TERKECOH KATA

Orang Tua dan Orangtua

Ilustrasi orang tua
Ilustrasi orang tua | Hitesh Choudhary /Pixabay

Dalam bahasa Indonesia, kata orang tua memiliki dua arti, yakni ‘ayah dan ibu’; ‘orang yang berusia tua’, dan ‘orang yang dianggap tua/dihormati’. Namun, ada orang yang membedakan penulisannya, yakni orangtua dengan arti ‘ayah dan ibu’, dan orang tua sebagai ‘orang yang berusia tua’. Benarkah demikian?

Pada mulanya, pendapat yang menyatakan bahwa penulisan orang tua digabung hanya pendapat liar dan tanpa dasar, dan tanpa rujukan. Entah bagaimana ceritanya, pendapat ini masuk ke ranah jurnalistik. Banyak media yang mengamini pendapat tersebut.

Orang tua adalah kata majemuk yang tergolong nomina majemuk. Kata majemuk dalam bahasa Indonesia ditulis terpisah kecuali bentuk-bentuk terikat, misalnya pascapanen, antarkota, dan prasejarah; dan kata yang sudah dianggap padu ditulis serangkai, seperti matahari, saputangan, dan kacamata. Kata orang tua tidak termasuk dalam kedua kelompok itu.

Orang-orang yang menulis orangtua melakukan hal itu untuk menghindari ambiguitas atau ketaksaan arti orang tua dalam kalimat, misalnya pada kalimat "Rani tinggal bersama orang tua". Alasan ini lemah. Berikut saya jelaskan beberapa alasannya.

Pertama, jika maksud orang tua dalam kalimat itu adalah ‘ayah dan ibu’, pembuat kalimat tersebut cukup menambah kata nya setelah kata tua, "Rani tinggal bersama orang tuanya". Kalimat ini tidak mungkin bermakna ‘Rani tinggal bersama orang yang sudah tua yang bukan orang tuanya’.

Kedua, jika maksud orang tua dalam kalimat itu adalah ‘orang yang sudah tua’, penulis kalimat itu bisa menambahnya dengan kata penunjuk jumlah, seperti seorang atau dua orang sebelum kata orang tua, misalnya "Rani tinggal bersama seorang tua". Dengan demikian, kalimat itu tidak ambigu.

Ketiga, jika penulis bersikeras ingin membuat kalimat "Rani tinggal bersama orang tua" dengan maksud ‘Rani tinggal dengan ayah dan ibunya’, kita bisa melihat maksud penulis pada kalimat sebelumnya atau kalimat sesudahnya.

Bahasa sebagai sarana komunikasi tidak mungkin berdiri hanya dalam satu kalimat seperti itu jika penerima pesan belum bisa menangkap pesan dengan jelas. Tidak ada orang yang tiba-tiba bilang bahwa ia tinggal bersama orang tua, lalu pergi begitu saja tanpa menjelaskan apa-apa. Dalam percakapan, penerima pesan bisa bertanya apabila belum mengerti dengan kalimat yang disampaikan oleh pengirim pesan.

Perlu diingat, tadi kita bicara mengenai penulisan orang tua yang digabung atau dipisah. Artinya, hal ini hanya terjadi pada tulisan. Dalam paragraf, ada kalimat utama dan kalimat penjelas sehingga kita bisa menangkap maksud sebuah tulisan. Kalimat “Rani tinggal bersama orang tua” belum memenuhi unsur paragraf.

Pembaca bisa mengetahui dengan tepat definisi kata orang tua pada kalimat itu jika ada kalimat penjelasnya. Misalnya, Rani tinggal bersama orang tua (kalimat utama). Meski telah menikah, ia tetap tinggal bersama orang tuanya yang sudah sakit-sakitan (kalimat penjelas). Ia ingin berbakti kepada ibu dan ayahnya dengan merawat kedua orang tua tersebut (kalimat penjelas).

Dengan demikian, pembaca bisa mengetahui konteks linguistis kata orang tua pada kalimat “Rani tinggal bersama orang tua”. Definisi sebuah kata bisa dilihat berdasarkan konteks linguistisnya.

Keempat, kelemahan penulisan orangtua terlihat apabila kata tersebut dijadikan kata ulang. Apabila ditulis sebagai kata ulang, orang tua menjadi orang-orang tua, seperti pada frasa orang-orang tua siswa. Jika ditulis orangtua, bagaimana cara membuat kata ulangnya? Orangtua-orangtua? Dalam frasa, apakah ia akan menjadi orangtua-orangtua siswa? Aneh bukan?

Rumus paling mudah untuk mengetahui penulisan orang tua adalah mengingat bahwa semua kata majemuk yang diawali dengan kata orang ditulis terpisah, termasuk orang utan, seperti yang tertera dalam KBBI. Sebagian media massa di Indonesia menggabungkan penulisan orang utan menjadi orangutan karena terpengaruh penulisan orang utan dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, orang utan ditulis orangutan.

Polisemi

Dalam bahasa Indonesia, kata seperti orang tua yang memiliki dua arti disebut polisemi, yakni bentuk bahasa (kata, frasa, dan sebagainya) yang bermakna lebih dari satu (KBBI V), yang maknanya terkait. Kata lain yang tergolong polisemi, antara lain, kursi yang berarti ‘tempat duduk’, dan ‘kedudukan’, ‘jabatan’; tangan yang berarti ‘anggota badan dari siku sampai ujung jari’, dan ‘kekuasaan’, ‘pengaruh’.

Polisemi berbeda dengan homonim. Menurut KBBI V, homonim adalah ‘kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yang berlainan (seperti hak pada hak asasi manusia dan hak pada hak sepatu’. Contoh lain kata homonim, misalnya, bisa yang berarti ‘mampu’, dan bisa yang berarti ‘racun’; tahu yang berarti ‘mengerti’, tahu yang berarti ‘makanan dari kedelai putih’.

Cara membedakan penggunaan kata berpolisemi dan berhomonim agar tidak menimbulkan ambiguitas adalah melihat konteks linguistis pada kalimat atau paragraf tempat kata tersebut digunakan.

BACA JUGA