Anwari, antropologi, realisme

Ilustrasi: Panggung pentas
Ilustrasi: Panggung pentas | More Images /Shutterstock

Apakah yang anda bayangkan jika mendengar istilah “teater antropologi”?

Dalam beberapa tahun terakhir istilah ini hampir tidak bisa dipisahkan dari kerja teater Anwari dan Padepokan Seni Madura. Lulusan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini mendirikan padepokan tersebut pada 2014 dan memproduksi sejumlah pementasan teater yang kerap dinamai dengan istilah “teater antropologi”.

Sebagai sebuah sebutan, teater antropologi sebenarnya hasil penerjemahan secara kreatif sekaligus terbalik atas konsep theatre antropology‘antropologi teater’ yang ditemukan dan dikembangkan oleh Eugenio Barba, teaterawan asal Italia yang hijrah ke Norwegia dan mendirikan Odin Teatret—terutama jika mengacu kepada bukunya The Paper Canoe: A Guide to Theatre Antropology (1995).

Selama tiga hari pada awal pekan ini saya mengikuti serangkaian latihan teater yang dilakukan Anwari dan anggota Padepokan Seni Madura di Jember, Jawa Timur.

“Dari sebuah pendekatan, teater antropologi kemudian menjadi nama untuk karya-karya teater saya,” kata Anwari seusai latihan di sebuah warung kopi tidak jauh dari kampus Universitas Jember, Senin (4/3) malam lalu.

Pada mulanya Anwari menggarap naskah Kapal Terbang dari Bantal karya Afrizal Malna untuk kepentingan tugas akhirnya di Unesa. Dalam pementasan itu ia menggunakan pendekatan teater antropologi yang ia pinjam dari Eugenio Barba. Berkat pementasan Kapal Terbang dari Bantal pula Anwari mendapatkan Hibah Seni Kelola kategori Karya Inovatif dari Yayasan Kelola pada 2014.

Sejak itulah teater antropologi menjadi sebutan yang melekat pada semua produk teater Padepokan Seni Madura. Telanjur nyaman dengan sebutan itu, Anwari kemudian mengembangkan sejumlah proyek pertunjukan teater antropologi lainnya di sejumlah tempat di Madura (Sumenep, Pamekasan, Sampang) dan mengelilingkan pementasan itu ke sejumlah kota di Jawa Timur. Semisal seri Mini-Mini #2, Mini-Mini #3 dan Taténgghun. Bahkan, Ilusi Pasi menjadi salah satu suguhan di final Festival Teater Jakarta 2016.

Namun, Anwari menegaskan perbedaan teater antropologi yang ia kembangkan dengan apa yang ia pahami dari kerja teater Eugenio Barba.

Eugenio Barba dan Odin Teatret mencoba menyelaraskan kosagerak yang identik dengan tradisi teater di Barat dengan apa yang ia temukan dalam penjelajahannya terhadap bentuk-bentuk teater tradisi di Asia dan Amerika Latin: dari gerak-gerak khas tari Bali, katakhali India hingga capoeradan candomble Brazil—di samping sejumlah metode yang menjadi khas Barba dan Odin Teatret: sats, kraft, animus-anima dan seterusnya.

Sementara Anwari dan Padepokan Seni Madura lebih menjelajahi kosagerak yang bersumber dari tradisi masyarakat Madura. Sebagai perbandingan, ia pernah pula menjalani latihan teater metode Suzuki dan bentuk-bentuk teater lainnya, baik dari pertunjukan langsung maupun rekaman dokumentasi. Salah satu yang diciptakan dan dikembangkan Anwari adalah “metode tekanan” yang kurang-lebih bermakna “semakin ditekan tubuh seorang aktor, akan makin keluar ekspresi jiwanya yang semula terpendam.”

Belakangan, metode ini dan metode latihan fisik lainnya yang diciptakan Anwari mulai menjadi model latihan sejumlah kelompok teater di Surabaya, Banyuwangi, Malang dan Yogyakarta.

Secara umum, teater antropologi yang dikerjakan Anwari adalah kajian tentang manusia, di mana kultur, geografis dan historis yang membentuk pola pikir dan sifat manusia mewujud dalam tindakan. “Memahami teater antropologi adalah bagaimana memahami manusia,” sebagaimana ditulis Anwari dalam proses kreatif kerja teater Kapal Terbang dari Bantal.

Terlepas dari istilah yang masih bisa diperdebatkan, pada prinsipnya apa yang dikerjakan Anwari dan kelompok Padepokan Seni Madura adalah mengembalikan kerja teater ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Teater adalah upaya menghidupkan kembali tradisi atau kebiasaan masyarakat setempat dengan jalan menginternalisasi semua itu ke dalam tingkah laku aktor di atas panggung.

Dalam konteks ini aktor tidak lagi hadir ke atas panggung dengan bekal penafsiran naskah yang ketat, tetapi merespons sebanyak dan sebisa mungkin medan panggung dan khalayak penonton. Adapun panggung dalam hal ini tidak melulu prosenium yang identik dengan produksi teater modern, tetapi juga arena: halaman samping rumah, muara sungai, penambangan batu, kamar penginapan atau ruang apa pun yang mungkin.

Pokok gerak teater antropologi Anwari adalah “teater-tari” yang di luar telah berkembang sedemikian rupa dan menemukan kemungkinan bentuk yang tidak terbatas, tetapi hampir selalu mengandalkan tubuh aktor sebagai modal utama, di samping korelasinya dengan benda-benda atau properti di atas panggung yang juga telah mengalami perluasan.

Momen penting dari aksi-aksi aktor dalam teater antropologi Anwari adalah mengalami kembali alam sekitar sebagai bagian yang penting dalam sebuah produksi kesenian. Alam tidak lagi ditempatkan sebagai “sumber inspirasi” yang letaknya di luar sana, tetapi ia dialami “kini dan di sini” sebagai bagian dari kehadiran aktor. Alam diserap ke dalam jiwa dan dijelmakan kembali ke dalam gerakan dan gestur yang secara sama-samar maupun terang-terangan bisa kita asosiasikan dengan pengalaman sehari-hari kita selaku penonton.

Di sisi lain, aktor hadir bukan lagi sebagai representasi jiwa dan pikiran tokoh di dalam naskah, tetapi menjadi dirinya sendiri yang unik. Artinya, ia membawa kembali ingatan akan alam, sejarah, budaya setempat—bahkan trauma—dan pada saat yang sama ia membagikan semua itu kepada penonton sehingga penonton mendapatkan pengalaman batin yang baru atau menyegarkan.

Dua aspek terakhir inilah yang saya kira memperkuat watak antropologis teater karya Anwari. Ia menampilkan dan memuliakan kembali manusia dengan karakteristiknya yang khas dan jauh dari perhitungan seni selama ini. Dengan begini, ia telah berlaku subversif terhadap kecenderungan umum “teater-tari” yang selama ini banyak berkiblat kepada kosa-gerak dari “luar”—atau, ia telah berlaku sebagai pembela akar tradisi yang gigih?

Meski telanjur identik dengan kerja teater antropologi yang cenderung nonrealistik, Anwari dan Padepokan Seni Madura pada dasarnya juga penafsir lakon realisme. “Terakhir saya memainkan naskah realis pada 2015,” kata Anwari.

Sekarang ini mereka tengah berlatih untuk sebuah pementasan naskah realis Pagi Bening karyaSerafin dan Joaquin Alvarez Quintero yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Naskah ini telah disadur ke dalam budaya dan bahasa Madura oleh Elyda K. Rara. Anwari dan kawan-kawan akan mementaskan naskah ini dalam Helateater Salihara pada pekan pertama April nanti.

Dalam Pagi Bening, misalnya, Anwari tidak sepenuhnya menghilangkan pendekatan teater antropologi yang sudah menjadi merek dagangnya. Latihan-latihan fisik menjelang latihan naskah selalu mengambil kosagerak yang selama ini dijalankan Anwari melalui pendekatan teater antropologi. Ia misalnya mengambil anasir gerakan silat Madura untuk melatih kekuatan dan kecepatan gerak para aktornya, di samping keseimbangan tubuh aktor.

Sementara adegan di taman dengan bangku panjang dalam lakon itu disiasati Anwari dengan cara mengubah blocking para tokoh lakon tersebut. Empat aktor menempati sudut-sudut jajaran genjang dengan sorotan cahaya berbentuk kotak—selebihnya gelap. Interaksi antartokoh diminimalisasi dengan hanya gestur dan pandangan mata. Dialog diambangkan antara percakapan sehari-hari dengan renungan yang terasa berdeklamasi.

Yang juga menarik pada Anwari dan Padepokan Seni Madura adalah mereka terbiasa dengan catatan yang merekam hampir seluruh proses kerja kreatif mereka—di samping mengunggah rekaman audiovisual pentas mereka di kanal YouTube.

Dalam Taténgghun (2018)—buku yang menghimpun hampir semua proses kreatif teater Anwari, baik ia pribadi maupun bersama Padepokan Seni Madura—kita bisa mengikuti alur proses produksi teater Anwari dari yang mula-mula Death (2011) hingga yang paling mutakhir Taténgghun (2017). Tidak kurang dari 24 pertunjukan selama enam tahun terakhir.

Yang penting dari buku ini saya kira adalah aspek dokumentasinya, sebab tidak semua pekerja teater di negeri ini punya kepedulian mendokumentasikan proses kreatif teater mereka. Bukan hanya yang berupa pertunjukan yang bersifat final, tetapi juga berupa sketsa atau coretan tentang tata panggung dan elemen-elemen pemanggungan lainnya.

Begitulah, catatan telah menyelamatkan manusia dari keterbatasan ingatan. Dengan begini, sebuah produk seni—sejauh catatan itu tersimpan dengan baik—bisa dibaca atau diperiksa kembali oleh mereka yang datang dari abad-abad yang jauh di depan.

Namun, semua ini tidak berlaku bagi mereka yang malas membaca.

Zen Hae, penyair, cerpenis, dan penelaah sastra

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR