Akhir karier Liliyana, awal pencarian mutiara bulutangkis Indonesia

Ilustrasi: Ganda campuran Indonesia Liliyana Natsir (kanan) dan Tontowi Ahmad saat pertandingan semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (26/1/2019).
Ilustrasi: Ganda campuran Indonesia Liliyana Natsir (kanan) dan Tontowi Ahmad saat pertandingan semifinal Daihatsu Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (26/1/2019). | Hafidz Mubarak A /ANTARA FOTO

Bagi Liliyana Natsir, semua sudah berakhir. Kariernya yang hebat itu telah mencapai ujung jalan. Minggu (27/1/2019) lalu, seusai berlaga di partai final Indonesia Masters, Liliyana menyudahi perjalanan 24 tahunnya sebagai pebulutangkis profesional.

Selama itu, perempuan yang karib disapa Butet telah merengkuh banyak gelar bergengsi. Liliyana mampu meraih medali emas Olimpiade, sebuah gelar tertinggi bagi seorang pebulutangkis. Keping emas itu diraihnya bersama Tontowi Ahmad, partnernya di nomor ganda campuran.

Bersama Tontowi pula, dia berhasil merengkuh dua gelar Juara Dunia BWF, gelar Juara Asia, medali emas SEA Games, hingga belasan kali menjadi kampiun di ajang BWF Superseries. Selain bersama Tontowi, Liliyana juga tak kalah hebat kala berpasangan dengan Nova Widianto dan Vita Marissa--di nomor ganda putri.

Bersama Nova, yang kemudian menjadi pelatihnya, Liliyana berhasil memenangi dua Kejuaraan Dunia BWF, Piala Dunia, hingga pelbagai turnamen BWF Superseries. Dengan Vita, Liliyana mampu meraup gelar juara di ajang Indonesia Open dan China Masters pada medio 2007-2008. Total, dara kelahiran Manado itu berhasil meraih 1 medali emas Olimpiade, 4 gelar Juara Dunia BWF, 1 Piala Dunia, 2 gelar Juara Asia, 5 medali emas SEA Games, dan 23 gelar juara BWF Superseries.

Pencapaian yang luar biasa itu membuat Liliyana dielukan sebagai salah satu pebulutangkis terbaik yang pernah ada di dunia dari nomor ganda campuran. 'One of the greatest!' begitu tulis Kamilla Rytter Juhl dan Christinna Pedersen, dua pebulutangkis Denmark, untuk memuji kehebatan Liliyana. Selepas pensiun, Liliyana memang banjir pujian, dari sesama pemain, legenda bulutangkis, hingga warganet.

Liliyana memang begitu hebat. Dan kehebatan itu selalu konsisten berada bersamanya. Setelah Susy Susanti gantung raket, jebolan PB Djarum itu menjelma pebulutangkis putri Indonesia paling konsisten. Konsisten bermain bagus, konsisten meraup prestasi.

Namun, era Liliyana sudah berakhir dan kita belum melihat ada penggantinya. Bukan, ini bukan saja soal penggantinya untuk jadi pasangan Tontowi di nomor ganda campuran. Ini soal pengganti sebagai pebulutangkis putri Indonesia yang mampu tampil konsisten; berada di level atas dan menyumbang trofi untuk Tanah Air tercinta.

Karena itu, berakhirnya karier Liliyana ini juga berarti awal bagi Indonesia. Awal untuk menemukan mutiara baru.

Dalam setidaknya satu dekade terakhir, Indonesia memang sulit menemukan pebulutangkis putri yang mampu menembus level atas--dan terus konsisten setelahnya. Terutama di sektor tunggal. Nama-nama seperti Maria Kristin, Adriyanti Firdasari, Lindaweni Fanetri, hingga Fitriani pernah menghiasi daftar pebulutangkis tunggal putri andalan Indonesia, tetapi konsistensi dan trofi masih sulit diraih.

Di sektor ganda putri, setelah Vita Marissa gantung raket, nama Greysia Polii muncul jadi andalan. Atlet yang kini berusia 31 tahun itu cukup konsisten penampilannya, dan gelar yang diraih pun terbilang lumayan. Greysia berhasil merengkuh satu medali emas Asian Games, dua gelar BWF World Tour, dan 3 titel BWF Superseries.

Yang menarik, gelar tersebut diraih bersama dua partner berbeda, yakni Nitya Krishinda Maheswari dan kemudian Apriyani Rahayu. Bersama dua pemain itu pula Greysia berhasil menembus peringkat lima besar rangking BWF untuk nomor ganda putri. Sayangnya, perempuan kelahiran Jakarta itu sudah berusia 31 tahun, yang artinya dia mungkin sudah menatap pengujung karier.

Hal yang mencemaskan, di nomor ganda putri saat ini tak ada yang bisa sekonsisten Greysia dan Apriyani. Beberapa pasangan bahkan dibongkar pasang karena penampilan dan prestasi yang inkonsisten. Alarm sudah berbunyi dan artinya, Indonesia harus segera menemukan pengganti.

Di nomor ganda campuran, selepas Liliyana juga belum ada pasangan yang mampu dijadikan andalan. Praveen Jordan dan Debby Susanto memang sempat menggondol trofi All England, tapi Debby sudah memutuskan gantung raket di turnamen yang sama dengan Liliyana. Padahal Debby adalah satu-satunya pebulutangkis putri yang berhasil merengkuh gelar All England dalam lima tahun terakhir, selain Liliyana.

Indonesia memang harus tancap gas menambang mutiara baru. Di Pelatnas PBSI sejauh ini, bakat-bakat sudah muncul dan mereka inilah yang perlu terus dipoles untuk memunculkan Liliyana atau Susy baru.

Tunggal putri memiliki Gregoria Mariska Tunjung yang perlahan mulai menjanjikan. Usai menjadi Juara Dunia Junior BWF, dara berusia 19 tahun itu mulai menanjak level elite. Dia sudah mampu menembus posisi 15 besar dunia, meski masih kalah konsisten dan pengalaman dibanding pebulutangkis tunggal putri papan atas dunia saat ini.

Sembari terus memoles Gregoria, PBSI juga perlu terus mencari bibit-bibit lain agar muncul lebih banyak atlet berkualitas dan dahaga prestasi di nomor tunggal putri bisa segera teratasi. Pembinaan di sektor ini perlu benar-benar difokuskan oleh PBSI.

Di nomor ganda putri, PBSI perlu bergerak cepat mengorbitkan atau mencari pasangan yang bisa sekonsisten Greysia/Apriyani. Jika sejauh ini pasangan lain hanya berhasil menembus 20 besar, PBSI perlu mengadakan program agar ada pasangan yang masuk dalam top 10.

Untuk nomor ganda putri, nama Gloria Emanuelle Widjaja hingga Melati Daeva Oktavianti sejauh ini cukup menjanjikan bersama pasangan masing-masing. Namun, konsistensi jelas perlu ditingkatkan dan mental bertanding mereka--terutama ketika menghadapi para unggulan--harus terus diasah. Selain itu, mumpung Tontowi masih menggebu untuk bermain, PBSI perlu mencari pasangan baru agar ilmu yang dia miliki bisa tertular.

PBSI harus bergerak cepat. Berakhirnya karier Liliyana harus menjadi tonggak untuk mencari mutiara-mutiara baru bagi bulutangkis Indonesia. Terlebih, di sektor putri, prestasi kita sudah jauh tertinggal oleh Jepang dan bahkan di Piala Uber terakhir, kita takluk dari Thailand. Di saat negara-negara tersebut, bersama China, terus mampu melakukan regenerasi dengan baik, Indonesia tak boleh hanya jalan di tempat.

Sebab, setelah era Liliyana berakhir, mau sampai kapan Indonesia hanya mengandalkan Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya untuk menghasilkan gelar juara?

Bergas Agung Brillianto, penulis dan jurnalis.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR