MAKNA KATA

Pimpinan dan pemimpin (2)

Ilustrasi pemimpin
Ilustrasi pemimpin | Miguel Á. Padriñán /Pixabay

Pada Sabtu lalu, dalam kolom ini, dengan tulisan berjudul “Pimpinan dan Pemimpin”, saya menjelaskan sejarah makna kata pimpinan sebagai ‘kumpulan pemimpin’. Badan Bahasa baru mencatat makna itu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V (2016). Persoalan tersebut berpangkal dari makna akhiran –an. Untuk mengurai masalah ini, kita mesti menelusuri makna –an pada kata lain.

Makna Akhiran -an

Bagaimana bisa –an pada kata pimpinan bermakna ‘kumpulan’? Adakah kata lain yang sepola dengannya?

Harimurti Kridalaksana dalam buku Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (Gramedia, 1989) mengidentifikasi 15 pembentukan nomina dari sufiks –an. Dari 15 pembentukan itu, 4 pembentukan merupakan pembentukan dari verba (kata kerja) menjadi nomina (kata benda).

Pertama, bermakna ‘hasil’, contohnya catatan, tulisan. Kedua, bermakna ‘tempat (lokatif)’, misalnya kuburan, tumpangan, titian. Ketiga, bermakna ‘apa yang di-‘, seperti makanan, minuman. Keempat, bermakna ‘alat untuk’, umpamanya ayunan, garisan. Tak satu pun dari keempat pembentukan itu bermakna ‘kolektif’. Apakah –an yang bermakna ‘kumpulan (kolektif)’ luput dari perhatian Harimurti?

Berawal dari KBBI V, Badan Bahasa lalu memperkuat pendapatnya tentang makna ‘kumpulan’ pada –an dalam produk terbarunya, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2017). Dalam Bab VII “Nomina, Pronomina, dan Numeralia” buku itu disebutkan bahwa nomina dengan –an dapat diturunkan dari verba untuk menyatakan makna ‘kumpulan orang, hewan, atau alat untuk melakukan yang dinyatakan verba’.

Contohnya, kawanan ‘sejumlah orang atau hewan yang berkawan’, pasukan ‘sejumlah orang atau binatang yang berpasuk-pasuk’, gerombolan ‘sejumlah orang atau binatang yang bergerombol’, pimpinan ‘sejumlah orang yang memimpin secara bersamaan’, mainan ‘alat yang dijadikan untuk bermain’.

Mari kita analisis. Pertama, kita singkirkan dulu nomina bentukan yang kata dasarnya bukan verba karena kita tidak bisa membandingkan atau menyamakan makna nomina bentukan berakiran –an pada kata pimpinan (yang dibentuk dari kata dasar verba menjadi nomina) dengan nomina bentukan yang tidak berasal dari verba.

Dari lima nomina bentukan itu, hanya pimpinan dan mainan yang kata dasarnya verba. Samakah makna –an pada pimpinan dan mainan? Tidak. Mengapa mainan tidak bermakna ‘kumpulan’? Mainan bisa didahului dengan kata penanda tunggal, misalnya sebuah mainan.

Pada sisi lain, TBBBI IV memaknai –an pada mainan sebagai ‘kumpulan’ karena kata itu dibentuk dari kata kerja bermain. TBBBI IV meminta kita melihat pembentukan kata benda dari rangkaian proses kata kerja yang berkaitan. Jadi, proses terbentuknya mainan adalah main, bermain, mainan. Padahal, bermain artinya ‘melakukan sesuatu untuk bersenang-senang’ (KBBI). Jadi, bermain bisa dilakukan sendiri.

Pembentukan kata mainan dari bermain tidak bisa disamakan dengan pembentukan petinju dari bertinju karena bertinju merupakan kegiatan yang tidak bisa dilakukan sendiri sehingga kata bermakna ‘resiprokal (bersifat saling membalas)’. Meski demikian, pelaku kegiatan bertinju, yakni petinju, pun tidak bermakna ‘kumpulan/jamak’.

Sesungguhnya, makna –an dalam mainan adalah ‘apa yang di-’ dan ‘alat untuk’. Begitulah arti nomina berakhiran -an yang dibentuk dari verba menurut Harimurti (1989). Jadi, arti mainan adalah ‘apa yang dimainkan’ atau ‘alat untuk bermain’. Alat untuk bermain bisa berbentuk sebuah alat saja.

Kedua, mengenai verba memimpin yang dijadikan argumen dalam TBBBI IV untuk melegitimasi makna ‘kumpulan’, sejak kapan memimpin harus dilakukan bersama-sama? Lagi pula, mengapa memimpin menghasilkan pimpinan? Tidak ada verba memimpin yang berarti ‘memimpin secara kolektif/bersama’ dalam kalimat kecuali diberi kata penanda jamak, misalnya “Mereka memimpin lembaga legislatif dengan baik.”

Bandingkanlah dengan, misalnya, verba mengeroyok, kegiatan yang dilakukan oleh beberapa orang. Mengeroyok menghasilkan nomina pengeroyok, yang artinya ‘jamak’ karena mengeroyok tidak mungkin dilakukan sendiri.

Kalau TBBBI IV menganggap pimpinan diturunkan dari memimpin, sedangkan memimpin juga menghasilkan kata pemimpin, bagaimana bisa satu kata kerja yang sama memproduksi dua kata benda sebagai ‘pelaku’? Bandingkanlah dengan bertinju (menghasilkan petinju) dan meninju (menghasilkan peninju), dan menabung memproduksi penabung (pelaku) dan tabungan (alat).

Dari semua penjelasan di atas, makna pimpinan sebagai ‘kumpulan pemimpin’ sudah terbantahkan. Tinggal satu lagi alasan para pendukung ‘kumpulan pemimpin’ sebagai arti pimpinan, yakni kata antrean. Menurut mereka, antrean sepola dengan pimpinan karena sama-sama dibentuk dari verba dan bermakna ‘kumpulan (kolektif)’.

Padahal, antrean memang bermakna kolektif dari kata dasarnya. Lagi pula, orang yang mengantre sendiri disebut pengantre, sedangkan kumpulan pengantre disebut para pengantre. Pengantre merupakan unsur dalam antrean, misalnya “Dalam antrean itu terdapat ratusan pengantre” atau “Dalam antrean itu, seorang pengantre pingsan karena terlalu lama mengantre”.

Pengantre merupakan pelaku yang melakukan tindakan mengantre yang bersifat aktif, sedangkan antrean merupakan objek yang berada dalam tindakan mengantre, yang bersifat pasif karena antrean berarti ‘deretan orang, barang olahan, atau unit yang sedang menunggu giliran untuk dilayani, diolah, dan sebagainya’ (KBBI).

Frekuensi pemakaian dan konsep

Salah satu syarat kata dan makna masuk KBBI adalah kerap dipakai. Makna pimpinan dengan arti ‘kumpulan pemimpin’ dalam KBBI V mungkin direkam berdasarkan faktor tingginya frekuensi pemakaian makna tersebut di tengah masyarakat dan media massa.

Namun, frekuensi pemakaian kata pimpinan dengan arti ‘pemimpin (orang yang memimpin)’, yang bermakna tunggal, juga tinggi. Kalau Badan Bahasa beralasan bahwa kata pimpinan berarti ‘kumpulan pemimpin’ karena tingginya frekuensi pemaknaan yang demikian itu, apakah Badan Bahasa juga akan melegalkan makna pimpinan sebagai ‘pemimpin’? Berani?

Jadi, konsep nomina bentukan dari kata dasar verba (yang verba dasarnya tidak bermakna ‘jamak’) ditambah dengan akhiran –an yang berarti ‘kumpulan/kolektif’ belum ada dalam bahasa Indonesia. Kalau Badan Bahasa mau melegitimasi konsep itu, buktikan dulu dengan beberapa contoh kata lain yang sepola dengan itu. Prinsipnya, buktikan dulu, baru legitimasi, bukan legitimasi dulu, lalu buktikan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR