PEMBENTUKAN KATA

Mengeteh, Mengopi, Menggambir, Mencokelat

Ilustrasi secangkir teh
Ilustrasi secangkir teh | Thought Catalog /Pixabay

Minuman teh, sebagaimana yang diketahui orang pada umumnya, diolah dari Camellia sinensis, tanaman teh. Aktivitas minum teh lazim disebut ngeteh, simulfiks dari mengeteh.

Kata teh juga digunakan untuk menyebut minuman yang diolah dari tumbuhan yang bukan Camellia sinensis, antara lain, teh daun gambir (yang diolah dari daun tanaman Uncaria gambir), teh kulit manggis, dan teh jahe merah. Mengapa minuman yang tidak dibuat dari tanaman teh disebut teh? Apakah bahasa Indonesia/bahasa Melayu kekurangan istilah untuk menyebut minuman semacam itu?

Dengan melihat gejalanya, fenomena yang lebih dekat untuk menamai pembentukan sebutan seperti kasus teh dan minuman semacam teh itu adalah analogi. Dalam membuat contoh pembentukan kata dengan analogi, para ahli bahasa belum mencontohkan kasus yang seperti itu. Akan tetapi, definisi analogi agaknya mencakup kasus tersebut.

Harimurti Kridalaksana, misalnya, dalam Kamus Linguistik (Gramedia, 2008), mendefinisikan analogi sebagai ‘proses atau hasil pembentukan unsur bahasa karena pengaruh pola lain dalam bahasa; misalnya terbentuknya konstruksi neonisasi karena sudah adanya pola yang ada dalam konstruksi mekanisasi, dan sebagainya.’

Sutan Takdir Alisjahbana mendefinisikan analogi dalam Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia II (Pustaka Rakjat, 1963) sebagai "kata-kata baru yang dibuat menurut contoh pembentukan kata-kata yang sudah ada".

Ia mencontohkan beberapa kata yang dibuat berdasarkan analogi, yakni dari contoh kata serbadjadi dibentuk kata serbazat, serbasama, serbaroh; dari contoh kata hartawan dibuat kata wartawan, usahawan, tokowan, bangsawan.

Hasan Alwi dkk. dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (Balai Pustaka, 2003) mendefinisikan analogi sebagai ‘pembentukan kata baru berdasarkan contoh yang sudah ada’. Buku itu mencontohkan kata-kata dalam dunia olahraga yang dibentuk dengan analogi, yakni pegolf, pehoki, dan pecatur yang masing-masing dibentuk berdasarkan pola pegulat, petinju, tanpa memperhitungkan ada tidaknya kata bergolf, berhoki, dan bercatur.

Analogi dalam penamaan minuman teh yang bukan teh itu diperkuat dengan keberterimaan oleh masyarakat pemakai kata itu. Dalam dunia pertehan bahkan terdapat kesepakatan bahwa teh yang tidak dibuat dari daun teh disebut teh herbal, seperti teh jahe, teh bunga lavender, dan teh kuntum mawar. Betapa kuatnya keberterimaan kata yang dibentuk dari analogi dalam kasus ini.

Rupanya, analogi bersandar pada keberterimaan oleh masyarakat pengguna kata, bukan pada struktur. Padahal, dengan menggunakan analogi mengeteh (meminum minuman yang diolah dari daun Camellia sinensis) dan mengopi (meminum minuman yang diolah dari biji kopi), kita bisa membentuk kata mencokelat (minum minuman yang diolah dari biji cokelat, Theobroma cacao).

Namun, selama ini, kata mencokelat tidak ada. Karena itu, kita tidak bisa membuat kata menggambir untuk menyebut aktivitas meminum minuman yang diolah dari daun gambir.

Sementara masih bingung dengan analogi teh dan minuman semacam teh, saya makin bingung setelah melihat definisi wedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V (Badan Bahasa, 2016): ‘minuman dari bahan gula dan kopi (teh, jahe, dan sebagainya) yang biasanya diseduh dengan air panas, biasanya dapat menghangatkan tubuh’. Kata wedang dilabeli dengan Jw, artinya kata yang diserap dari bahasa Jawa.

Kalau Anda mau tambah bingung, lihatlah definisi wedang teh cengkih dalam KBBI: wedang yang terbuat dari degan, jagung manis rebus, dicampur dengan rebusan jahe, gula aren, cengkih, dan santan.

Di mana akan kita letakkan pola pembentukan kata dengan analogi dalam kasus penyebutan teh, teh herbal, wedang, dan wedang teh cengkih itu dan bagaimana membedakan definisinya? Begitu mudah menyebut sesuatu, betapa sulit menganalisisnya. Saya tidak mau ikut pusing memikirkannya. Mari ngeteh!

BACA JUGA