PEMBENTUKAN KATA

Pada mulanya adalah Leksem

Ilustrasi unsur pembentukan elemen baru
Ilustrasi unsur pembentukan elemen baru | Senjin Pojskić /Pixabay

Kata merupakan istilah teknis dalam linguistik di samping istilah biasa secara umum. Dalam linguistik, ada banyak istilah yang berkaitan dengan kata, yakni leksem, kata, morfem bebas, entri, dan lema.

Dalam ilmu bahasa, kata (berasal dari bahasa Sanskreta, khata, yang berarti ‘percakapan, komunikasi’; khata berasal dari kath ‘berkata-kata, bercakap-cakap’) tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses morfologi.

Leksem merupakan bahan dasar pembentuk kata. Untuk menjadi kata dalam satuan gramatikal, leksem diolah melalui proses morfologi. Misalnya, leksem bicara. Setelah melalui proses morfologi yang disebut dengan afiksasi, leksem bicara menjadi kata berbicara jika diberi awalan ber-.

Setelah melalaui proses afiksasi, leksem tidak hanya memiliki arti leksikal, tetapi juga mempunyai makna gramatikal, yang maknanya bisa bertambah dari makna semula. Secara gramatikal, kata bisa memiliki banyak makna, yang berbeda dengan makna awal, apabila dihubungkan dengan kata lain dalam suatu hubungan sintaksis.

Sebuah kata pun bisa memiliki makna yang berbeda dalam sebuah kalimat. Misalnya, kata mengonsumsi pada kalimat Ibu mengonsumsi nasi setiap hari berarti ‘memakan’, sedangkan dalam kalimat Ayah mengonsumsi berita dari koran setiap pagi berarti ‘membaca’.

Sementara itu, jika diolah melalui proses morfologi bernama derivasi zero, leksem bicara tidak berubah bentuk ketika menjadi kata. Jadi, bicara merupakan kata, yang dalam satuan leksikal disebut leksem, juga merupakan kata dalam satuan gramatikal setelah diolah melalui proses morfologi. Meskipun telah menjadi kata dalam satuan gramatikal, kata yang diolah melalui derivasi zero tidak memiliki arti yang berubah dari makna awalnya.

Dalam satuan morfologi, kata berbentuk morfem bebas. Morfem bebas merupakan salah satu bagian dari morfologi, sedangkan bagian lainnya disebut morfem terikat (imbuhan). Jadi, dalam morfologi, kata berbicara diurai menjadi ber- sebagai morfem terikat, dan bicara sebagai morfem bebas.

Morfem bebas dibedakan pula menjadi morfem dasar terikat dan morfem dasar tidak terikat. Misalnya, kata swadaya dibentuk dari dua morfem bebas, yakni swa- (morfem dasar terikat) dan daya (morfem dasar tidak terikat). Kata swa- memiliki makna leksikal, yakni ‘sendiri’. Inilah yang membedakannya dengan afiks (imbuhan).

Meskipun begitu, kata swa- tidak bisa ditulis sendiri atau harus digabungkan dengan kata lain. Karena itu, morfem dasar terikat lazim disebut dengan bentuk terikat. Jadi, meskipun sama-sama tidak bisa ditulis sendiri, morfem dasar terikat tidak sama dengan imbuhan karena morfem dasar terikat memiliki arti leksikal, sedangkan imbuhan tidak mempunyai arti leksikal.

Sekilas, istilah morfem bebas dan leksem terlihat sama karena sama-sama bisa disebut sebagai kata, padahal keduanya berbeda. Istilah morfem bebas dipakai dalam tataran leksikal, sedangkan istilah leksem digunakan pada pembahasan morfologi.

Sementara itu, dalam bidang leksikografi, ada kata entri dan lema. Dalam bidang ini, kata tidak dibagi ke dalam satuan terbesar maupun terkecil. Adapun dalam satuan gramatikal, kata merupakan satuan terbesar dalam subsistem morfologi (morfem dan kata), dan merupakan satuan terkecil dalam subsistem sintaksis (frasa, klausa, kalimat, dan wacana). Dalam subsistem sintaksis, kata digunakan untuk membentuk frasa dan klausa.

Istilah entri dan lema digunakan dalam bidang perkamusan. Entri terdiri atas lema, definisi lema, kelas kata lema, lafal lema, contoh pemakaian lema dalam kalimat, dan penjelasan lainnya yang berhubungan dengan lema tersebut.

Lema dalam entri bisa berupa kata dasar, kata turunan, kata ulang, kata majemuk, frasa, ungkapan, kiasan, peribahasa, singkatan, atau akronim yang dianggap kata. Bedanya, istilah lema digunakan untuk menamakan sebutan yang tidak diberi arti dalam kamus, sedangkan istilah entri untuk menamakan sebutan yang diberi arti dalam kamus.

Dalam lema terdapat sublema. Sebenarnya, yang disebut lema hanyalah kata dasar, yang merupakan kepala kata untuk membentuk bermacam-macam kata turunan. Sementara itu, sublema merupakan kata turunan dan sebagainya di dalam entri.

Unsur-unsur dalam sublema sama dengan unsur-unsur dalam subentri. Bedanya, unsur dalam sublema tidak diberi penjelasan, sedangkan unsur dalam subentri diberi penjelasan.

Jadi, istilah-istilah yang berkaitan dengan kata, yakni leksem, kata, morfem bebas, entri, dan lema, tidak dapat dipertukarkan meski sekilas memiliki arti yang sama. Istilah-istilah tersebut harus digunakan secara tepat dalam bidangnya masing-masing.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR