TERKECOH KATA

Kelamin Kata

Ilustrasi keberagaman anak
Ilustrasi keberagaman anak | Pavel Ilyukhin /Shutterstock

Perlukah pembedaan jenis kelamin pada kata benda dalam bahasa Indonesia?

Ada kejadian menarik yang saya alami berkaitan dengan masalah ini. Beberapa tahun yang lalu, saya membuat status Facebook tentang berita seorang lelaki memerkosa siswa. Seorang teman lalu bertanya kepada saya, “Apakah si pemerkosa seorang homo?”

Saya lalu menjawab bahwa si pemerkosa bukan pria homoseks. Teman saya itu bertanya lagi, mengapa saya menulis siswa, bukan siswi. Dia menganggap bahwa siswa hanya berarti ‘pelajar laki-laki’. Padahal, arti siswa tidak membedakan jenis kelamin karena kata itu hanya berarti ‘pelajar’. Namun, banyak orang yang menjadikan siswa sebagai hipernim dari siswi.

Meski bukan tafsiran banyak orang, tafsiran seperti yang dilontarkan teman saya itu ada walaupun segelintir. Apakah jumlah orang yang memiliki tafsir demikian banyak? Ini perlu disurvei atau diteliti. Yang jelas, banyak surat resmi dengan salam pembuka saudara/saudari.

Karena kelamin kata ini merupakan masalah yang cukup kontroversial, tiga pengamat bahasa berdebat tentang kelamin kata di dalam majalah Bahasa dan Budaja.

Perdebatan itu diawali oleh H. D. Mangemba dalam tulisannya yang berjudul “Djalan Memperkaja Kata2 Indonesia” (Bahasa dan Budaja Nomor 4 Tahun 1, April 1953). Ia mengusulkan pembedaan jenis kelamin pada kata benda untuk memperkaya bahasa Indonesia, seperti pemuda (mannelijk) dengan pemudi (vrouwelijk).

Pawa awal tulisan itu, Mangemba mengakui bahwa dalam bahasa Indonesia tidak ada pembedaan jenis kelamin seperti itu sebagaimana yang terdapat dalam bahasa Sanskerta, seperti dewa dan dewi, putra dan putri, maharaja dan maharani.

Namun, pada akhirnya, Mangemba menerima pembedaan jenis kelamin pada kata benda itu. Alasannya, kata seperti pemudi dan saudari agak susah menolaknya sehingga boleh dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia dengan penetapan hanya sampai sebegitu saja.

Menurutnya, kalau bahasa Indonesia hendak disamakan dengan bahasa Belanda dalam membedakan jenis kelamin, hal itu mempersulit tata bahasa Indonesia dan banyak kata Indonesia yang harus diubah bentuk dan pengertiannya.

Mangemba mencontohkan, kata baba (mannelijk) ‘Tionghoa peranakan’ tidak mungkin dijadikan babi apabila mau menyatakan jenis kelamin Tionghoa peranakan itu perempuan, dan babu untuk menyatakan onzijdig (banci). Jika hal itu dilakukan, sementara dalam bahasa Indonesia ada kata babi (celeng) dan babu (pembantu), menurut Mangemba, tentu harus dicarikan kata-kata baru yang lain.

Tulisan Mangemba itu dibalas Nugroho Notosusanto dengan tulisan berjudul “Pembentukan Kata-Kata Baru Berdasarkan Djenis Kelamin di Dalam Bahasa Indonesia” (Bahasa dan Budaja Nomor 6 Tahun 1, Agustus 1953).

Ia berpendapat, pembentukan kata-kata berjalan sewajarnya menurut suatu proses sosial yang berhubungan dengan pelbagai faktor sosiologis. Ia mencontohkan, pengarang dan pujangga bila membentuk kata-kata baru tidak memikirkannya di dalam sebuah sistem yang lengkap dan logis secara mutlak.

Terserah kepada masyarakat untuk menerimanya atau tidak. Ia menegaskan, tugas ahli bahasa bukanlah menjadi diktator bahasa yang apodiktis, tetapi mengadakan tata tertib di dalam simpang siur pertumbuhan bahasa itu.

Nugroho menilai bahwa tidak ada keharusan membentuk kata babi dan babu berdasarkan kata baba, seperti pendapat Mangemba. Menurutnya, tak mungkin satu atau beberapa orang menghentikan atau memaksakan pertumbuhan bahasa dengan melanggar proses sosial. Menurutnya, tak akan terlintas dalam pikiran orang untuk membentuk kata-kata, seperti baba-babi-babu.

“Dalam bahasa manapun djuga, tak ada analogi mutlak. Bahasa itu bukan benda exak jang dapat diatur setjara logis dan rasional 100%. Dan tuan Mangemba djangan heran dan menjesal kalau masih terus sadja timbul kata-kata baru, seperti mahasiswi, plontji, seniwati, sastrawati, pahlawati,” tuturnya.

Perdebatan tentang kelamin kata tersebut berlanjut di dalam Bahasa dan Budaja Nomor 6 Tahun II, Agustus 1954. Dalam tulisan berjudul “Penambahan Kata2 Bahasa Indonesia”, Affandi D. A. membalas tulisan Nugroho. Menurutnya, harus dibedakan proses sosial dan faktor sosiologis yang kurang membawa hasil baik dengan yang bakal membawa hasil baik.

Bagi Affandi, zinsnede (frasa) Mangemba tersebut tidak disalahtafsirkan sebagai tindakan yang apodiktik dari seorang diktator/sekelompok ahli bahasa, tetapi harus ditafsirkan sebagai tindakan pedagogis seorang bapak terhadap anaknya yang tidak tahu akibat atau apa yang bakal terjadi karena perbuatannya.

Lima belas tahun lebih setelah perdebatan dalam Bahasa dan Budaja itu, J. S. Badudu menemukan “simpulan” terhadap masalah kelamin kata benda tersebut.

Dalam buku Pelik-Pelik Bahasa Indonesia (Pustaka Prima, 1971), Badudu mengatakan, gejala analogi memegang peranan penting dalam pengembangan dan pembinaan suatu bahasa, terutama bahasa yang sedang tumbuh dan sedang berkembang seperti bahasa Indonesia. Ia melihat banyak bentukan kata baru, susunan kata, atau susunan kalimat yang dibentuk berdasarkan contoh yang sudah ada, yang menurutnya memperkaya bahasa Indonesia.

Namun, karena unsur /-a/ dan /-i/ (maksudnya analogi seperti membentuk kata saudari dari saudara) itu bukanlah asli bahasa Indonesia, analogi dengan unsur itu haruslah dibatasi, sekadar yang memang perlu dan tentu saja kata bentukan yang baru jangan sampai bertumbuk artinya dengan kata yang sudah ada.

“Misalnya, di samping kata bapak tak perlu dibentuk kata bapik sebab untuk ini sudah ada kata lain, yaitu ibu. Di samping kata baba (panggilan kepada seorang Cina pedagang) tak perlu dibentuk kata babi sebab kata ini mempunyai arti lain dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, analogi dalam bahasa tak selalu berlaku mutlak,” kata Badudu.

Karena dalam bahasa Indonesia tidak ada bentuk gramatika, solusi untuk menyatakan/membedakan kata benda berjenis kelamin, menurut Badudu, adalah menambahkan kata laki-laki (pria) atau wanita (perempuan) di belakang kata dimaksud.

Contohnya murid laki-laki, pelayan wanita, pakaian pria, perkumpulan wanita, saudara perempuan, dan kakak laki-laki. Sementara itu, untuk binatang atau tumbuhan dipakai kata jantan atau betina, misalnya kuda jantan, sapi betina, bunga jantan, dan bunga betina.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR