RAMBU-RAMBU BAHASA

Logat standar bahasa Indonesia

Alat ukur: Perlukah aksen bahasa Indonesia diatur? Seperti apakah standarnya?
Alat ukur: Perlukah aksen bahasa Indonesia diatur? Seperti apakah standarnya? | Yusro M. Santoso /Beritagar.id

Sejauh ini belum ada aturan tentang logat (aksen) bahasa Indonesia. Pembakuan bahasa Indonesia hanya dilakukan pada ragam bahasa tulisan. Perlukah aksen bahasa Indonesia diatur? Seperti apakah standarnya?

Dalam pembicaraan mengenai logat atau ‘cara mengucapkan rangkaian kata yang mengandung irama dalam suatu ujaran’, hal yang dibahas ialah logat bahasa kelompok etnik (yang kaprah disebut sebagai bahasa daerah).

Seseorang bisa diketahui identitas suku bangsanya bukan hanya dari kosakata yang ia pakai saat berbicara dalam bahasa kelompok etnik (bahasa suku bangsa), melainkan juga dari aksen bahasa tersebut. Pernyataan itu berdasar pada pendapat bahwa bahasa kelompok etnik kental dengan logat yang khas.

Hubungan bahasa suku bangsa dengan logatnya sangat erat. Karena sangat khas, logat bahasa kelompok etnik tidak bisa dilepaskan dari cap bahasa itu. Misalnya, jika seorang Jawa berbahasa Minangkabau dengan aksen bahasa Jawa, logatnya tetap disebut dengan logat bahasa Jawa.

Namun, bahasa tidak sepenuhnya bergantung atau melekat pada logat. Orang Jawa yang berbahasa Minangkabau dengan logat bahasa Jawa tetap disebut berbahasa Minangkabau karena bahasa ditentukan berdasarkan leksikon, bukan dari cara mengucapkan kosakata tersebut.

Walaupun demikian, berbahasa Minangkabau dengan logat Minangkabau tentu punya nilai lebih daripada berbahasa Minangkabau dengan logat dari bahasa kelompok etnik lain. Demikian pula jika seseorang berbahasa Jawa: lebih “afdal” berbahasa Jawa dengan logat yang medok Jawa.

Akan tetapi, hal itu hanya berlaku untuk bahasa suku bangsa karena bahasa kelompok etnik berasal dan dimiliki oleh satu kelompok etnik. Hal itu tidak bisa diberlakukan terhadap bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia bukanlah bahasa suatu suku bangsa (meskipun berasal dari bahasa Melayu) sehingga logat bahasa Indonesia tidak bisa berdasar pada logat suatu suku bangsa.

Tidak ada logat khas yang menempel pada bahasa Indonesia yang menjadi identitas bahasa tersebut pada tataran cara mengucapkan kosakatanya.

Berdasarkan hal itu, ada usul bahwa logat bahasa Indonesia merupakan aksen yang tidak memperlihatkan ciri bahasa kelompok etnik. Logat yang dimaksud tersebut ialah aksen yang digunakan pembawa acara berita maupun program gelar wicara di televisi dan radio.

Pembawa acara berita memakai logat yang demikian karena media massa punya prinsip egaliter dan untuk menghindari munculnya stereotip tertentu oleh pendengar. Apabila pembawa acara berita berbahasa Indonesia dengan logat bahasa kelompok etnik, mungkin saja ada pendengar dari suku bangsa lain yang tidak suka mendengarnya.

Memang ada orang yang bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat yang tidak mencirikan aksen bahasa suku bangsa tertentu. Namun, tidak semua orang bisa begitu. Ada orang yang lidahnya sulit lepas dari logat bahasa kelompok etniknya.

Oleh karena itu, formula logat berbahasa Indonesia yang tidak menunjukkan latar belakang bahasa suku bangsa itu tidak bisa dijadikan aturan, tetapi hanya sebuah anjuran.

Anton M. Moeliono—dalam buku Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif di Dalam Perencanaan Bahasa (Djambatan, 1985)—pernah menyingung hal itu. Ia mempertanyakan bahwa andaikan keinginan akan pembakuan lafal diwujudkan, lafal bahasa suku bangsa mana yang harus dijadikan tolok ukur agar dapat disebut lafal baku bahasa Indonesia?

“Setakat ini, lafal baku itu dirumuskan dalam bentuk negatif; lafal yang tidak menunjukkan ciri-ciri kedaerahan (Abercrombie, 1956, 1967). Rumusan itu mungkin berlaku sepenuhnya jika dengan kedaerahan itu dimaksudkan ciri-ciri lafal bahasa Jawa, Sunda, Bali, Batak Toba, Aceh, Madura, yang dikenali secara luas oleh penutur bahasa.

Apakah lafal bahasa Indonesia yang tidak dicoraki fonetik bahasa Lampung atau Banjar, yang tidak dikenali secara luas, tidak menunjukkan ciri-ciri kedaerahan? Agaknya di sini kita berhadapan dengan masalah yang berhubungan dengan ada tidaknya stigma sosial yang lekat pada lafal tertentu,” kata Anton.

Oleh sebab itu, dalam situasi tidak resmi, misalnya dalam percakapan sehari-hari, biarlah orang-orang berbahasa Indonesia dengan logat bahasa kelompok etniknya masing-masing. Hal tersebut justru bagus dilakukan untuk menunjukkan kebinekatunggalikaan: memakai satu bahasa nasional dengan beragam logat.

Perihal berbahasa Indonesia dengan logat bahasa suku bangsa, J.S. Badudu—dalam tulisan “Pengaruh Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia” dalam buku Penyelidikan Bahasa dan Perkembangan Wawasannya II (Masyarakat Linguistik Indonesia, 1993)—menyarankan orang agar tidak menganggap hal itu sebagai suatu kekurangan, apalagi kesalahan karena pengaruh lafal kedaerahan dianggap sebagai suatu yang wajar-wajar saja.

Ia memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar karena lafal kata-kata bahasa Indonesia dipengaruhi oleh lafal bahasa daerah sehingga dari cara pembicara melafalkan kata-kata, kita dapat menebak dari suku bangsa mana si pembicara itu berasal. Meski begitu, ia mengharapkan bahwa setiap orang Indonesia yang bertutur bahasa Indonesia dapat menghilangkan “warna” lafal atau intonasi daerahnya.

Sementara itu, pada situasi resmi, akan lebih baik jika seseorang tidak memakai logat bahasa suku bangsa dalam berbahasa Indonesia agar tidak menimbulkan stereotip tertentu, antara lain, kasar, lucu, tidak berwibawa, dan berhubungan dengan tabiat tertentu, yang berdampak pada ketikdaksukaan terhadap orang tersebut.

Munculnya stereotip oleh pendengar terhadap pembicara bisa menimbulkan masalah, terutama jika pembicara tersebut merupakan pejabat pemerintah karena dapat menimbulkan ketidakpercayaan terhadap pesan-pesan yang ia sampaikan.

Itulah sebabnya pejabat publik, misalnya, sebaiknya berupaya menetralkan logatnya situasi resmi—meski ini bukan aturan. Namun, jika memang lidahnya tidak bisa diajak bekerja sama untuk menetralkan logat, apa boleh buat, pakai saja logat yang ia kuasai.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR