PEMBENTUKAN KATA

Penyair, Pensyair, atau Pesyair

Ilustrasi buku-buku
Ilustrasi buku-buku | Patrick Tomasso /Unsplash

Manakah bentuk yang betul: penyair, pensyair, atau pesyair? Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita mesti mengetahui pembentukan ketiga kata tersebut.

Menurut Harimurti Kridalaksana dalam buku Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (2007), dalam bahasa Melayu/Indonesia kata benda yang berupa orang bisa bermakna, antara lain, ‘pelaku’, ‘mempunyai kebiasaan (habituatif)’, ‘profesi’, dan ‘orang yang mempunyai kedudukan’. Semua kata tersebut diawali pe-.

Contoh kata benda yang bermakna ‘pelaku’: peninju. Contoh kata benda yang bermakna ‘profesi’: petinju. Kata dasar kedua kata tersebut adalah tinju. Namun, keduanya tidak diturunkan dari tinju. Petinju diturunkan dari bertinju, sedangkan peninju dari meninju.

Jadi, luluh atau tidaknya konsonan K, P, S, dan T pada kata benda yang dibentuk dari penggabungan pe- ditambah dengan kata dasar bergantung pada kata kerja yang mendasari suatu kata benda bentukan tersebut, seperti penyuruh (orang yang menyuruh) dari menyuruh, dan pesuruh (orang yang disuruh) dari disuruh.

Adapun kata benda yang bermakna ‘mempunyai kebiasaan' (habituatif), misalnya pemabuk dan peminum. Harimurti tidak menyebutkan bahwa kedua kata tersebut dibentuk dari kata kerja, tetapi dibentuk dari pe- ditambah kata dasar: mabuk, kata sifat.

M. Ramlan dalam buku Morfologi (1987) juga tidak menyebutkan bahwa kata benda yang dibentuk dari kata sifat seperti ini dibentuk dari kata kerja. Menurutnya, kata benda seperti itu bermakna ‘yang memiliki sifat’.

Misalnya, penakut ‘yang memiliki sifat takut’. Saya pikir makna ini menggelikan karena semua orang memiliki sifat takut. Barangkali maknanya adalah ‘yang mudah takut’.

Sementara itu, kata benda yang bermakna ‘orang yang mempunyai kedudukan’, antara lain, pembesar dan petinggi. Harimurti juga tidak menyatakan bahwa kata benda yang bermakna begini dibentuk dari kata kerja, tetapi dibentuk dari pe- ditambah kata dasar: besar dan tinggi.

Ada juga kata benda yang berupa orang yang tidak diturunkan dari kata kerja. Dalam dunia olahraga kita mengenal kata pebasket. Kata ini tidak diturunkan dari membasket atau berbasket. Ramlan (1987) menyatakan arti kata seperti itu, misalnya pegulat, sebagai ‘yang biasa/pekerjaannya/gemar bergulat’.

Namun, bagaimana dengan kata pegolf? Kata ini tidak ada kata kerjanya, seperti menggolf atau bergolf. Demikian juga petenis dan pebulu tangkis: tidak ada menenis, bertenis, berbulu tangkis, dan membulu tangkis. Karena itu, saya menduga pebasket dan pegolf dibentuk dari analogi, seperti pegulat, petinju, perenang, pelari. Sebagaimana kata Ramlan, profesi-profesi tersebut bermakna ‘yang biasa/pekerjaannya/gemar’.

Mengenai penyair, pensyair, atau pesyair, ketiga kata ini dibentuk oleh kata sair (penyair) dan syair (pensyair dan pesyair), yang bisa bermakna ‘pelaku’, ‘profesi’, ataupun ‘yang biasa/pekerjaannya/gemar’. Kalau kita ikuti pembentukan kata menurut Harimurti (2007), penyair dibentuk dari menyair atau menyairkan, pensyair diturunkan dari menyair atau mensyairkan, sedangkan pesyair dibuat dari bersyair.

Harimurti bukanlah orang pertama yang membuat buku pembentukan kata seperti itu. K. Sasrasoegonda sudah memulainya dalam kitab jang menjatakan djalannja bahasa melajoe pada 1910.

Sampai di sini persoalan pembentukan kata benda yang berupa orang sudah selesai. Persoalannya adakah kata sair? Selama ini bentuk yang kita kenal ialah syair.

Orang di Nusantara sudah mengenal kata syair sejak, setidaknya, abad ke-16, ketika Hamzah Fansuri membuat syair-syair, antara lain, Syair Perahu. Tentu saja ia mencipta syair dalam bahasa Melayu dengan aksara Arab.

A.H. Johns, peneliti dari The Australian National University, dalam “Penerjemahan Bahasa Arab ke Dalam Bahasa Melayu: Sebuah Renungan”, tulisan dalam buku Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia (2009), mengamati bahwa selama tiga ratus tahun lebih huruf Arab digunakan sebagai sarana tulis-menulis dalam bahasa Melayu. Sepengetahuannya, pemakaian huruf Latin untuk keperluan tulis-menulis dalam bahasa Melayu baru berlangsung selama satu abad terakhir.

Apakah Hamzah Fansuri atau orang Nusantara dulu menyerap kata syair dari sya’ir atau syi’r, itu perlu ditelusuri lagi. Yang jelas, شَاعِر (sya’ir) dalam bahasa Arab artinya ‘penyair’, bukan ‘syair/poetry’, sedangkan kata yang berarti ‘syair’ adalah شِعْر (syi’r)—periksa kamus Arab atau Arab-Indonesia.

Loan-Words in Indonesian and Malay (2009), yang dieditori Russel Jones, mencatat syair (variasinya sair) berasal dari bahasa Arab, shi’r dengan arti ‘poetry, in past times’. Shi’r merupakan kata transliterasi (alih huruf) Arab ke huruf Latin. Kalau diserap ke dalam bahasa Melayu/Indonesia, shi’r menjadi syiir.

Jadi, telah terjadi kesalahan memaknai syair dan syiir sejak dulu. Terlepas dari siapa yang memulai kesalahan tersebut, tak perlu dipersoalkan lagi arti syair dalam bahasa Indonesia karena kita sudah menyepakati syair dengan arti ‘syair’, bukan ‘penyair’.

Karena orang di Nusantara memaknai syair bukan sebagai ‘penyair’ dan penulisan bahasa Melayu dalam aksara Latin baru terjadi pada awal abad ke-19, mungkin saja pembentukan kata penyair lebih dulu dalam ragam lisan daripada ragam tulisan. Itupun kalau pada masa tersebut dibutuhkan satu kata untuk menyebut orang yang membuat syair.

Kalau benar begitu, pembentukan kata penyair tidak melalui ejaan syair atau sair, tetapi mungkin melalui intuisi, kemudahan lidah untuk melafalkannya, dan enak atau tidaknya kata tersebut didengar. Barangkali lidah purba orang Nusantara lebih mudah mengucapkan bunyi sa daripada sya karena syair merupakan kata asing. Apakah penutur bahasa Melayu/Indonesia modern lebih gampang melafalkan sya daripada sa?

Cobalah Anda tes sendiri! Lebih mudah mana melafalkan kepenyairan daripada kepensyairan, menyair ketimbang mensyair?

Sementara itu, jika dibentuk melalui ragam tulisan, kata penyair dibentuk dari sair. Cukup banyak buku dan kamus pada 1900-an yang memakai dan mencatat sair walaupun juga banyak dokumen yang menggunakan syair. Kamus Besar Bahasa Indonesia V (2016) pun masih mencatat sair meskipun sebagai bentuk tak baku. Berikut ini sejumlah buku dan kamus lama yang memakai syair dan sair.

Pertama, Kitab Logat Melajoe (1901) susunan Charles Adriaan van Ophuijsen. Kamus ini mencatat bentuk sa’ir dan sja’ir. Kamus ini juga mencatat kata serapan Arab lainnya yang berpola sa menjadi sja, yakni Sa’ban dan Sja’ban, sahadat dan sjahadat, sahid dan sjahid.

Kedua, buku-buku yang ditulis pengarang berdarah Tionghoa dalam bahasa Melayu rendah, yang jumlahnya banyak sekali, antara lain, Sair dan Pantoen Nona Manis, Boengah Seronih, Nona Boedjang, Sair Ikan (1922) karangan Yap Kim Hong; Sair Anak Moeda, Orang Bersobat dan Orang Boedjang (1922) karangan Glatik Nio (Nona); Sair Krontjong Bidadari Senang Hati dan Krontjong Nona Manis (19) karangan L.S. Nona Nio; Sair Sarikat Islam (1913) karangan R. Pasisir dan Tjiang Oen Nio; Sair Tjerita Siti Akbari (1922) karangan Kim Hok Lie.

Ketiga, kamus-kamus bahasa Indonesia, antara lain, Logat Ketjil Bahasa Indonesia (1949) susunan Poerwadarminta merekam sa’ir dirujuk silang ke sja’ir; Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) susunan Poerwadarminta mencatat sa’ir dan sair dengan arti ‘sjair’, dengan turunan menjairkan dan penjair. Kamus ini juga mencatat sjair dengan turunan bersjair, menjairkan sekaligus menjairkan, dan penjair; Kamoes Indonesia (Cetakan ketujuh) (1942) susunan E. Soetan Harahap merekam sa’ir dan sja’ir.

Kini bentuk sair tidak digunakan lagi, terutama dalam tulisan. Para penulis memakai syair. Namun, pada umumnya mereka memilih penyair, menyair, dan kepenyairan karena kata-kata tersebut lebih hidup dan lazim serta lebih mudah dilafalkan daripada pensyair, mensyair, dan kepensyairan.

Bagaimana dengan kata pesyair? Kata ini tidak dicatat oleh kamus. Meskipun begitu, pesyair merupakan kata yang pontensial masuk kamus. Kata ini dibentuk dari bersyair.

Satu-satunya orang yang saya ketahui konsisten memakai pesyair adalah Remy Sylado. Dalam pembukaan bukunya yang berjudul Kerygma: Puisi-Puisi Penghiburan Pengharapan (1999) Remy menulis dalam mukadiman: Menjadi penyair berpercaya/banyak yang terpanggil/sedikit yang terpilih/Kusebut diriku pesyair. Mukadimah itu juga terdapat dalam buku puisinya yang lebih tebal, Kerygma dan Martyria (2004).

Begitu juga dalam tulisan-tulisannya yang lain. Dalam sebuah obrolan pribadi dengan saya melalui WhatsApp, Remy mengatakan, “Kesalahan selama ini adalah mengeja pesyair dengan penyair. Padahal, kita tahu bahwa huruf Arab syin itu seyogyanya tidak dilebur menjadi ny. Kecuali kalau kata dasarnya adalah sair, itu bisa jadi penyair.”

Jadi, manakah bentuk yang betul: penyair, pensyair, atau pesyair? Ketiganya betul bergantung pada kata kerja yang menurunkannya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR