TERKECOH KATA

Memolisikan ''Menjadikan Polisi''?

Ilustrasi personel kepolisian
Ilustrasi personel kepolisian | Abriawan Abhe /Antara Foto

Kata mempolisikan (memolisikan, sesuai dengan hukum peluluhan k, p, s, t) sering muncul dalam berita kriminal di media massa. Maksudnya adalah "mengadukan kepada polisi" atau "menjadikan berurusan dengan polisi", seperti yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Namun, ada pihak yang menolak makna tersebut karena menurutnya memolisikan berarti "menjadikan polisi". Bagaimana cara memahami kata memolisikan?

Memolisikan merupakan kata hasil kreativitas wartawan, atau diserap wartawan dari lingkungan kepolisian. Kata ini merupakan jalan pintas atau bentuk ringkas dari klausa melaporkan kepada polisi atau melaporkan ke kepolisian.

Biasanya, kata memolisikan dipakai pada judul berita. Wartawan menggunakan kata ini agar tidak banyak ruang yang terpakai karena judul berita memiliki kebatasan ruang, terutama media cetak. Jadi, kata ini sangat “berjasa” bagi wartawan.

Semua media massa yang memakai kata memolisikan menggunakan kata itu dengan arti "melaporkan kepada polisi", setidaknya begitu yang saya perhatikan selama enam tahun lebih menjadi wartawan.

Oleh sebab itu, memaknai memolisikan dengan arti "menjadikan polisi" sangat keliru karena belum ada orang yang mengartikannya begitu. Dalam konteks dan kalimat apa memolisikan berarti "menjadikan polisi"?

Orang yang memaknai memolisikan dengan arti "menjadikan polisi" berangkat dari arti konfiks (kombinasi imbuhan) me- dan –kan yang berarti "membuat jadi" atau "menjadikan sebagai" alias kausatif. Padahal, analogi bentuk dan makna kata tidak bisa dipaksakan.

Dalam Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (Gramedia, 2007), Harimurti Kridalaksana hanya menemukan satu makna me-kan untuk membentuk kata kerja dari kata dasar nomina (kata benda) dengan arti "membuat jadi", misalnya merajakan, dengan contoh kalimat, “Penduduk primitif itu merajakan dokter yang sedang berpraktik di daerah mereka.”

Dalam buku itu, Hartimurti memang mencatat 14 bentuk kata kerja yang dibentuk dengan konfiks me-kan. Dari jumlah itu, ada lima bentuk yang berarti ‘membuat jadi’, tetapi hanya satu bentuk yang dibentuk dari kata benda.

Sementara itu, kata kerja bermakna ‘membuat jadi’ lainnya dibentuk dari kata dasar verba (me- + terbang + -kan = menerbangkan), kata sifat (me- + hitam + -kan = menghitamkan), kata keterangan (me- + lebih + -kan = melebihkan), dan kata bilangan (me- + satu + -kan = menyatukan). Memolisikan tidak termasuk dalam salah satu kasus-kasus tersebut.

Harimurti mungkin lupa memasukkan verba me-kan dengan arti "melaporkan" atau "membuat berurusan dengan" ke dalam bukunya itu. Padahal, ada beberapa contoh kasus seperti memolisikan, misalnya memejahijaukan (membuat berurusan dengan pengadilan) dan mem-PTUN-kan (melaporkan/membuat berurusan dengan PTUN/Pengadilan Tata Usaha Negara).

Oleh karena itu, memaksakan memolisikan memiliki makna "menjadikan polisi" merupakan perbuatan memaksakan analogi makna pembentukan kata kerja dengan konfiks me-kan dari kata dasar verba. Itulah sebabnya arti memolisikan tidak bisa disamakan dengan merajakan, menuhankan, dan mendewakan.

Analogi bahasa tidak bisa dipaksakan dan tidak bersifat mutlak. Data bahasa tidak bersumber dari rumus bahasa yang dibuat oleh pakar bahasa berdasarkan hasil identifikasi, tetapi berasal dari pemakaian bahasa oleh penutur, baik lisan maupun tulisan.

Oleh sebab itu pula, meskipun ada kata memolisikan, tidak harus pula ada kata menjaksakan dengan arti "melaporkan kepada kejaksaan" karena tidak ada penutur yang memakainya. Namun, bila suatu saat nanti banyak orang yang memakai menjaksakan, siapa yang bisa menolak kata itu dan mengapa pula pemakaiannya harus dilarang?

Lagi pula, kita tentu sudah mengetahui bahwa makna sebuah kata tergantung penggunaannya dalam sebuah kalimat, seperti yang dikatakan Ludwig Wittgenstein, filsuf asal Austria. Selama ini, kata memolisikan hanya dipakai dalam kalimat dan konteks pelaporan seseorang ke kepolisian. Belum pernah memolisikan dipakai dalam kalimat dengan arti ‘menjadikan polisi’.

Selain itu, mustahil bagi orang untuk menolak memolisikan karena frekuensi penggunaan kata itu sangat tinggi, terutama di media massa. Karena itu, kata memolisikan telah menjadi data bahasa, yang bisa diteliti oleh pengamat/peneliti bahasa.

Penutur dan pemakai bahasa tidak punya urusan dengan tuduhan aspek aspek morfologi kata memolisikan, yang dianggap bermasalah oleh orang yang menolak kata tersebut. Ketika membuat sebua kata, penutur tidak memikirkan aspek morfologi kata tersebut karena ia memproduksi kata untuk mengucapkan pikiran atau menyampaikan maksudnya.

Demikian juga ketika wartawan membuat kata memolisikan. Tugas ahli bahasalah membuat rumusnya dengan mengumpulkan pola-pola morfologi yang sama. Lagi pula, setelah diteliti, kata memolisikan terbukti benar secara morfologi.

Data bahasa lisan dan tulisan merupakan sumber data/korpus bagi ahli bahasa dalam melakukan penelitian atau pemetaan bahasa/masalah bahasa. Ahli bahasa tidak boleh menyalahkan bentuk-bentuk kata yang pemakaiannya sudah meluas karena bahasa merupakan milik penutur, bukan milik ahli bahasa. Tugas ahli bahasa bukan mengerangkeng bahasa yang digunakan masyarakat.

Karena ahli bahasa saja tidak punya hak melarang pemakaian memolisikan, lucu sekali bila ada orang yang melarang penggunaan kata tersebut dalam media massa. Bahasa yang muncul dan hidup dalam surat kabar kok tidak boleh dipakai di media massa. Aneh!

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR