TERKECOH KATA

Ketika kata pindah kelas

Ilustrasi perubahan
Ilustrasi perubahan | Tom /Pixabay

“Bukan memotong padi jang enak rasanja, melainkan memotong padi jang kita tanam sendiri.” Apa kelas kata memotong dalam kalimat yang dibuat Prof. Sutan Muhammad Zain dalam buku Djalan Bahasa Indonesia (Penerbit Grafica Jakarta, 1958) itu?

Pada umumnya, memotong dikategorikan sebagai kata kerja, seperti dalam kalimat, “Ayah memotong kayu.” Namun, kata kerja ini bisa pindah kelas jika posisinya berubah karena kelas kata bisa berubah sesuai dengan posisinya dalam kalimat.

Dengan begitu, memotong pada anak kalimat pertama yang digunakan oleh Zain itu berkelas kata benda, sedangkan memotong pada anak kalimat kedua berupa kata kerja.

Dalam ilmu bahasa, perpindahan kelas kata disebut transposisi. Menurut Harimurti Kridalaksana dalam Kamus Linguistik (Gramedia, 2008), transposisi adalah ‘proses atau hasil perubahan fungsi atau kelas kata tanpa penambahan apa-apa, misalnya membaca (verba) menjadi membaca (nomina).’

Seperti halnya memotong pada anak kalimat pertama dalam kalimat Zain di atas, membaca pada kalimat berikut ini bukanlah kata kerja (verba), melainkan kata benda (nomina): “Membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan.” Simpulan yang dapat diambil dari bahasan ini adalah bahwa satu kata dalam bahasa Indonesia bisa memiliki dua kelas kata karena terjadinya transposisi.

Hasan Alwi dkk. dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) (Balai Pustaka, 2003) mengutarakan bahwa ada kata yang termasuk dalam dua kelas kata. Kata seperti cangkul, gunting, dan jalan dapat berperilaku sebagai verba atau nomina.

Contohnya, 1. (a) Kami perlu cangkul (nomina), (b) Ladang itu belum kami cangkul (verba); 2. (a) Kamu simpan di mana gunting (nomina) itu? (b) Ayo gunting (verba) pita itu.

Oleh sebab itu, kita tidak perlu menambahkan kata kerja di depan salat apabila membuat kalimat dengan kata itu meskipun salat dikategorikan sebagai kata benda dalam kamus. Kita cukup bisa langsung menulis kalimat "Bapak salat Subuh di masjid" karena dalam kalimat itu kata salat telah bertransposisi menjadi kata kerja.

Mengenai transposisi, Prof. Slametmuljana dalam buku Kaidah Bahasa Indonesia I (Penerbit Djambatan, 1959) berpendapat bahwa penggolongan kata tidak ditetapkan oleh ujudnya, tetapi oleh kedudukannya dalam kalimat, misalnya sakit dalam beberapa suasana: 1. ia sakit, 2. orang sakit, 3. rumah sakit, 4. sakit! 5. sakitnya 10 hari, 6. si sakit.

Menurut Slametmuljana, meskipun kalimat terjadi dari rangkaian kata, yang disusun menurut sistem bahasa, patuh kepada tata tertib, kata di dalam bahasa tidak berdiri sendiri, dan tidak sampai kepada kita sebagai substansi lepas.

Kata-kata telah mempunyai tugas tertentu. Kedudukannya ditetapkan oleh tugasnya. Bentuknya bergantung pada kedudukannya dalam kalimat. Demikianlah sebenarnya kata kita kenal dalam hubungan gramatikal, bukan dalam hubungan leksikal.

Selain dari transposisi kata benda menjadi kata kerja, seperti cangkul (nomina) menjadi cangkul (verba), dan transposisi kata kerja menjadi kata benda, seperti memotong (verba) menjadi memotong (nomina), sebuah kata bisa juga bertransposisi dari kata benda menjadi kata sifat (adjektiva).

Sebagai contoh, Minang pada kalimat “Logat bahasanya sangat Minang” merupakan kata sifat. Padahal, lazimnya, Minang(kabau), baik sebagai nama suku bangsa maupun sebagai nama bahasa, berkelas kata benda. Namun, ia menjadi adjektiva karena didahului oleh kata sangat. Salah satu ciri kata sifat adalah bisa didampingi kata sangat, misalnya sangat cantik.

Beberapa kasus yang diuraikan di atas telah menjadi bukti yang cukup bahwa transposisi kata benda menjadi kata sifat nyata adanya dalam bahasa Indonesia meskipun hanya dalam percakapan sehari-hari atau dalam ragam nonformal.

Contoh lain transposisi ini adalah Indonesia banget, misalnya, dalam judul berita “13 Hal yang Indonesia Banget” (IDN Times, 23 Februari 2015). Kata Indonesia yang awalnya berkelas kata benda pindah kelas menjadi kata sifat setelah didampingi kata banget (sinonim kata sangat dalam ragam cakapan).

Ada pandangan menarik dari Harimurti Kridalaksana untuk menutup tulisan ini. Dalam buku Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia (Gramedia, 1990), ia menyimpulkan bahwa kategorisasi gramatikal tidak pernah bersifat hitam putih. Sering dijumpai kasus yang memperlihatkan bahwa batas antara kelas yang satu dan kelas yang lain tidak sejelas yang diharapkan.

Bila ada kasus-kasus peralihan demikian, itu tidak berarti bahwa kategorisasi itu lemah atau kriterianya tidak sahih. Hal-hal semacam itu ditimbulkan oleh sifat kelas-kelas kata itu sendiri. Oleh karena itu, menurut Harimurti, dalam pembahasan tentang kelas kata, tidak boleh dilupakan segi dinamis kelas kata, yaitu perpindahan kelas. Perpindahan dari satu kelas ke kelas lain dimungkinkan oleh adanya pelbagai proses morfologis.

Meskipun demikian, saya pikir tetap ada batasan untuk kata-kata yang bertransposisi. Harimurti, dalam buku yang disebutkan di atas, membatasi makna kata kerja yang bertransposisi menjadi kata sifat, yang bisa didahului oleh sangat, seperti menyenangkan, membenci, menguntungkan, memalukan, bernafsu, berbakti, berminat, bersalah, terpukul, terpesona, terpandang, dan tergantung, dengan makna ‘bersangkutan dengan emosi atau kiasan’.

Padahal, verba ditandai oleh tidak dapatnya perangkat kata itu dalam konstruksi didampingi oleh sangat karena tidak ada bentuk sangat mengerjakan, sangat berlari, atau sangat pergi.

BACA JUGA