Asam di lambung dan James Joyce di kepala

Ilustrasi: bandara Helsinki
Ilustrasi: bandara Helsinki
© Novikov Aleksey /Shutterstock

Tiga hari menjelang keberangkatan, pemilik rumah yang akan menjadi tempat penginapan saya mengirim pesan: "Sila kontak Cristian di nomor ini untuk mendapatkan kunci rumah." Baiklah, Alexandru, saya akan mengontak dia, jawab saya.

Besoknya saya mengirim pesan kepada Cristian, memberi tahu bahwa saya akan tiba pada Jumat, 1 September, pukul 14.40. Ia membalas dengan ucapan selamat datang.

Pesan berikutnya dari Cristian saya baca di toilet bandara pada hari saya berangkat. Ia meminta maaf tidak bisa menemui saya pada hari kedatangan dan menitipkan kunci di stasiun sentral.

"Nanti saya kirim pesan lebih rinci di mana kunci bisa diambil," tulisnya. Terima kasih, jawab saya.

Sakit perut, yang kambuh satu hari menjelang berangkat, memberi saya kemudahan tersendiri untuk menempuh perjalanan dengan dua kali transit--lima jam di Changi, Singapura, dan hampir delapan jam di Doha, Qatar. Di kedua bandara itu, saya menghabiskan waktu dengan cara sangat simpel: hanya duduk atau tidur-tiduran di bangku dekat toilet.

Mulut saya terasa pahit. Pada transit yang pertama saya mencoba mengisi perut dan memesan kentang goreng di kedai cepat saji. Rasanya seperti iblis.

Sebetulnya semua berjalan baik-baik saja. Saya jatuh cinta kepada Finlandia karena Kalevala, puisi wiracarita yang saya baca versi Inggrisnya bertahun-tahun lalu, sehingga ketika ada kesempatan mendapatkan beasiswa untuk tinggal selama tiga bulan di luar negeri saya memilih--tanpa ragu--Finlandia.

Mestinya makin dekat ke hari keberangkatan, saya makin bahagia. Tetapi asam lambung saya tiba-tiba menggila. Saya tidak mampu bangun seharian pada hari Rabu, dan masih sengsara pada Kamis pagi, tetapi saya harus berangkat hari itu. Aneh sekali padahal saya tidak sedang tertekan atau memikul penderitaan, setidaknya saya merasa begitu.

Kalaupun ada penderitaan yang harus saya pikul dalam dua-tiga bulan terakhir, itu adalah fiksi-fiksi James Joyce. Dan itu penderitaan yang saya pilih sendiri demi menghayati kerumitan karangan penulis Irlandia itu.

"Kau akan menulis apa nanti, Kisanak?" tanya penulis Nukila Amal tiga bulan lalu ketika kami bertemu bertiga di sebuah tempat makan bersama Zen Hae. Fiksi yang rumit, jawab saya.

Ia mengejar: Rumit apanya? Kalimatnya atau bentuknya atau strukturnya?

Saya belum tahu rumit apanya atau akan serumit apa. Mungkin karena itu saya lalu menjerumuskan diri ke buku-buku James Joyce, penulis yang tampaknya kurang senang jika pembaca bisa memahami cerita-ceritanya secara mudah. Ia menulis karya-karya yang makin lama makin pelik. Jika hari ini orang bisa memahami tulisannya, besok ia akan menulis lebih rumit lagi, besoknya lagi jauh lebih rumit lagi.

Novel terakhirnya adalah Finnegans Wake (1939), ditulis selama 17 tahun, sama persis dengan waktu yang dibutuhkan oleh tonggeret untuk bertapa sebagai larva di dalam tanah sampai berhasil menumbuhkan sayap dan menjadi serangga dewasa. Ia terbit dua tahun sebelum Joyce meninggal dan dimaksudkan oleh penulisnya untuk "membuat sibuk para kritikus selama tiga ratus tahun."

Finnegans Wake dibuka dengan paragraf pertama yang berisi setengah kalimat: riverrun, past Eve and Adam's, from swerve of shore to bend of bay, brings us by a commodius vicus of recirculation back to Howth Castle and Environs. Bagian awal kalimat tersebut sengaja dipenggal.

Pengetahuan saya minus dan kondisi saya seperti katak di dasar sumur bor untuk bisa menjangkau Finnegans Wake. Joyce melibatkan banyak bahasa untuk menulis novelnya. Enam puluh lima bahasa, menurut sebuah ulasan di The Times Literary Supplement (2014).

Ia menyusun kalimat-kalimatnya dalam permainan yang terlihat begitu merdeka tetapi sebetulnya penuh perhitungan, dan menaburi setiap kalimat dengan kata-kata bentukan yang ia ciptakan sendiri.

Saya menyerah dan hanya membaca keras-keras novel itu tanpa peduli artinya. Joyce sendiri yang menganjurkan cara membaca seperti itu. Ia menyebut novelnya sebagai musik. "Barangsiapa tidak bisa memahami paragraf-paragrafnya," katanya, "yang ia perlu lakukan hanya membacanya keras-keras."

Novel diakhiri dengan kalimat tanpa tanda titik: A way a lone a lost a last a loved a long the

Beberapa ulasan yang saya baca tentang Finnegans Wake menyebutkan bahwa kalimat terakhir itu adalah penggalan yang hilang dari bagian awal novel. Jika keduanya disatukan, kita akan mendapatkan satu kalimat lengkap seperti ini: A way a lone a lost a last a loved a long the riverrun, past Eve and Adam's, from swerve of shore to bend of bay, brings us by a commodius vicus of recirculation back to Howth Castle and Environs.

Dengan cara itu, Joyce membuat bagian awal dan akhir novelnya bertemu dan membentuk sebuah lingkaran--seperti permainan tong setan di pasar malam.

Saya bangkit dari tempat duduk, berjalan seperti orang tidur, dan menempatkan diri di belakang antrian para penumpang. Pesawat lanjutan dari Doha akan terbang pada pukul 08.20. Kami mengantri satu jam sebelum pesawat lepas landas, masuk satu demi satu sambil menunjukkan tiket kepada petugas.

Ketika tiba giliran saya, petugas menanyakan mau ke mana. Dublin, jawab saya.

"Tiket anda ke Helsinki," katanya.

Keruwetan merambah ke mana-mana rupanya. Ia diam-diam hendak membelokkan saya ke kampung halaman James Joyce. Tetapi itu urusan kecil; saya hanya perlu berpindah antrian, menunjukkan tiket, dan masuk ke lambung pesawat menuju Helsinki. Delapan jam lagi saya akan tiba di tanah Kalevala.

"Anda lihat lelaki tua di depan itu?" tanya anak muda di sebelah saya ketika pesawat sudah menempuh lebih dari setengah perjalanan.

Si lelaki tua sedang berdiri menghadap ke arah kami. Si anak muda menirukan ekspresi wajah si tua. "Itu tipikal orang-orang tua di negara saya," lanjutnya.

"Hanya wajahnya yang begitu," kata saya. "Hatinya tersenyum."

Ia tertawa. Ya, katanya.

Ia mengatakan beberapa bulan lalu baru mengunjungi Indonesia untuk berlibur: Jakarta, Minahasa, Bali, Lombok. Hari itu ia baru pulang dari perjalanan bisnisnya di Uganda.

Dua jam lagi pesawat mendarat. Ia menanyakan apakah saya punya pulpen. Saya bilang ada di tas. Ia meminjam ponsel saya setelah saya selesai menggunakannya untuk memotret awan, dan menuliskan nomer kontak dan alamat emailnya di sana.

"Siapa tahu anda nanti perlu bantuan, anda bisa hubungi saya," katanya.

Anak muda yang ramah.

Di bandara Helsinki kami berpisah. Ia berjalan lurus, saya berbelok ke toilet, lalu berbelok ke tempat merokok dan duduk di antara orang-orang yang mengepulkan asap.

Cristian menelepon. "Bis terakhir menuju Pohja akan berangkat pada pukul 17.40," katanya. "Masih terkejar jika sekarang kau pergi ke terminal. Hanya sepuluh menit jalan kaki dari stasiun sentral."

Saya mengatakan masih berada di bandara.

"Kalau begitu nanti naik kereta api ke stasiun Karjaa. Dari sana nyambung satu kali dengan bis ke Pohja."

Karena urusan perut dan sebagainya, saya baru tiba di stasiun sentral Helsinki pada pukul tujuh malam (sebetulnya tidak bisa dibilang malam, sebab matahari musim panas masih terang benderang pada pukul tujuh malam). Kios tempat Cristian menitipkan kunci mudah saya jumpai. Setelah mendapatkan kunci, saya membeli korek, mondar-mandir di depan kedai kopi--masuk tidak masuk tidak masuk tidak... dan demi ketenteraman asam lambung saya memilih masuk ke kios di sebelahnya dan membeli pisang.

Masih ada dua kereta api dengan tujuan Karjaa: yang satu akan berangkat beberapa menit lagi, saya pikir tidak mungkin terkejar; yang lainnya nanti pukul 23.03. Saya ragu-ragu. Perjalanan dari Helsinki ke Karjaa memakan waktu dua jam, itu berarti saya akan tiba di sana pukul satu dinihari. Tidak apa-apa, kata Cristian, saya bisa memesankan taksi untuk menjemputmu di Karjaa dan mengantarmu ke Pohja.

Berarti ada waktu untuk berjalan-jalan sebentar menikmati matahari, bergabung dengan para perokok, menikmati pertunjukan alami di pelataran depan stasiun sentral: seseorang berkhotbah, diselingi paduan suara yang menyanyikan lagu-lagu rohani, para pejalan yang lalu-lalang, dan seorang perempuan gipsi duduk mepet pada dinding stasiun.

Saya merasa akrab sekali dengan perempuan gipsi itu. Sejak mengenal Melquiades, si pembawa ilmu pengetahuan dan pelbagai mukjizat ke Macondo dalam Seratus Tahun Kesunyian (Garcia Marquez), saya langsung merasa cocok untuk menjadikan pemimpin sirkus gipsi itu sebagai orang tua asuh. Saya memandangi perempuan gipsi di dinding stasiun seperti memandangi saudara sepupu dari Weleri atau Kendal.

Pukul 22.00 saya masuk lagi ke stasiun sentral, membeli tiket, dan menunggu kereta yang akan mengantarkan saya ke Karjaa. Dan saya menunggu di peron yang keliru. Sampai pukul setengah dua belas saya masih di stasiun sentral. Tidak apa-apa. Hanya diperlukan satu keputusan yang tepat dalam situasi begitu, yakni kembali ke titik awal.

Kereta pukul setengah satu dinihari membawa saya dari stasiun sentral Helsinki kembali ke bandara. Alexandru mengirimkan pesan singkat pada pukul dua: "Hai, Laksana, sudah sampai di rumah?" Saya jawab: "Malam ini saya memutuskan tidur di bandara, Alexandru. Saya belum pernah tidur di bandara Helsinki."

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.