dari pendapat para wartawan senior di atas adalah mengganti bahwa dengan koma. Koma tidak bisa dipakai untuk memisahkan induk kalimat dengan anak kalimat.

Koma dapat digunakan, salah satunya, untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat, seperti kalimat Jika Jokowi menjadi presiden, Indonesia tidak akan mengimpor beras. Koma tidak bisa dipakai dalam kalimat yang induknya mendahului anaknya: Indonesia tidak akan mengimpor beras jika Jokowi menjadi presiden.

Selain itu, jika bahwa diganti dengan koma, predikat berpisah dengan objek, seperti pada kalimat Presiden mengatakan, Indonesia akan mencapai swasembada pangan. Padahal, predikat (mengatakan) tidak boleh dipisahkan dengan objek (Indonesia akan mencapai swasembada pangan). Di sanalah bahwa berfungsi: menghubungkan predikat dengan objek.

Jika kalimatnya begitu, bahasa dalam berita tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Padahal, Rosihan Anwar dalam bukunya (1979/1984) mengakui bahwa bahasa jurnalistik harus didasarkan pada bahasa baku.

Dengan mengutip pemdapat Anton Moeliono pada Praseminar Politik Bahasa Nasional (Jakarta, 29—31 Oktober 1974), Rosihan menulis alasan begitu pentingnya pemakaian bahasa baku.

Ada empat fungsi yang harus dijalankan bahasa baku: (1) fungsi pemersatu, (2) fungsi penanda kepribadian, (3) fungsi penambah wibawa, (4) fungsi sebagai karangka acuan. Fungsi sebagai kerangka acuan adalah adanya ukuran yang disepakati secara umum tentang tepat atau tidaknya pemakaian bahasa dalam suatu situasi tertentu. Artinya, jika tidak gramatikal, kalimat dalam bahasa jurnalistik tidak bisa menjadi acuan umun.

Dalam bukunya itu, Rosihan juga mengakui bahwa bahasa jurnalistik harus memperhatikan ejaan yang benar. Sementara itu, memfungsikan koma sebagai pengganti bahwa tidak sesuai dengan ejaan yang benar.

Lebih parah lagi, hal itu membuat kalimat bahasa Indonesia tidak bisa dianalisis berdasarkan fungsi sintaksis. Lebih berbahaya lagi jika kalimat itu dicontoh oleh orang lain dalam membuat tulisan dalam ragam ilmiah tulis.

Kedua, kata bahwa sebagai penghubung induk kalimat dengan anak kalimat sudah dipakai dalam bahasa Melayu. Berikut ini beberapa buku tata bahasa Melayu yang menyatakan hal itu.

Buku Bahasa Melayu: Tata Bahasa Selayang Pandang (Balai Pustaka, 1989) sususnan C. Spat—diterjemahkan oleh A. Ikran dari Maleische taal: overzicht van de grammatica (1916). C. Spat menulis “Bahwa juga digunakan pada awal kalimat objek, tetapi hanya bila sesuatu dikatakan dengan pasti, misalnya: Maka hendaklah poela engkau mengetahoei, bahwa senja basa orang Eropa ...

Kitab jang Menjatakan Djalannja Bahasa Melajoe (Balai Pustaka, 1986) susunan Sasrasoegonda Koewatin—kali pertama terbit pada 1910.

Menurut Sasrasoegonda, “Perkataan bahwa dipakai menghoeboengkan kalimat keterangan jang didahului perkataan mendengar, pertjaja, tahoe, berkata, dan lain perkataan jang sebangsa itoe; maka perkataan bahwa jang demikian itoe terkadang diboeang atau diganti akan, hal, mengatakan, mana-mana jang setoedjoe, seperti:”

Bermoela segala ra’iatpoen berkenanlah, bahwa ia naik radja.

Telah koeketahoeilah, bahwa toeanmoe benara itoe tiada melepaskan dikau barang sekehendak hatimoe.

Setelah didengarnja hal toean poetri diterbangkan garoeda maka bagindapoen rebah pingsan.

Maka dilihatnja (bahwa) ada orang perempoean datang.

Maka iapoen tahoelah akan dirinja kena fitnah.

Maka kedengaranlah chabar, mengatakan moesoeh, Siam telah hampir pada negeri Melaka.

Buku Tata Bahasa Melayu (Djambatan, 1983) susunan Charles Adriaan van Ophuijsen —diterjemahkan oleh T.W. Kamil dari Maleische Spraakkunst (1910).

Ophuijsen menulis “Kata bahwa terdapat terutama dalam karangan tertulis dan di sampingnya dipakai juga kata jang.

Dalam bahasa Inggris terjemahannya that, tetapi kata tersebut sering dihilangkan. Koedengar [jang (atau bahwa)] penghoeloe kita telah berangkat, I hear (that) our headman has left. Dipersembahkannja kepada radja (jang) bapanja mendapat perbendaharaan Karoen, he reported to the prince (that) his father had found Korach’s treasury.”

Buku Pedoman Bahasa dan Sastra Melayu (Balai Pustaka, 1984) susunan J.J. de Hollander—diterjemahkan oleh T.W. Kamil dari Handleiding bij de beoefening der Maleische taal en letterkunde (cetakan keenam, 1893).

Menurutnya, kata bahwa bertugas untuk menyatakan kalimat yang berikut sebagai keadaan (kalimat selanjutnya tidak relevan). Di tengah kalimat sempurna, kata bahwa sering untuk mencirikan frase yang berikut sebagai objek bagi predikat yang mendahuluinya.

Misalnya, segala kalakoean perampoewan ini saqsi djoewa padanja bahwa boedaq itoe anaqnja ‘seluruh kelakuan perempuan itu merupakan bukti baginya bahwa bocah itu anaknya’. Akoe menghendaki bahwa njata padakoe ‘aku menghendaki supaya nyata padaku’.

Kata bahwa berasal dari bahasa Sanskerta, bhava, menurut Russell Jones dalam Loan-Words in Indonesian and Malay (Obor, 2008). Kata tersebut dipakai oleh pengguna bahasa Melayu/Indonesia sesuai dengan kebutuhannya hingga bahasa Indonesia modern saat ini.

Bahasa Indonesia sudah dimodernkan oleh para ahli bahasa, yang dikembangkan dari bahasa Melayu. Oleh karena itu, sudah selayaknya kaidah yang dipakai adalah kaidah bahasa Indonesia yang sudah dimodernkan itu, bukan lagi kaidah bahasa Melayu karena kaidah bahasa Melayu sudah tidak relevan lagi, setidaknya memiliki banyak perbedaan kaidah, dengan bahasa Indonesia saat ini.

Mengenai penghilangan bahwa dengan alasan efisien dalam bahasa jurnalistik bisa dipahami dengan cara seperti ini: bahwa dihilangkan, tetapi tidak diganti dengan koma. Misalnya, Presiden mengatakan Indonesia akan mencapai swasembada pangan. Tanpa memakai koma, predikat bersatu dengan objek dalam kalimat.

Sebagai perbandingan, kita bisa melihat media-media berbahasa Inggris. Mereka tidak memisahkan predikat, seperti kata said, dengan objek.

Jadi, cara memahaminya adalah bahwa sebenarnya kalimat itu mengandung bahwa, tetapi dihilangkan demi ekonomi kata: Presiden mengatakan (bahwa) Indonesia akan mencapai swasembada pangan.

Sekali lagi bahwa pengilangan kata bahwa dalam kalimat kita sepakati hanya terdapat dalam bahasa jurnalistik karena alasan praktis dan efisien, serta kalimat standar bahasa Indonesia bukan begitu. Artinya, kalimat itu tidak bisa dipakai dalam ragam ilmiah tulis.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR