FILM

Mengapa banyak judul film Indonesia yang berbahasa Inggris?

Ilustrasi: Aktor dan aktris pemeran film After Met You, Ari Irham (kiri) bersama Yoriko Angeline (tengah) dan Naufan Azka (kanan).
Ilustrasi: Aktor dan aktris pemeran film After Met You, Ari Irham (kiri) bersama Yoriko Angeline (tengah) dan Naufan Azka (kanan). | Aprillio Akbar/aww /ANTARA FOTO

Banyak film Indonesia yang menggunakan bahasa Inggris pada judul. Padahal, narasi dan dialog film tersebut berbahasa Indonesia. Mengapa film Indonesia memakai judul bahasa Inggris? Jawaban atas pertanyaan ini berbeda-beda.

Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya perlu menegaskan bahwa jawaban pasti atas pertanyaan itu perlu ditanyakan kepada pembuat film yang memilih judul bahasa Inggris. Jadi, jawaban yang saya berikan ini merupakan pendapat pribadi meskipun bukan pendapat sembarangan.

Pembuat film menjuduli sebuah film dengan bahasa Inggris karena film itu diadaptasi dari novel/buku yang judulnya juga berbahasa Inggris, misalnya Wedding Agreement (2019) dari novel karya Mia Chuz (2018), Eiffel... I’m in Love (2003) dari novel karya Rachmania Arunita (2003), dan Remember When (2014) dari novel karya Winna Efendi (2011).

Menjuduli film sesuai dengan novel merupakan hal lumrah. Banyak sekali film yang dijuduli berdasarkan buku, antara lain, Ayat-Ayat Cinta (2008) dari novel karya Habiburrahman El Shirazy (2004), Laskar Pelangi (2008) dari novel karya Andrea Hirata (2005), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013) dari novel karya Buya Hamka (1939), dan Perahu Kertas (2012) dari novel karya Dewi Lestari (2003).

Sineas menjuduli film adaptasi sesuai dengan judul novelnya untuk menyasar penonton yang mengenal novel tersebut, apalagi novel yang laris dan terkenal. Penggemar novel tertentu tentu penasaran terhadap cerita dan tokoh novel tersebut dalam versi visual.

Jadi, menjuduli film dengan bahasa Inggris untuk menyesuaikan judul film dengan judul buku merupakan pertimbangan pasar. Pertimbangan tersebut masih bisa diterima dan masuk akal. Pertanyaan tentang sikap bahasa bisa dilimpahkan kepada novelis, yang semula tertuju kepada sineas: mengapa novelis menjuduli karyanya dengan bahasa Inggris?

Alasan lain menjuduli film dengan bahasa Inggris ialah judul tersebut merupakan istilah terkenal dalam bidang tertentu yang berkaitan dengan cerita film yang bersangkutan. Misalnya, film Magic Hour (2015), Critical Eleven (2017), dan Ruqyah: The Exorcism (2017).

Magic hour atau golden hour merupakan istilah terkenal dalam dunia fotografi dan sinematografi. Sementara itu, critical eleven merupakan istilah populer dalam dunia penerbangan. Film critical eleven juga diangkat berdasarkan novel berjudul yang sama karya Ika Natassa (2015). Adapun exorcism merupakan istilah yang merujuk ke praktik pengusiran setan.

Film-film yang menggunakan istilah dalam bidang tertentu itu masih punya alasan memakai bahasa Inggris karena sifat universal istilah tersebut. Selain itu, sulit mencari padanan istilah tersebut dalam bahasa Indonesia walaupun hal itu bukan suatu yang mustahil jika diupayakan. Contohnya, kata exorcism bisa diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi eksorsisme.

Kelemahan judul berbahasa Inggris yang merupakan istilah dalam bidang tertentu ialah bahwa judul itu hanya dipahami oleh orang-orang yang bergelut pada bidang tersebut. Istilah magic hour dan critical eleven, misalnya, merupakan istilah yang tidak umum—untuk menyebutnya tidak dikenal—bagi khalayak ramai.

Artinya, judul itu sudah membatasi calon penonton. Judul itu bisa saja tepat apabila penonton yang disasar merupakan penonton yang akrab dengan istilah tersebut. Namun, saya kira pembuat film menginginkan penonton yang lebih luas, khususnya film komersial.

Alasan lain menjuduli film dengan bahasa Inggris ialah mengincar segmen penonton internasional, misalnya film Golden Memories (2018), film dokumenter tentang sejarah sinema keluarga di Indonesia. Meski judulnya bahasa Inggris, film itu memakai bahasa Indonesia dalam bahasa ujar tokohnya dan narasinya.

Narasi dan ujaran tersebut dialihbahasakan menjadi bahasa Inggris dalam takarir (subtitle) agar penonton yang tidak mengerti bahasa Indonesia dapat memahaminya. Film seperti ini memang tidak dibuat untuk tujuan komersial.

Bagaimana dengan film berjudul bahasa Inggris yang tidak diadaptasi dari buku, tidak memakai istilah khusus dalam bidang tertentu, dan dibuat untuk tujuan komersial?

Apa alasan pembuat film-film berikut ini memakai bahasa asing untuk judul? Sexy Killers (2019), Si Doel The Movie (2018), Sweet 20 (2017), My Generation (2017), Warkop DKI Reborn (2016), The Doll (2016), Punk in Love (2009), Preman in Love (2009), Get Married (2007).

Saya tidak menemukan alasan yang logis di balik penggunaan judul berbahasa Inggris pada film yang segmen pasarnya hanya penonton Indonesia. Semoga pembuat film tidak berasalan menjuduli filmnya dengan alasan ikut-ikut tren dan menganggap bahasa asing lebih “menjual” dan bergengsi daripada bahasa Indonesia.

Lagi pula, bagus atau tidak dan laris atau tidak sebuah film tidak ditentukan oleh judul yang berbahasa Inggris. Banyak film bagus dan laris yang judulnya berbahasa Indonesia, misalnya Dua Garis Biru (2019), Ada Apa dengan Cinta? (2002), Pengabdi Setan (2017), Cek Toko Sebelah (2016), Janji Joni (2005), Susah Sinyal (2017).

Jika tidak punya alasan yang logis memakai bahasa Inggris pada judul film, pembuat film sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia. Film dengan judul bahasa Indonesia lebih akrab dan menarik bagi penonton Indonesia jika tujuan membuat film ialah mencari keuntungan finansial dari jumlah penonton.

Selain itu, dengan menjuduli film dengan bahasa Indonesia, pembuat film berperan memartabatkan bahasa Indonesia di ruang publik atau setidaknya tidak ikut memperpanjang barisan orang yang bangga berbahasa asing dalam konteks berbahasa Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR