MAKNA KATA

Standarisasi dan standardisasi

Ilustrasi: Alquran dengan ukuran tidak standar.
Ilustrasi: Alquran dengan ukuran tidak standar. | Muhammad Adimaja/ama / ANTARA FOTO

Sejumlah orang mengkritik akun Facebook Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan pada 22 Juli 2019. Pada hari itu akun Badan Bahasa mengunggah infografis ejaan baku beberapa kata: standar dan standardisasi sebagai bentuk yang benar (diberi tanda centang), dan standard, standarisasi sebagai bentuk yang salah (diberi tanda silang).

Para pengkritik mengatakan bahwa ejaan yang betul adalah standarisasi karena kata dasarnya standar dan ditambah akhiran -isasi. Dengan pernyataan itu mereka mempertanyakan mengapa ada fonem /d/ dalam standardisasi, padahal bahasa Indonesia tidak menyerap standard.

Bagaimana sebenarnya duduk persoalan bentuk standardisasi dalam bahasa Indonesia? Sementara itu, bentuk standarisasi juga populer dalam masyarakat kita.

Hampir semua kata yang mengandung –isasi dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Belanda dan Inggris, misalnya realisasi (realisatie) dan islamisasi (islamization). Jika ada kata dalam bahasa Indonesia yang mengandung –isasi tanpa diserap dari bahasa asing, kata tersebut dibentuk dari analogi kata berakhiran –isasi, contohnya betonisasi dan kuningisasi.

Isasi dalam bahasa Inggris (-ization) dan bahasa Belanda (–isatie) merupakan akhiran. Oleh karena itu, kata yang mengandung –isasi dalam kedua bahasa tersebut dapat diurai menjadi dua morfem. Kata standardization, misalnya, terdiri atas dua morfem, yakni standard dan ization. Sementara itu, standardisasi dalam bahasa Indonesia hanya dihitung sebagai satu morfem.

Persoalannya: apakah semua kata yang mengandung –isasi dalam bahasa Indonesia dihitung satu morfem? Bagaimana dengan kata yang dibentuk dari analogi? Persoalan ini akan saya tulis dalam kesempatan lain. Kali ini saya selesaikan dulu masalah kata standar, standard, standardisasi, dan stadarisasi.

Buku Loan Words in Indonesian and Malay (2008) mencatat standar dan standardisasi sebagai serapan dari bahasa Belanda: standaard dan standaardisatie. Buku ini juga mencatat standarisasi sebagai varian standardisasi, dengan tanda rujuk silang ke standardisasi. Artinya, standarisasi bukan bentuk yang baku.

Buku tersebut tidak mencatat kata standard sebagai kata serapan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia. Namun, Kamus Dewan Edisi Keempat (Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, 2010) mencatat standard sebagai bentuk baku dan tentu saja kata ini serapan. Kamus ini juga mencatat standardisasi sebagai bentuk baku.

Perihal standar dan standard, orang Indonesia lazim memakai bentuk standar. Buktinya, kita sulit menemukan kata standard dalam tulisan. Sejauh ini saya hanya menemukan satu orang yang memakai standard, yakni Goenawan Mohamad.

Dalam tulisan “Bahasa Indonesia untuk Pers” dalam buku Pengetahuan Dasar bagi Wartawan Indonesia (1977), ia menggunakan kata standard beberapa kali tanpa menyelinginya dengan kata standar. Namun, kini Goenawan sudah memakai kata standar (lihat cuitannya di Twitter pada 22 Juli 2019 dan tulisan-tulisan lainnya).

Artinya, bahasa Indonesia menyerap kata standaard dari bahasa Belanda menjadi standar karena deret konsonan /rd/ tidak lazim dipakai oleh penutur bahasa Indonesia, seperti yang juga dicatat oleh, antara lain, W.J.S. Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952): setandar, dan Badudu-Zain dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994): standar—lihat juga situs korpus bahasa Indonesia, misalnya, corpora.uni-leipzig.d, yang sama sekali tak mencatat bentuk standard.

Sampai di sini seharusnya tidak ada lagi masalah kata serapan dalam bahasa Indonesia yang akhir dengan deret konsonan seperti /rd/ dalam standard. Namun, ada kata lain yang berakhir dengan deret konsonan /rd/ yang dicatat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, misalnya absurd.

Kamus ini juga mencatat kata yang berakhir dengan deret konsonan /rt/, seperti sport. Di sisi lain bahasa Indonesia juga menyerap kata absurditas dari absurditeit dan sportivitas dari sportiviteit—semuanya diserap dari bahasa Belanda.

Dalam KBBI sport dilabeli dengan label cak (cakapan) alias bentuk tak baku, seperti halnya kata standard, sedangkan absurd dianggap bentuk baku. Namun, KBBI tak berani pula menyatakan spor sebagai bentuk baku sebagaimana standar, dan sama sekali tak mencatat bentuk absur.

Jika ingin konsisten terhadap kaidah bahasa Indonesia, KBBI seharusnya memuat spor dan absur sebagai bentuk baku. Namun, spor dan absur tak dicatat KBBI karena kedua bentuk tersebut tak dipakai penutur bahasa Indonesia. Jadi, kalau tak bisa konsisten, KBBI tak perlu membicarakan konsistensi bentuk kata karena akan membingungkan pemakai kamus dan menimbulkan cemoohan.

Mengenai sport dan absurd, kalau diserap, kedua kata tersebut harus mengikuti kaidah bahasa Indonesia karena diserap artinya disesuaikan dengan morfologi bahasa sasaran. Kalau tak bisa diserap, kedua kata itu tak perlu dicatat sebagai bentuk tak baku dalam kamus, tetapi cukup dimasukkan ke dalam glosarium sebagai kata asing yang sering dipakai oleh penutur bahasa Indonesia.

Karena kata tersebut kata asing, tulisannya dimiringkan. Lagi pula, tak semua kata yang dipakai masyarakat Indonesia harus merupakan kosakata kita.

Jadi, persoalan standar dan standardisasi sama dengan absur dan absurditas, serta spor dan sportivitas. Fonem /d/ pada muncul pada standardisasi dan absurditas serta fonem /t/ pada sportivitas karena diserap utuh dari bahasa sumber, bukan diserap sepihak dari kata dasar dan akhiran.

Persoalan lain dari bentuk standarisasi dan standardisasi adalah antara yang populer di tengah masyarakat dan bentuk yang sesuai dengan kaidah. Masalah ini terjadi pada banyak kata dalam bahasa Indonesia: yang satu hidup di tengah masyarakat, sedangkan yang satu lagi kurang populer (meskipun bentuk standardisasi juga populer dan digunakan secara bersaing dengan standarisasi.

Silakan periksa korpus corpora.uni-leipzig.d. Kamus-kamus lain selain KBBI juga mencatat standardisasi sebagai bentuk baku, misalnya Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994). Masyarakat memakai kata atau menyerap kata dengan intuisinya tanpa mempertimbangkan kaidah penyerapan dalam bahasa Indonesia, sedangkan Badan Bahasa menentukan ejaan baku suatu kata berdasarkan kaidah bahasa Indonesia dan kaidah penyerapan sebagai bentuk pembinaan dalam politik bahasa.

Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa unggahan akun Facebook Badan Bahasa tentang ejaan bentuk kata tersebut (yang bersumber dari KBBI) sebagai bagian dari kerja pembinaan.

Namun, di sisi lain, Badan Bahasa perlu juga memahami bahwa bentuk kata yang hidup dalam masyarakat tidak perlu dilabeli sebagai bentuk yang salah (tanda silang), tetapi bentuk tak baku. Bentuk tak baku bukanlah bentuk yang salah, tetapi hanya bentuk yang tak standar (tak baku).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR