Angka kerumunan di negeri Wiro Sableng

SEDIKITNYA ada dua pihak yang belakangan ini mengingatkan saya akan pentingnya angka, yakni polisi lalu-lintas dan reporter televisi.

Saya harus bolak-balik antara Bandung dan Soreang buat mengurus mutasi pelat nomor kendaraan. Saya juga ikut memelototi televisi ketika banyak orang pasang aksi dengan menonjolkan tanggal kegiatan.

Dalam pandangan saya yang rabun, jalan raya adalah panggung utama buat pertunjukan angka. Lalu-lintas kendaraan bermotor adalah pameran pelat nomor. Orang beruang, juga orang berkuasa, bahkan mereka-reka nomor kendaraannya sedemikian rupa, seakan mau menonjolkan diri di tengah lautan massa.

Di Bandung dan Jakarta akhir-akhir ini, pameran angka di jalan raya bertambah seru dengan antara lain 411 dan 212. Para reporter, juga para demagog, melisankannya "empat sebelas" dan "dua satu dua". Angka yang disebutkan belakangan gampang diingat, mudah dicatat, tidak seperti nomor kendaraan atau nomor kontak di layar ponsel.

Tak tahulah dari mana datangnya kegemaran menonjolkan angka seperti itu. Dalam urusan kegentingan, kita dapat merujuk pada thriller Hollywood. Sering betul aktor laga menyebut angka 911 ( "nine eleven"). Itulah nomor telepon darurat yang terdengar tambah gawat sejak Menara Kembar di Kota New York remuk dibom pada 2001.

Dalam pertunjukan aksi massa, juga dalam tayangan reportase televisi, penonjolan tanggal kejadian dengan cara demikian sepertinya mau mengejar efek gawat, darurat, massif, mendesak. Angka-angka itu seakan jadi simbol kegentingan.

Kegawatan dalam efeknya tambah menjadi-jadi manakala reporter dan polisi mencatat kisaran angka yang merujuk pada jumlah aktor demonstrasi, terutama jumlah figurannya. Dengan itu, pemirsa televisi yang kurang piknik niscaya akan merasa seakan-akan dada Indonesia mesti segera dibantu dengan alat pacu jantung.

Alhamdulillah, saya sendiri tidak ikut-ikutan panik. Maklumlah, di kampus dulu, nilai ujian saya untuk mata kuliah statistik tidak tergolong baik. Di bidang ilmu sosial dan humaniora, saya toh lebih tertarik pada metode penelitian kualitatif. Sewaktu jadi jurnalis dulu, saya selalu punya kesan bahwa ekonomi dan moneter adalah rubrik yang kurang prosais karena terlalu banyak menghitung.

Namun, kenyataan itu tidak berarti bahwa saya tidak tertarik pada angka. Sewaktu baru masuk SD, angka kegemaran saya adalah 5. Dengan kapur tulis merah, saya menuliskan angka itu di sepanjang tembok rumah. Ayah dan ibu terkagum-kagum dibuatnya, sampai-sampai mereka segera memanggil Mang Abdul buat menyiapkan cat tembok baru.

Sejalan dengan peningkatan tinggi badan, saya pun mau dong jadi jagoan. Angkanya adalah 212. Ya, itulah angka sakti di dada Wiro Sableng dalam cerita silat rekaan Bastian Tito. Sayangnya, cerita itu membuat saya sedih selama sekitar 6,5 tahun karena tak seorang pun guru di SD kami yang menyerupai Sinto Gendeng. Harapan saya untuk belajar memainkan Kapak Sakti Naga Geni 212 pupus sudah menjelang SMP.

Wiro Sableng pada gilirannya masuk televisi seperti minuman isotonik terpajang manis dalam etalase 7-Eleven. Sang pendekar masuk ke dalam pusaran kalkulasi rating tayangan, sebagaimana para kontestan pilkada sibuk menghitung hasil polling. Manusia jadi angka, sebagaimana profil teman jadi abstrak dalam daftar nomor kontak. Suara anda ditentukan oleh jumlah pengikut dalam akun Twitter.

Rupanya, orang senang melenyapkan diri dalam jumlah kerumunan. Waktu saya baca lagi buku jadul yang tetap edun dari Marshall McLuhan, Understanding Media, saya mencatat petikan berikut: "the pleasure of being among the masses is the sense of the joy in the multiplication of numbers (kesenangan menjadi bagian dari massa adalah kegirangan dalam pelipatgandaan jumlah)."

Yang jelas, hari ini sebetulnya saya sedang bersedih. Pasalnya, dalam waktu dekat, saya harus berpisah dengan angka 1609. Itulah angka yang selama belasan tahun melekat pada mobil Kijang kesayangan saya. Pekan depan saya harus pergi lagi ke Soreang.***

Hawe Setiawan, budayawan, kolumnis bebas, mengajar di Universitas Pasundan, Bandung
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR