LAFAL KATA

Pelafalan singkatan

Ilustrasi penyingkatan
Ilustrasi penyingkatan | fxxu /Pixabay

Di Indonesia, inisial mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dilafalkan /es-be-ye/. Pelafalan tersebut sesuai dengan pelafalan huruf dalam bahasa Indonesia. Namun, mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, melafalkan inisial Presiden Indonesia ke-6 itu dengan /es-bi-wai/, sesuai dengan pelafalan huruf dalam bahasa Inggris.

“Esbiwai (lafal SBY dalam bahasa Inggris), dia memanggil Esbiwai. Obama itu memang anak Menteng Dalam," kata SBY, dalam berita berjudul “Esbiwai, Cara Obama Sapa Presiden SBY” (Tempo.co, 15 Januari 2014). Obama melontarkan sapaan tersebut dalam pertemuan East Asia Summit pada November 2011 di Indonesia. Ketika itu, SBY dan Obama berbincang santai pada sebuah jamuan makan siang bersama pemimpin negara lain.

Di Indonesia, inisial dan singkatan bahasa asing biasanya dilafalkan dengan tiga cara: pertama, dengan lafal bahasa Indonesia, seperti /ha-pe/, singkatan handphone (HP); kedua, dengan lafal bahasa sumber singkatan tersebut, misalnya /em-si/, singkatan master of ceremony (MC); ketiga, dengan lafal campur aduk, contohnya /i-el-si/, singkatan Indonesia Lawyers Club (ILC), nama sebuah program acara TV One.

Kalau mengikuti cara yang pertama, kita seharusnya melafalkan AC, singkatan air conditioner, dengan /a-ce/. Namun, mayoritas orang Indonesia melafalkan AC dengan /a-se/. Pelafalan /a-se/ bukan pelafalan huruf dalam bahasa Inggris karena huruf /C/ dibaca /si/ dalam bahasa itu. Pelafalan /a-se/ merupakan pelafalan singkatan dalam bahasa Belanda karena huruf /C/ dibaca /se/ dalam bahasa negara bekas penjajah Indonesia itu.

Sementara itu, jika mengikuti cara yang kedua, kita seharusnya melafalkan WHO, singkatan World Health Organization, dengan /dabelyu-eich-ou/. Akan tetapi, semua orang Indonesia melafalkan WHO dengan /we-ha-o/, sesuai dengan lafal bahasa Indonesia.

Adapun, cara yang ketiga merupakan cara yang tidak perlu dibahas karena pelafalan ini tidak ideal atau tidak bisa dijadikan rujukan.

Bagaimana seharusnya inisial dan singkatan bahasa asing dilafalkan? J. S. Badudu pernah menjelaskan soal ini pada tulisan “Lafal Kata-Kata Singkatan” dalam buku Membina Bahasa Indonesia Baku Seri I (Pustaka Prima Bandung, 1981). Tulisan itu diterbitkan ulang dengan versi yang telah dipadatkan pada tulisan “Bagaimana Kata Singkatan Dilafalkan” dalam buku Inilah Bahasa Indonesia yang Benar (Gramedia, 1983).

Menurut Yus Badudu, pelafalan singkatan asing sesuai dengan pelafalan huruf dalam bahasa Indonesia. Karena itu, menurutnya, singkatan air conditioner, AC, seharusnya dilafalkan /a-ce/. Mengenai /a-se/, baginya, pelafalan seperti itu merupakan pelafalan ala Belanda karena huruf /C/ dalam bahasa Belanda dilafalkan /se/.

Guru Besar Linguistik Universitas Padjajaran itu mengutarakan, banyak orang yang tidak atau belum dapat menerima pelafalan kata-kata singkatan yang berasal dari bahasa asing dengan cara Indonesia. Misalnya, ada orang yang tidak setuju singkatan BBC dari bahasa Inggris, British Broadcasting Corporation, dilafalkan /be-be-ce/.

“Mereka menginginkan agar kata singkatan itu dilafalkan/dibaca sebagaimana orang Inggris melafalkannya /bibisi/,” ujar munsyi yang berasal dari Gorontalo itu.

Menurut Yus Badudu, anggapan itu tidak benar. Ia berpendapat, tiap bahasa di dunia ini melafalkan singkatan sesuai dengan nama-nama huruf di dalam abjad bahasa itu. Ia mencontohkan, orang Inggris melafalkan BBC dengan /bi-bi-si/, sedangkan orang Belanda melafalkannya dengan /be-be-se/, sesuai dengan nama-nama huruf itu dalam bahasa Belanda, sekiranya singkatan itu terdapat di dalam kalimat bahasa Belanda.

“Kalau kita bertahan pada pendirian bahwa lafal singkatan kata-kata asing itu seharusnya sesuai dengan nama-nama huruf di dalam abjad bahasa yang bersangkutan, pastilah kita akan menemui banyak kesulitan di dalam praktek. Syukurlah bila kita tahu bagaimana nama huruf di dalam abjad bahasa itu, misalnya bahasa Inggris atau bahasa Belanda. Bagaimana sekiranya singkatan itu berasal dari bahasa asing yang tidak kita kenal, misalnya bahasa Norwegia, Cekoslowakia? Kita tentu akan menemui kesulitan,” tutur Yus Badudu.

Kadang-kadang, kita orang Indonesia agak lucu. Kita tidak hanya melafalkan singkatan bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, sesuai dengan pelafalan dalam bahasa itu, tetapi juga melafalkan singkatan bahasa Indonesia dengan pelafalan bahasa Inggris, itu pun dengan tidak tepat.

Misalnya TV, singkatan televisi. Kita melafalkan TV dengan /ti-fi/. Lucunya lagi, kita tidak konsisten melafalkan TV, seperti dalam nama-nama stasiun televisi di Indonesia. Sebagai contoh, kita menyebut SCTV dengan /es-ce-te-fe/, dan TVRI dengan /te-fe-er-i/. Kita hanya membaca /ti-fi/ pada nama TV One, padahal TV dibaca /ti-vi/ dalam bahasa Inggris.

Kita juga gagap melafalkan singkatan bahasa Inggris, misalnya singkatan ILC. Kebanyakan orang Indonesia melafalkan acara yang dipandu Karni Ilyas itu dengan /i-el-si/. Padahal, kalau mengikuti kaidah pelafalan huruf dalam bahasa Inggris, kita seharusnya membaca ILC dengan /ai-el-si/.

Karena itu, saran Yus Badudu tersebut benar adanya. Kita lebih baik melafalkan singkatan dari bahasa asing dengan pelafalan huruf dalam bahasa kita. Penutur bahasa lain pun akan melafalkan singkatan bahasa asing dengan pelafalan huruf dalam bahasanya, seperti yang dilakukan Obama ketika melafalkan inisial SBY.

Penutur bahasa Inggris pun akan melafalkan singkatan Negara Kesatuan Republik indonesia (NKRI) dengan /en-kei-ar-ai/, bukan /en-ka-er-i/. Para penutur bahasa Inggris akan sulit menyebut /en-ka-er-i/ karena pengaruh pengetahuan dan kebiasaan mereka terhadap pelafalan huruf bahasa bangsa mereka.

Kalau mengikuti saran Yus Badudu tentang cara melafalkan singkatan dari bahasa asing, kita akan mendapati kemudahan dan tidak akan mempermalukan diri sendiri. Bayangkan betapa repotnya kita jika melafalkan singkatan bahasa Inggris sesuai dengan pelafalan huruf dalam bahasa Inggris.

Betapa rumitnya melafalkan WWW (world wide web) dengan /dabelyu-dabelyu-dabelyu/, betapa susahnya melafalkan UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) dengan /yu-en-eich-si-ar/, dan betapa sukarnya melafalkan WHO dengan /dabelyu-eich-ou/.

Bagaimana melafalkan akronim bahasa asing, misalnya UNICEF, akronim United Nations Children’s Fund? Pelafalan akronim seperti ini dilafalkan dalam bahasa aslinya. Jadi, UNICEF dibaca /yunisef/. Penutur bahasa Indonesia sudah benar melafalkan akronim UNICEF, seperti mafalkan UNESCO, /yunesko/.

Akan tetapi, sebagian penutur bahasa Indonesia sering salah ketika melafalkan Wi-Fi, akronim wireless fidelity. Sebagian orang Indonesia melafakan Wi-Fi dengan /wai-fi/, yang seharusnya dibaca /wai-fai/.

Mengapa akronim bahasa asing dilafalkan sesuai dengan pelafalan dalam bahasa asalnya? Menurut Yus Badudu dalam buku yang saya sebutkan di atas, akronim seperti UNICEF dan UNESCO dibaca sesuai dengan lafal Inggris karena dianggap kata internasional sehingga tidak disesuaikan dengan lafal kita.

Menurut saya, akronim bahasa asing dibaca sebagaimana lafal bahasa tersebut karena akronim merupakan singkatan yang dibaca seperti membaca kata. Kita membaca kata dalam bahasa Inggris, misalnya, seperti kata itu dibaca dalam bahasa Inggris. Sementara itu, singkatan seperti WHO merupakan singkatan yang dibaca dengan cara dieja (dilafalkan huruf per huruf).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR