PEMBENTUKAN KATA

Romawi ataukah Rumawi

Kolosseum, salah satu ikon kota Roma, Italia
Kolosseum, salah satu ikon kota Roma, Italia | Matthias Lemm /Pixabay

Kembali ke soal mengutip. Perkenankan terlebih dulu saya mengutip kutipan dalam paragraf kelima dan keenam tulisan saya di sini pada awal bulan ini:

Di satu sisi ia katakan, “Bukan ke-XXXVI, melainkan ke-36, atau memakai angka Romawi saja tanpa ke di depannya.” . . .

Penjelasan itu langsung ia pertegas, “. . ., kalau kita memakai ke di depan angka, haruslah kita pakai pula garis tanda hubung antara ke dan angka Arab itu. Kalau angka Romawi yang kita gunakan, tak perlu kita pakai ke di depannya.” . . . , mengapa mesti ada tanda hubung /-/ antara ke dan angka Arab, dan mengapa ke tak perlu hadir bila ditulis dengan angka Romawi.

Sengaja tiga kata dalam kutipan di atas saya buat dengan huruf miring, agar segera tampak penulisan Romawi yang konsisten. Tapi saya ingat betul bahwa saya tidak konsisten dalam menuliskannya.

Yang kedua saya tulis Rumawi, persis seperti Jus Badudu (yang saya kutip) menuliskannya. Sedang kalimat yang mengandung kata Romawi ketiga berasal dari saya. Pengejaan kata itu bukan mengutip melainkan mengikuti Badudu dalam kalimat yang ia tulis sebelumnya.

Jelas bahwa kata Rumawi saya yang berasal dari Badudu itu telah diubah oleh editor menjadi Romawi. Padahal salah satu asas dasar di dalam kutip-mengutip adalah menyalin dari sumber persis sebagaimana adanya.

Bahkan apabila terdapat satu saja kata salah ketik. Dalam hal seperti ini, kata yang terketik salah dalam kutipan lazimnya segera diikuti tanda (sic!). Dari bahasa Latin, artinya kira-kira “Begitulah.” Misalnya, “. . . filsuf Yunani Aristotales(sic!). . . .“

Dari itu, kita sadari kemudian bahwa teks yang berubah dalam perjalanan dari tangan ke tangan adalah hal lumrah belaka. Seperti Rumawi menjadi Romawi. Atau sebaliknya, dari Romawi menjadi Rumawi. Barangkali ada yang tak sabar menanti jawaban mana yang benar penulisannya, Romawi ataukah Rumawi.

Persis di sinilah maksud saya manakala menyatakan, “soalnya kini sudah agak bergeser. Bukan lagi ‘Inilah bahasa Indonesia yang benar’, apa saja ciri dan syarat yang dicakup rumusan itu” (lihat "Polisi Bahasa").

Bagi saya soal kita sekarang adalah bagaimana mendapatkan pijakan yang lebih kukuh di dalam proses menulis, di dalam berbahasa.

Variasi vokal dalam bahasa Indonesia, kita ingat, selain kedapatan dalam Romawi-Rumawi, hidup berdampingan dalam beberapa pasangan kata lain, seperti roh-ruh, korban-kurban, khotbah-khutbah, sorga-surga, dan kita temukan juga dalam nama diri: Mohammad, Muhammad (apakah bisa kita sandingkan juga koran-Qur’an? ).

Badudu amat boleh jadi mengeja Rumawi, mengingat di dalam Al-Qu’ran terdapat surat Ar-Rum. Lebih sulit adalah pertanyaan mengapa dalam kalimat sebelumnya Badudu mengeja Romawi. Tidak konsisten.

Saya kira kita cuma dapat menduga-duga bahwa pengejaan yang berbeda begitu tak lain dari ulah editor penerbit demi menunjukkan bahwa ia sudah bekerja.

Apakah seorang Badudu tidak bisa khilaf?

BACA JUGA