MAKNA KATA

Peluang -isasi sebagai akhiran Bahasa Indonesia

Ilustrasi: Massa Menentang swastanisasi dan liberalisasi.
Ilustrasi: Massa Menentang swastanisasi dan liberalisasi. | Wira Suryantala/kye/18 / ANTARA FOTO

Dalam tulisan “Standarisasi dan Standardisasi” (Beritagar.id, 3 Agustus 2019) saya berutang satu jawaban kepada pembaca atas pertanyaan yang saya buat: Apakah semua kata yang mengandung –isasi dalam bahasa Indonesia dihitung satu morfem?

Bagaimana dengan kata yang dibentuk dari analogi? Karena utang harus dilunasi, saya lunasi utang jawaban tersebut melalui tulisan ini.

Pada tulisan pekan lalu itu saya menyatakan bahwa –isasi dalam standardisasi bukanlah morfem. Standardisasi dihitung satu morfem dalam bahasa Indonesia karena diserap utuh dari bahasa asing. Sementara itu, standardization dalam bahasa Inggris dan standaardisatie dalam bahasa Belanda dihitung dua morfem karena –ization dan -isatie merupakan akhiran.

Sebagai informasi, morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil (Kamus Linguistik susunan Harimurti Kridalaksana, 2009).

Bagaimana dengan kata lain dalam bahasa Indonesia yang mengandung –isasi yang tidak diserap dari bahasa asing, seperti kuningisasi, betonisasi, deparpolisasi? Terlepas dari betul atau tidaknya dan berterima atau tidaknya, kata-kata tersebut dihitung dua morfem dalam bahasa Indonesia karena merupakan kata bentukan.

Dengan begitu, apakah –isasi telah menjadi akhiran dalam bahasa Indonesia? Setahu saya baru Harimurti Kridalaksana yang melegitimasi -isasi sebagai akhiran pembentuk kata benda, yakni dalam bukunya Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (2007).

Namun, ia gagal mencontohkan kata bahasa Indonesia yang dibentuk dari imbuhan isasi itu. Kata yang dicontohkannya ialah kata serapan, bukan kata bentukan, yaitu inventarisasi, spesialisasi, dan organisasi.

Menurutnya, -isasi dalam ketiga kata tersebut berarti ‘proses’. Padahal, organisasi dalam bahasa Indonesia tidak berarti ‘proses’. Selain itu, inventarisasi, spesialisasi, dan organisasi merupakan kata yang diserap utuh. Oleh karena itu, -isasi dalam ketiga kata tersebut bukanlah akhiran.

Inventarisasi, spesialisasi, dan organisasi dalam bahasa Indonesia merupakan bentuk dasar sekaligus bentuk asal karena tidak dibentuk dari kata inventaris, spesial, dan organ.

Sebagai informasi, bentuk asal adalah satuan dasar hipotesis yang dianggap merupakan titik landasan untuk menguraikan atau menurunkan seperangkat satuan atau seperangkat varian dari sebuah satuan, sedangkan bentuk dasar adalah bentuk dari sebuah morfem yang dianggap paling umum dan paling tidak terbatas (Kamus Linguistik, 2009).

Sebagai contoh, bangsa merupakan bentuk asal dari berbangsa dan berkebangsaan. Namun, bangsa hanya merupakan bentuk dasar dari berbangsa, tetapi bukan bentuk dasar dari berkebangsaan. Bentuk dasar dari berkebangsaan ialah kebangsaan, sedangkan bentuk dasar dari kebangsaan ialah bangsa.

Meskipun demikian, -isasi memiliki peluang menjadi akhiran dalam bahasa Indonesia apabila banyak kata bentukan dalam bahasa Indonesia yang dibentuk dari imbuhan tersebut. Akhiran –isasi akan “sah” menjadi imbuhan dalam bahasa Indonesia apabila banyaknya kata yang dibentuk dari imbuhan tersebut.

Jadi, legitimasi terhadap –isasi sebagai akhiran dalam bahasa Indonesia tidak dilakukan oleh ahli bahasa seperti Kridalaksana atau lembaga seperti Badan Bahasa, tetapi oleh penutur bahasa Indonesia. Penuturlah yang menentukan masa depan –isasi dalam bahasa Indonesia.

Saat ini –isasi belum bisa disebut sebagai akhiran “resmi” dalam bahasa Indonesia karena belum banyak kata yang dibentuk dari –isasi. Selain belum banyak, kata-kata tersebut pun belum dipakai secara intens dan juga belum berterima pada sebagian kalangan.

Kalangan yang tak menerima kata-kata yang dibentuk dari –isasi, seperti kuningisasi dan betonisasi, berpendapat bahwa –isasi dalam kata-kata tersebut bisa diganti dengan konfiks pe-an sehingga menjadi penguningan dan pembetonan. Benarkah –isasi sepadan dengan pe-an? Saya akan menjelaskannya dalam tulisan lain.

Prinsip penerimaan akhiran asing sebagai akhiran bahasa Indonesia seperti yang saya jelaskan tersebut (ditentukan oleh penutur berdasarkan tingginya frekuensi pembentukan kata berdasarkan akhiran tersebut) terjadi pada banyak akhiran asing dalam bahasa Indonesia, seperti –isme (misalnya, bapakisme), -is (contohnya, agamais, pancasilais) dari bahasa Inggris/Belanda, dan –wan (seperti ilmuwan, wartawan) dari bahasa Sanskerta.

Dulu –isme belum dianggap sebagai akhiran dalam bahasa Indonesia karena belum sering dipakai untuk membentuk kata. Hal itu terjadi sekitar 1980-an, seperti yang dicatat J.S. Badudu. Dalam bukunya Inilah Bahasa Indonesia yang Benar (1983) halaman 80, Badudu mengatakan, “... akhiran –isme pun dalam bahasa Indonesia mulai keluar dari batas bahasa asalnya karena akhiran itu sering dilekatkan orang pada bentuk dasar yang bukan kata Belanda atau Inggris.”

Jadi, pada masa itu –isme belum dianggap sebagai akhiran dalam bahasa Indonesia. Dengan kata lain, kata yang mengandung –isme dalam bahasa Indonesia ketika itu diserap utuh dari bahasa asing.

Karena menyadari bahwa –isme dipakai sebagai pembentuk kata dalam bahasa Indonesia, Badudu pun mengambil sikap, “Kalau akhiran –isme itu makin tinggi frekuensi pemakainnya pada bentuk-bentuk dasar yang bukan bahasa Belanda atau Inggris, maka akhiran itu tentulah harus kita masukkan pula ke dalam golongan akhiran (sufiks) bahasa Indonesia.

Hal itu akan ditentukan oleh perkembangan bahasa Indonesia selanjutnya.” Saat ini –isme sudah menjadi akhiran dalam bahasa Indonesia karena banyak kata yang dibuat dengan menambahkan –isme.

Saya menyikapi –isasi saat ini seperti dulu Badudu menyikapi –isme. Mungkin saja nanti dalam perkembangan bahasa Indonesia banyak kata yang dibentuk dari –isasi. Bahwa dianjurkan untuk memakai konfiks pe-an sebagai padanan –isasi, itu bagus. Namun, jangan menutup habis kemungkinan –isasi sebagai imbuhan bahasa Indonesia.

Kembali ke pertanyaan tadi: Apakah semua kata yang mengandung –isasi dalam bahasa Indonesia dihitung satu morfem? Tidak. Tidak semua kata yang mengandung imbuhan asing dihitung satu morfem.

Saya berpendapat bahwa imbuhan asing bisa dianggap sebagai morfem dalam bahasa Indonesia apabila imbuhan tersebut dipakai untuk membentuk kata baru. Apabila hanya terdapat dalam kata serapan, imbuhan asing tersebut bukanlah morfem dalam bahasa Indonesia.

Oleh karena itu, kata yang mengandung –isasi yang diserap utuh dihitung satu morfem. Sementara itu, kata yang mengandung –isasi yang bukan kata serapan, seperti kuningisasi dan betonisasi, dihitung dua morfem.

Begitu juga dengan kata yang mengandung –isme dan -wan dalam bahasa Indonesia. Kata liberalisme dihitung satu morfem karena diserap utuh, sedangkan bapakisme dihitung dua morfem karena merupakan kata bentukan.

Kata hartawan dihitung satu morfem karena diserap dari bahasa Sanskerta, arthavan, (menurut buku Loan- Words in Indonesian and Malay, 2008). Adapun kata ilmuwan dihitung dua morfem karena dibentuk dari ilmu (serapan bahasa Arab) dan –wan (akhiran serapan Sanskerta).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR