SEJARAH INDONESIA

Pendekar Bahasa

Ilustrasi penghargaan bagi mereka yang berjasa
Ilustrasi penghargaan bagi mereka yang berjasa | Ionas Nicolae /Pixabay

Editor rubrik bahasa Kompas menjuluki Prof. Liek Wilardjo sebagai pendekar bahasa, misalnya dalam tulisan berjudul “Istri, Permaisuri, dll” (17 Februari 2018) dan “Adi” (11 Maret 2017). Ia merupakan fisikawan dan Guru Besar Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Meskipun tidak berlatar belakang linguistik, ia memiliki perhatian yang besar terhadap bahasa Indonesia.

Julukan pendekar bahasa pernah dipakai oleh Harimurti Kridalaksana, Guru Besar Linguistik Universitas Indonesia, dalam buku Masa-Masa Awal Bahasa Indonesia (Penerbit Laboratorium Leksikologi dan Leksikografi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2009). Dia menyebut empat orang tokoh sebagai pendekar bahasa Indonesia pertama dalam merintis wawasan tentang bahasa Indonesia, yakni Ki Hajar Dewantara, M. Tabrani, Soemanang, dan Soedarjo Tjokrosisworo.

Harimurti menjelaskan bahwa pendekar bahasa bermodalkan kepedulian yang sangat mendalam tentang seluk beluk bahasanya, dalam bidang di luar ilmu bahasa. Mereka menyumbangkan pikiran dalam bidang ejaan, istilah, dan tata bahasa agar dapat berfungsi secara maksimal—dipandang dari sudut kepakaran masing-masing.

Sementara itu, sarjana bidang bahasa dan sastra, seperti Prof. Anton Moeliono, Prof. J. S. Badudu, Prof. Takdir Alisjahbana, dan Prof. Slametmuljana, yang pekerjaan sehari-hari adalah mengajar dan meneliti bahasa, menurut Harimurti, tidak bisa disebut pendekar bahasa karena memang tugas mereka adalah mengembangkan wawasan dan ilmu bahasa berdasarkan pendidikan mereka.

Anton M. Moeliono mungkin punya definisi sendiri tentang julukan pendekar bahasa. Linguis dari Universitas Indonesia dan mantan Kepala Badan Bahasa itu menyebut dirinya sebagai pendekar bahasa Indonesia dalam testimoni di sampul belakang Tesaurus Bahasa Indonesia (Gramedia, 2006) susunan Eko Endarmoko. Informasi itu saya dapatkan dari Eko Endarmoko melalui pesan WhatsApp saat saya tanya tentang pemberi julukan pendekar bahasa pada testimoni itu, Anton atau Gramedia.

Mengapa Harimurti menyebut Ki Hajar Dewantara, M. Tabrani, Soemanang, dan Soedarjo sebagai pendekar bahasa Indonesia pertama?

Dikutip dari Harimurti (2009)—yang telah saya parafrasekan—Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh pendidikan yang menyampaikan prasaran pada 28 Agustus 1916 dalam Kongres Pengajaran Kolonial di Den Haag, Belanda, bahwa bahasa Melayu akan menjadi bahasa yang cocok untuk wilayah Hindia Belanda—yang kelak menjadi Indonesia—karena telah lama menjadi bahasa pengantar di wilayah tersebut.

Sementara itu, M. Trabrani merupakan pengusul nama bahasa Indonesia pada Kongres Pemuda I, 2 Mei 1926. Yang tidak dicatat Harimurti dalam bukunya itu adalah bahwa M. Tabrani sudah mengusulkan nama bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di negara yang dicita-citakan sebagai Indonesia dalam artikel berjudul “Bahasa Indonesia” dalam surat kabar yang dipimpinnya, Hindia Baroe, 11 Februari 1926.

Adapun Soedarjo Tjokrosisworo, wartawan harian Soeara Oemoem di Surabaya, merupakan pencetus Kongres Bahasa Indonesia, yang pada waktu itu rajin sekali menciptakan istilah-istilah baru--sangat tidak puas dengan pemakaian bahasa Melayu Tionghoa/Melayu pasar dalam surat-surat kabar peranakan Cina.

Informasi itu diceritakan Soemanang melalui suratnya kepada redaksi Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia pada 12 Oktober 1983. Kongres Bahasa Indonesia I diadakan di Solo, 25—27 1938.

Lalu, Soemanang, salah satu pendiri Kantor Berita Antara. Bersama dengan Soedarjo, Soemanang berhasil meyakinkan para penulis pada majalah Poedjangga Baroe, para wartawan, guru, bahkan menggerakkan para pengusaha dan tokoh-tokoh di Solo dalam Kongres Bahasa Indonesia I.

Generasi selanjutnya hanya bisa mengambil ilham dari “jurus-jurus” empat pendekar bahasa itu untuk menyumbangkan pikiran dalam bentuk apa saja demi berkembangnya bahasa Indonesia.

M. M. Purbo-Hadiwidjoyo, misalnya, menyusun Kata dan Makna (Penerbit ITB, 1993), sebuah buku yang berisi padanan dan pedoman membuat padanan kata dan istilah ilmu dan teknologi dalam bahasa Indonesia, yang diambil dari bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

Geologiwan dan penyusun Kamus Geologi dan Ranang Rinangkun dalam bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris (Badan Geologi, 2013) itu bersama dengan Santi W. Purbo-Hadiwidjoyo juga menyusun buku Kata dan Istilah Iltek (Penerbit ITB, 1994), yang isinya seperti buku Kata dan Makna.

Simaklah tulisan Liek Wilardjo yang berjudul “Adi”. Dalam artikel itu, ia mencarikan pandanan istilah-istilah dalam dunia fisika, seperti supercritical, superstring, supercollider, superconductor, dan superfluid menjadi adigenting, adidawai, adipembentur, adipenghantar, dan adizalir.

Bentuk terikat adi- yang digunakan tersebut sudah ada polanya dalam istilah di luar bidang fisika, misalnya adidaya (superpower), adijana (superman), adibintang (superstar), dan adiperagawati (supermodel).

Liek Wilardjo mampu menjelaskan semua arti kata padanan itu dalam dunia fisika. Kalau bukan seorang fisikawan yang profesor seperti Liek Wilardjo yang melakukannya, padanan istilah fisika itu mungkin tidak akan dipercayai oleh publik dan akan ditertawakan. Siapa yang berani membantah dan mentertawakan Liek Wilardjo?

Hal itu pulalah yang dilakukan oleh para pendekar bahasa di dalam buku Ilmuwan dan Bahasa Indonesia (Penerbit ITB, 1988), yang dieditori oleh Adjat Sakri, Kepala Penerbit ITB sewaktu itu. Dalam buku itu, sejumlah pakar, yang bidang ilmunya bukan bahasa, menulis satu artikel sesuai dengan kepakarannya.

Mahar Mardjono menulis “Perkembangan Bahasa Indonesia di Bidang Ilmu Kedokteran”, T. M. Soelaiman “Bahasa Indonesia dalam Bahasa Teknologi, atau: Bahasa Teknologi dalam Bahasa Indonesia”, R. K. Sembiring “Pengalaman Bermatematika dalam Bahasa Indonesia”, Jusuf Randy “Bahasa Indonesia di Dunia Komputer”, dan Mien A. Rifai “Memperindonesiakan Biologi”.

Bahasa Indonesia butuh orang-orang seperti mereka menghadapi perkembangan zaman, agar mampu menjadi bahasa ilmu pengetahuan, dan membuka pintu bagi masuknya ribuan kata asing yang tidak ada konsepnya dalam bahasa Indonesia.

Pada generasi saat ini, kita bersyukur ada pendekar bahasa seperti Ivan Lanin (Sarjana Teknik Kimia dan Magister Teknologi Informasi) dan Gustaf Kusno (dokter gigi militer berpangkat Kolonel).

Sebagai pakar internet, Ivan mencari padanan istilah-istilah teknologi informasi dalam bahasa Indonesia. Ia telah menelurkan Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris (Kompas, 2018), buku kumpulan artikel bahasa. Di Twitter, ia menjadi tempat bertanya bagi 648.000 pengikutnya.

Adapun Gustaf telah menerbitkan buku Gara-gara Alat Vital dan Kancing Gigi (Gramedia, 2014), yang berisi bunga rampai bahasa yang terbit di Kompasiana—media tempatnya menerbitkan lebih dari 700 tulisan.

Dunia kebahasaan tidak kalah pelik daripada dunia persilatan. Karena itu, dunia kebahasaan membutuhkan pendekar-pendekar dengan “jurus-jurus mautnya” untuk melawan kebuntuan sikap hanya mau memakai kata asing dalam arus globalisasi tanpa mau mencari padanannya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR