PEMBENTUKAN KATA

Panti Rapih

Ilustrasi kerapian
Ilustrasi kerapian | Mike /Pixabay

Kadang masih saja kita jumpai orang menulis kata yang ujung belakangnya diimbuhi huruf /h/ yang tak perlu. Rapih, misalnya. Padahal, bahasa Indonesia hanya mengenal rapi, tidak kata rapih. Jadi, kenapa ada orang yang cenderung menambahkan huruf /h/ di ujung kata ini?

Kenapa pula penambahan itu ada kalanya dipersoalkan sampai jauh--apalagi oleh satu dua polisi bahasa yang ceriwis, malah kadang sampai seakan-akan setara dengan haram dalam hukum agama?

Rapih segera mengingatkan saya pada nama salah satu rumah sakit swasta terbesar dan tertua di Yogyakarta, Panti Rapih. Tapi, terlalu gegabah bila menyimpulkan, bagian dari nama itulah yang menyebabkan sebagian penutur bahasa Indonesia memakai rapih, bukan rapi.

Dekat gambar lambangnya, yang dirancang oleh Y. B. Mangunwijaya, di situs resmi rumah sakit itu (http://www.pantirapih.or.id/) dijelaskan bahwa Panti Rapih berarti tempat atau rumah yang baik. Rapih adalah baik.

Dalam bahasa Indonesia ada juga pengertian begitu dalam rapi. Lebih spesifik, kata ini mengandung arti kemas, majelis, necis, tertib, terarah. Dalam konteks kinerja, rapi dipakai dalam arti beres dan sesuai dengan harapan.

Setidaknya, bila membaca habis profil rumah sakit Panti Rapih, tahulah kita bahwa penyelenggaraan jasa pelayanan kesehatan untuk khalayak oleh mereka diarahkan demi merangkum semua nuansa makna kata rapi itu.

Artinya, kata rapi dan rapih betul-betul identik. Bentuk rapih, sekalipun belum pernah dibaiat masuk menjadi bagian dari khazanah kata bahasa Indonesia, tidak jadi masalah benar bila dipakai, katakanlah sebagai varian dari rapi.

Daripada gegabah menyimpulkan bahwa dia bermula dari nama diri Panti Rapih, dengan lebih sedikit berhati-hati bolehlah kita menduga bahwa penambahan huruf /h/ di sana adalah pengaruh lingkungan bahasa Jawa.

Tidak jadi masalah benar. Sebab, dalam sejarah bahasa apa, di mana, dan kapan pun, mesti ada dua bentuk kata atau lebih yang bertarung memperebutkan status "terhormat" sebagai bentuk baku. Pada suatu saat nanti, setelah melewati satu kurun tertentu, pastilah ada bentuk yang kalah, tersisih, dilupakan orang, mati.

Maka tak perlu rasanya kita memperlakukan secara berlebihan kata yang dianggap tak baku tapi hidup dan terpakai. Rapih dalam praktik berkomunikasi melalui bahasa boleh kalah, tak lagi terpakai dan tergolek dalam salah satu laci ingatan kita.

Tapi sebagai nama diri sebuah rumah sakit besar di Yogyakarta, biarlah dia menampang di dinding muka gedung itu sebagai saksi sejarah.

BACA JUGA