TERKECOH KATA

Menolak Hari Valentine, Mencopot Bukalapak

Ilustrasi simbol hati sebagai simbol kasih sayang dalam Hari Valentine
Ilustrasi simbol hati sebagai simbol kasih sayang dalam Hari Valentine | Ben Kerckx /Pixabay

Ada dua topik menarik yang dibahas oleh warganet dan media massa di dalam pekan ini, yakni Hari Valentine dan cuitan pemilik Bukalapak. Pada kedua topik itu, ada kegiatan berbahasa yang bisa dicermati, yakni pemakaian bahasa asing.

Pada topik Hari Valentine, sejumlah media massa memakai frasa Valentine Day ketika memberitakan pelarangan terhadap perayaan hari kasih sayang itu. Lihatlah judul berita beberapa surat kabar dalam jejaring (daring) berikut ini.

  • Pemkot Bandung Larang Valentine Day, DPRD: Terlalu Lebay! (Detik.com, 14 Februari 2019)
  • Tolak Valentine Day, Ratusan Mahasiswa di Bogor Gelar Aksi (Ayobandung.com, 13 Februari 2019)
  • Pelajar di Bintan Dilarang Rayakan Valentine Day, Ini Alasannya (TribunBatam.id, 14 Februari 2019)
  • Ramai-Ramai Melarang Perayaan Valentine Day (Republika.co.id, 14 Febuari 2019)

Pembaca yang memiliki pengetahuan yang bagus tentang bahasa Inggris mungkin tergelak membaca Valentine Day karena frasa itu seharusnya ditulis Valentine’s Day. Dalam bahasa Inggris, apostrof (‘) dengan tambahan fonem /s/ digunakan untuk membentuk kata benda kepemilikan (possessive noun), seperti Adib’s book.

Kita bisa melihat penulisan frasa Valentine’s Day di sejumlah media massa berbahasa Inggris berikut ini.

  • 9 Last-Minute Valentine’s Day Ideas (Nytimes.com, 11 Februari 2019)
  • Be mine, love bug? For Valentine's Day, name a cockroach after your ex (Theguardian.com, 14 Februari 2019)
  • Valentine's Day Fast Facts (CNN.com, 12 Februari 2019)

Daripada genit menggunakan bahasa Inggris dan ternyata salah pula penulisannya sehingga membuat malu, kita lebih baik memakai bahasa Indonesia saja: Hari Valentine.

Sementara itu, pada topik Bukalapak, kata paling populer adalah uninstall. Kata ini awalnya muncul di media sosial, seperti Facebook dan Twitter, dari para pendukung Jokowi sebagai reaksi ketidaksukaan mereka atas kicauan Achmad Zaky.

Pada 14 Februari malam, bos Bukalapak itu menulis frasa presiden baru pada akhir cuitannya saat berkicau tentang perbandingan dana riset dan pengembangan yang bersumber dari APBN di beberapa negara. Ia dianggap tidak tahu terima kasih karena Jokowi memberikan banyak perhatian terhadap Bukalapak.

Karena itu, pendukung Jokowi membuat tagar #uninstallbukalapak sebagai ajakan untuk mencopot aplikasi toko daring itu dari ponsel. Media massa pun beramai-ramai memberitakan hal tersebut. Sayangnya, beberapa media tetap menggunakan kata uninstall, seperti judul berita berikut ini.

  • Gaduh Ajakan Uninstall BukaLapak karena Cuitan Sang CEO. Netizen, Cepatlah Berakhir Pilpres (Wartakotalive.com, 15 Februari 2019)
  • Uninstal Bukalapak, Achmad Zaky Klarifikasi tentang Presiden Baru (Tempo.co, 15 Februari 2019)
  • Uninstall Bukalapak: Wajah Brutal Masyarakat dan Politikus (Tirto.id, 15 Februari 2019)
  • Nyuruh Orang-Orang Uninstall Bukalapak Itu biar Apa, Sih? (Mojok.co, 15 Februari 2019)

Masyarakat Indonesia menggunakan kata instal dan uninstall pada kegiatan yang berhubungan dengan teknologi informasi. Saya mendengar penggunaan kata instal kali pertama saat kata itu disandingkan dengan kata komputer: instal komputer. Menginstal komputer berarti menginstal (memasang) perangkat lunak (software) yang berisi program ke komputer.

Setelah ponsel pintar hadir, kata instal lazim digunakan menyebut kegiatan memasukkan aplikasi ke ponsel. Demikian juga kata uninstall, yang dipakai untuk mencopot/mencabut/membongkar aplikasi yang dipasang di ponsel.

Kata instal sudah lama diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan menghilangkan satu huruf l. Kata itu bersinonim dengan pasang. Sejumlah ponsel pintar pun sudah memakai kata pasang terkait dengan aplikasi.

Situs-situs tentang teknologi informasi pun sudah memakai kata pasang selain instal. Situs resmi WhatsApp versi bahasa Indonesia, Whatsapp.com, pun sudah menggunakan kata memasang untuk menginstal, memasang ulang untuk menginstal ulang, dan copot pemasangan untuk uninstall.

Tak seperti instal, kata uninstall tak diserap ke dalam bahasa Indonesia karena selama ini belum ada kata dalam bahasa ini yang berpasangan dengan un-. Proleksem ini tidak diserap ke dalam bahasa Indonesia mungkin karena tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia: yang ditulis sesuai dengan yang dibaca.

Sementara itu, un- dibaca /an/ dalam bahasa Inggris. Karena itu, uninstall sebaiknya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau dicarikan padanannya.

Sejauh ini, uninstall dipadankan dengan copot pemasangan. Terjemahan itu tidak cocok karena pemasangan artinya ‘proses, cara, perbuatan memasang’, padahal uninstall membutuhkan terjemahan dari aktivitas mencabut sesuatu yang telah dipasang.

Terjemahan yang tepat dari uninstall adalah copot/cabut/bongkar pasangan. Pasangan dalam konteks ini artinya ‘hasil dari kegiatan memasang’ atau ‘sesuatu yang terpasang (telah dipasang)’.

Uninstall Bukalapak cukup dipadankan dengan copot Bukalapak atau cabut Bukalapak atau bongkar Bukalapak. Tidak perlu ditulis copot pasangan Bukalapak karena Bukalapak yang dicopot ini adalah aplikasi di ponsel.

Sayangnya, media massa kita hanya memakai Uninstall Bukalapak tanpa menerjemahkan atau memadankan frasa itu.

Kalau media massa saja tidak berupaya menggunakan atau mencari padanan kata asing, padahal media massa seharusnya menjadi panggung untuk memuliakan bahasa Indonesia, bagaimana mungkin kita berharap kepada warganet untuk memuliakan bahasa Indonesia di media sosial, tempat bahasa digunakan dengan liar dan bebas tanpa aturan.

Jadi, merayakan Hari Valentine bukanlah budaya kita. Budaya kita adalah gemar memakai kata asing dalam situasi berbahasa Indonesia dan malas mencari padanannya dalam bahasa sendiri. Selain itu, budaya kita adalah memprotes orang yang mengkritik perilaku kita yang gemar menyelipkan kata asing saat berbicara atau menulis, padahal kata asing itu ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR