PEMBENTUKAN KATA

Sejarah ''Anda''

Ilustrasi pembentukan kata
Ilustrasi pembentukan kata | PublicDomainPictures /Pixabay

Tidak semua kata muncul begitu saja dari penuturnya. Dalam bahasa Indonesia, cukup banyak kata yang “diciptakan” karena kebutuhan tertentu, salah satunya anda.

Ayatullah wartawan Indonesia, Rosihan Anwar, pernah menjelaskan asal-usul Anda dalam tulisan “Kata “Anda” Berusia 20 Tahun” (Kedaulatan Rakyat, 14 Februari 1977). Rosihan memperkenalkan Anda kali pertama pada 28 Februari 1957 dalam Surat Kabar Pedoman.

Ia menceritakan bahwa Anda diusulkan oleh seorang perwira Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) berpangkat kapten bernama Sabirin sebagai kata pengganti orang kedua.

“Tahukah Anda, Prof. Sutan Takdir Alisjahbana daalam Pedoman Minggu tanggal 14 April 1957 menyatakan setujunya mempopulerkan perkataan Anda? Sedangkan Prof. Purbotjaroko dalam Pedoman Minggu tanggal 28 April 1957 tidak dapat menyatakan apakah dia setuju atau tidak terhadap pemakaian Anda sebagai kata ganti. Tahukah Anda karena Pedoman yang menyiarkannya, maka koran PKI, Harian Rakyat, menentangnya, lalu mengajukan istilah tandingan, yakni Andika? Tetapi ternyata Andika tidak pernah mendapat pasaran, dan yang laku akhirnya ialah perkataan Anda.” Demikian kata Rosihan Anwar.

Ajip Rosidi, sastrawan, menjelaskan latar belakang Rosihan Anwar mencari kata Anda melalui Pedoman dalam tulisan berjudul “Kegagalan Anda”. Dalam tulisan yang diterbitkan lewat buku Bus Bis Bas: Berbagai Masalah Bahasa Indonesia (Pustaka Jaya, 2010), Ajip mengungkapkan bahwa Rosihan Anwar merasa repot harus menulis dalam bahasa Indonesia yang begitu banyak mempunyai kata ganti orang pertama, apalagi kata ganti orang kedua.

Karena itu, pada 1958, muncul gagasan cemerlang dalam kepalanya untuk mencari kata ganti orang kedua yang dapat dipakai terhadap semua orang, seperti kata you dalam bahasa Inggris. Melalui surat kabar yang dipimpinnya, Rosihan Anwar mengundang para pembacanya untuk urun usul kata ganti yang dapat digunakan seperti yang ia angan-angankan. Banyak usul yang masuk. Namun, pada akhirnya, ia memilih kata Anda yang diusulkan Sabirin.

Saya tidak dapat melacak tulisan Sabirin dalam Pedoman tentang kata Anda karena saya tidak bisa mengakses koran itu. Untung saja, saya punya Majalah Bahasa dan Budaya nomor 5 tahun V, Juni 1957, terbitan Lembaga Bahasa dan Budaya Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Majalah itu memuat tulisan Sabirin tentang kata Anda secara lengkap dengan judul “Anda, Kata Baru dalam Bahasa Indonesia”. Dalam tulisan itu, Sabirin mengungkapkan keresahannya terhadap kebiasaan masyarakat yang memakai kata-kata asing dalam percakapan sehari-hari, seperti ik, jij, jullie, dan U (bahasa Belanda), serta kebiasaan penggunaan kata ane dan ente.

“Kebiasaan jang aneh ini mungkin timbulnja oleh karena pemakaian kata kamu atau kau lazimnja berlaku dalam lingkungan jang akrab benar hubungannja. Penggantian pemakaian kata2 ikke atau ane dengan kata saja atau aku tidaklah sukar. Tetapi jang sulit ialah menukar kata jij dengan kamu atau kau. Tak semuanja orang senang menerima dirinja diper-kamu atau diper-kau, apalagi kalau ditudjukan terhadap wanita. Memang dalam pertjakapan2 ada dipakai kata saudara, tetapi entah oleh karena perkataan itu agak pandjang (terdiri dari 3 suku kata), entah oleh karena sifat aslinja adalah suatu kata benda, maka pertjakapan sehari-hari dengan pemakaian kata saudara itu banjak sedikitpun mengandung suasana kekakuan,” tutur Sabirin.

Untuk mencari kata pengganti kamu atau kau itu, Sabirin berinisiatif mencarinya dalam bahasa daerah atau menciptakan kata baru yang sedapat mungkin dikeruk dari perbendaharaan kata-kata bahasa Indonesia. Menurutnya, kata pengganti itu hendaknya bisa dihadapkan kepada siapa saja, seperti you dalam bahasa Inggris, yang dapat dipakai kepada pria maupun wanita, orang tua maupun anak-anak.

Karena itu, Sabirin mengusulkan Anda. Ia mengusulkan kata itu dengan merujuk Kamus Moderen Bahasa Indonesia (Penerbit Grafica Djakarta, tanpa tahun) susunan Sutan Mohammad Zain. Sabirin menulis, “Perkataan anda berarti ‘jang mulia’ atau ‘jang terhormat’ halaman 36 pada perkataan anakanda dan pada halaman 174 pada perkataan bunda. Selandjutnja, pada hal. 36 itu diterangkan: mula-mula dipakai untuk anak radja-radja sadja, tetapi sekarang dipakai dalam bahasa sehari-hari djika orang hendak menghormati orang jang patut dipanggilkan anak, lebih-lebih dalam surat.”

Setelah saya cek, Kamus Moderen Bahasa Indonesia tidak memuat kata Anda. Dalam kamus itu, ada lema anakanda atau ananda atau anakda, artinya ‘anak yang mulia’. Dalam catatan tentang kata itu, Zain menjelaskan bahwa anda, nda, atau da asalnya dari ra, bahasa Kawi, artinya ‘yang mulia’ (ingat ratu, datu, datuk; tu = to, artinya ‘orang’: ratu atau datu ‘orang yang mulia’; Tondano = 'orang danau’, Tombuluk = ‘orang buluh’)—kasus kata yang berasal dari satu suku kata ini mengingatkan saya kepada teori Rendward Brandstetter tentang akar kata bahasa-bahasa di Nusantara, yang bisa saja saya bahas dalam satu tulisan khusus dalam kanal Tabik ini.

Menurut Zain, kata anakanda atau ananda atau anakda mula-mula dipakai untuk anak-anak raja saja, tetapi sekarang dipakai dalam bahasa sehari-hari jika orang hendak menghormati orang yang patut dipanggil anak, lebih-lebih dalam surat.

Berdasarkan hal itu, Sabirin berpendapat bahwa arti ‘yang mulia’ atau ‘yang terhormat’ pada kata Anda lambat laun akan hilang karena pemakaiannya sehari-hari. Ia beranggapan bahwa pada mulanya akan dirasakan kekakuan atau kecanggungan dalam pemakaian kata Anda. Namun, ia pecaya kekakuan itu lambat-laun akan hilang jika kata Anda terbiasa dipakai.

Meski demikian, Sabirin dalam tulisannya itu menggarisbawahi bahwa anjuran pemakaian kata Anda itu tidak untuk menghapuskan pemakaian kata kamu dan kau.

Siapa Sabirin?

Saya tidak menemukan informasi agak lengkap tentang Sabirin kecuali yang dituliskan oleh Rosihan Anwar dalam tulisannya pada Kedaulatan Rakyat (1977) itu. Beberapa catatan tentang Sabirin agaknya keliru karena ada yang menyebutnya Mayor Penerbang dari Palembang, seperti tulisan Ajip Rosidi (2010).

Dalam tulisannya, Rosihan Anwar menginformasikan bahwa Sabirin dilahirkan di Bukittinggi pada 5 Agustus 1919. Pendidikan umumnya, antara lain, ialah MULO, Akademi Pamong Praja, dan Administrasi. Sebelum masuk TNI AU, ia pernah bekerja sebagai karyawan Algemene Volks Credit Bank, karyawan Goodyear, Balai Kota Bukittinggi, dan Borsumij.

Pada 1950, Sabirin berpangkat Pembantu Letnan Muda Udara Dua dengan tugas sebagai Panitera KPU Padang. Pada 1953, ia pindah bertugas ke Markas Besar AURI sebagai Panitera PASU. Pada 1955, sebagai perwira, ia menjadi diperbantukan ke Indian Air Force Advisory Group.

Dari 1957 hingga 1959, ia bertugas di kantor Atase Udara KBRI Washington. Ia pernah pula bertugas pada Direktur Intel TNI AU dalam 1959. Dalam 1964, ia bertugas pada Departemen Research Nasional, dan dalam 1970, ia melaksanakan masa pensiunnya. Selama pensiun, Kapten Purnawirawan Sabirin tinggal di Jalan Cempaka Putih Barat 2 A Nomor 6 B, Jakarta.

BACA JUGA