PEMBENTUKAN KATA

Sejarah jomlo dan perkembangannya

Ilustrasi jomlo
Ilustrasi jomlo | Daniel Nebreda /Pixabay

Bahasa Indonesia beruntung memiliki kata jomlo. Dengan jomlo, penutur bahasa Indonesia dapat membedakan bujang maupun gadis yang sudah atau belum memiliki pacar dengan satu kata.

Jomlo berasal dari bahasa Sunda. Berdasarkan etimologinya, jomlo digunakan untuk menyebut dagangan yang tidak terjual atau perempuan yang tidak laku.

Menurut Kamus Bahasa Sunda susunan R. A. Danadibrata (Kiblat, 2015), jomblo tumerap kana barang dagangan anu kurang at. teu payu, sok disebut oge jomlo, sab. raris; dina musim ngijih loba dagangan jaromblo, komo nu dagang sirop es mah; awewe dianggap barang dagangan, lantaran eta lamun awewe teu buru-buru laku ka lalaki hartina teu buru-buru boga salaki dina waktuna sok disebut-; ronggeng ronggeng nu teu laku, euweuh nu ngigelan, up. dina ketuk tilu.

Artinya, jomlo diterapkan juga pada dagangan yang tidak laku, sering disebut jomlo lawannya laris; pada musim hujan banyak dagangan jomlo, apalagi penjual es sirop; perempuan dianggap barang dagangan, karena itu perempuan yang tidak segera laku oleh laki-laki, artinya tidak segera bersuami pada waktunya, sering disebut jomlo; ronggeng jomlo, ronggeng yang tidak laku, tidak ada yang mengiringi menari, misalnya dalam kesenian ketuk tilu.

Hal yang sama juga dijabarkan Kamus Basa Sunda susunan R. Satjadibrata (Kiblat, 2005): jomlo taya nu mikahayang (barang dagangan) at. taya nu ngalamar (awewe). Artinya, tidak ada yang menginginkan (barang dagangan) atau tak ada yang melamar (perempuan).

Hingga edisi ketiga, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) susunan Badan Bahasa hanya mengartikan jomlo (kata benda) sebagai ‘gadis tua’.

Dalam perkembangannya, kata jomlo mengalami perluasan makna sebagai ‘orang yang belum memiliki pasangan’. Badan Bahasa menambah arti jomlo mulai KBBI edisi keempat sebagai ‘pria atau wanita yang belum memiliki pasangan hidup’.

Makna ini diberi label cak (ragam cakapan) alias bukan makna baku. Seharusnya, jomlo tidak lagi dilabeli cak karena saat ini tidak ada lagi orang yang mengartikan jomlo sebagai ‘gadis tua’. Kini, jomlo dipakai untuk menyebut perempuan maupun pria yang belum punya pacar. Tidak ada lagi pembatasan jomlo berdasarkan jenis kelamin dan umur.

Bahasa Indonesia benar-benar beruntung memiliki kata jomlo karena tidak ada sinonimnya sebagai kata benda dalam bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Jomlo memiliki konsep tersendiri yang belum terdapat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Melayu.

Jomlo memiliki konsep otonom seperti kata pacar. Pacar dalam bahasa Indonesia digunakan untuk membedakan ‘kekasih yang belum dinikahi’ dengan suami/istri, yakni ‘kekasih yang sudah dinikahi’.

Dewasa ini, orang Indonesia juga memakai kata jomlo untuk menyebut duda maupun janda yang belum punya pacar. Padahal, pada dasarnya, jomlo sebagai kata benda adalah orang yang belum atau tidak mempunyai pasangan dengan batasan belum pernah menikah. Sementara itu, duda atau janda adalah orang yang belum menikah lagi setelah bercerai. Jomlo tidak bersinonim dengan duda maupun janda.

Bagaimana menyebut duda maupun janda yang sudah atau belum punya pacar? Lagi-lagi, bahasa Indonesia dan bahasa Melayu tidak memiliki kata untuk menyebut hal seperti itu. Dalam hal ini, kata jomlo kembali memperlihatkan “kesaktiannya”.

Dalam pergaulan, orang Indonesia juga menyebut duda/janda yang belum punya pacar sebagai jomlo sebagai kata benda. Tidak ada lagi pembatasan jomlo berdasarkan status perkawinannya. Apakah itu salah? Penutur bahasa Indonesialah yang menentukannya karena bahasa merupakan milik penuturnya.

Cara lain untuk membedakan duda maupun janda yang belum punya pacar atau sudah punya pacar adalah memakai kata jomlo sebagai kata sifat, misalnya duda (yang) jomlo. Dalam frasa duda jomlo, jomlo bukan lagi kata benda, melainkan kata sifat. Tesamoko, tesaurus bahasa Indonesia susunan Eko Endarmoko (Gramedia, 2016), bahkan hanya menganggap jomlo sebagai kata sifat yang berpadanan dengan lajang dan singgel.

Jomlo saat ini sudah jauh dari makna filosofisnya, dan dalam perjalanannya, suatu kata memang tidak harus dimaknai secara filosofis. Jomlo benar-benar sudah searti dengan ‘orang yang melajang’. Orang yang melajang berarti ‘pilihan hidup’ karena belum mau punya pasangan. Jadi, tidak ada lagi perbedaan menjomlo sebagai nasib dan melajang sebagai pilihan hidup.

Jomblo atau jomlo?

Ada orang yang bertanya, bentuk yang benarnya jomblo atau jomlo? Meskipun ini tidak terlalu penting dibahas, saya akan mencoba membahasnya. Badan Bahasa sudah mencatat jomlo sejak KBBI I (1989). Sementara itu, Kamus Bahasa Sunda susunan R. A. Danadibrata memang mencatat jomblo dan jomlo, tetapi kata yang diberi arti hanya jomblo sebagai kata yang dianggap baku.

Kamus basa Sunda susunan R. Satjadibrata juga merekam jomlo dan jomblo, tetapi hanya jomlo yang diberi makna. Entah mengapa kedua penyusun kamus bahasa Sunda itu berbeda pendapat tentang bentuk baku jomblo atau jomlo, padahal kata tersebut sama-sama berasal dari bahasa Sunda. Di sisi lain, bentuk yang dikenal luas oleh masyarakat adalah jomblo.

Seandainya bentuk awalnya adalah jomlo, lalu menjadi jomblo, fonem /b/ tersebut muncul karena bunyi luncur ketika kita melafalkan suku kata (silabel/silaba) yang berakhiran /m/ yang disambut oleh silabel berawalan /l/, seperti kata jumlah. Fonem /b/ yang muncul dalam kata jomlo dan jumlah merupakan bunyi semu, yang sesungguhnya tak ada.

Anda memilih jomblo atau jomlo? Terserah Anda.

BACA JUGA