Bagaimana membaca dua buku dalam sepekan

Ada masa-masa sengsara dan ada masa-masa yang lebih sengsara lagi. Yang pertama terjadi pada masa lalu, ketika gairah membaca menggebu-gebu dan saya memiliki nyaris seluruh waktu untuk membaca, tetapi akses terhadap buku sangat terbatas.

Yang kedua terjadi sekarang: saya bisa mendapatkan hampir semua buku yang saya inginkan, tetapi pada saat yang sama urusan sehari-hari sudah bermacam-macam, mulai dari hal sepele meladeni anak-anak bermain bola sampai ke urusan yang saya tidak ingin menggubrisnya tetapi tidak bisa, dan itu semua menyita waktu dan tenaga.

Jadi, dalam setiap masa, membaca buku bagi saya tetap menjadi urusan yang memerlukan perjuangan sangat keras. Kadang-kadang saya putus asa melihat buku-buku dan tidak yakin apakah bisa membaca semua buku yang telanjur saya miliki. Dan semakin putus asa ketika ada teman memberi tahu ada buku bagus atau penulis bagus atau menanyakan, “Sudah baca buku ini?”

Selain putus asa, saya juga menaruh perasan benci kepada orang seperti Bill Gates: ia kaya raya dan menjadi raksasa di bidangnya dan masih tetap menantang diri sendiri untuk membaca satu buku tiap pekan. Dengan catatan tambahan, ia rajin menulis di blognya dan merekomendasikan buku-buku bagus yang baru selesai ia baca.

Kenapa ia masih tetap ngotot menambah pengetahuan? Kenapa tidak santai-santai saja memancing atau main game seharian atau berburu makanan-makanan enak di tempat-tempat eksotik?

Dan kenapa pula saya memikirkan perbuatannya? Kalaupun ia masih suka membaca buku, itu masalah Pak Bill sendiri, bukan masalah saya.

Masalah saya adalah bagaimana bisa membaca semua buku yang saya punya—baik buku-buku cetak yang kian menguning di rak maupun ebookyang berjubel di komputer. Masih ditambah lagi dengan koleksi di perpustakaan digital yang saya mendaftarkan diri sebagai anggotanya. Jumlah bukunya 25 ribu lebih.

Seandainya saya sanggup membaca sehari satu buku—dan itu mustahil—saya akan memerlukan waktu sedikitnya 50 tahun untuk menyelesaikan semua buku yang saya miliki. Dan selama 50 tahun itu saya mungkin tidak sempat mandi, tidak gosok gigi, tidak menyisir rambut, tidak pergi ke mana pun dan hanya membaca buku. Jika hanya sanggup membaca satu buku sepekan, saya memerlukan waktu paling kurang 350 tahun untuk menyelesaikan semua buku. Baiklah, saya harus mengulang seruan Chairil Anwar: Aku mau hidup seribu tahun lagi!

Jadi, bagaimana bisa membaca semua buku? Atau, dengan kata lain, bagaimana bisa hidup 350 tahun lagi dan tetap sehat? Tampaknya tidak ada jalan keluar untuk masalah itu. Dan karena tidak ada jalan keluarnya, berarti ia bukan masalah. Anda tahu bahwa selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah. Jika sesuatu tidak memiliki jalan keluar, sudah pasti ia bukan masalah dan lebih baik tidak dipikirkan.

Tenteram sebentar dengan pikiran seperti itu: setiap orang punya cara untuk menenteramkan diri sendiri. Bahkan seumur hidup tidak membaca buku pun tidak jadi masalah. Banyak orang membuktikan hal itu. Mereka tetap hidup seperti pohon-pohon: tumbuh tinggi, kadang-kadang memperdengarkan bunyi berisik pada saat angin bertiup agak kencang, dan tidak membaca buku.

Saya pikir tidak ada masalah menjalani hidup seperti pohon-pohon.

Tetapi ketenteraman semacam itu berakhir tepat pada waktu ia harus berakhir. Sebuah iklan mengakhirinya. Ia berbunyi: “Leaders are readers, knowledge is power, book is powerful.”

Biasanya, jika saya sedang menonton video hewan-hewan di Youtube, dan video itu didahului iklan, saya akan secepatnya menutup iklan tersebut begitu muncul tulisan “skip” pada bagian kanan bawah layar. Tetapi untuk iklan tersebut saya menontonnya sampai akhir. “Rata-rata orang membaca dua buku setahun,” kata orang dalam iklan itu.

Saya langsung lupa bahwa beberapa waktu sebelumnya saya sudah berniat hidup seperti sebatang pohon. Iklan itu menghasut saya. Hanya dua buku setahun? Alangkah menyedihkan orang yang hidup seperti itu. Mungkin karena itulah mereka menjadi orang rata-rata, tidak beda dengan butir-butir telur di dalam peti.

Tentu saja ada yang lebih menyedihkan, ialah orang-orang yang tidak membaca satu buku pun selama bertahun-tahun atau tidak pernah membaca buku selama hidup meskipun bisa membaca. Mark Twain memiliki pendapat tentang orang jenis ini: “Orang yang tidak pernah membaca tidak lebih baik sedikit pun dibandingkan orang yang buta huruf.”

Orang di dalam iklan itu menyampaikan bahwa kita bisa membaca dua buku dalam sepekan, bahkan jika kita tidak tahu bagaimana cara membaca cepat.

Ini dia yang saya butuhkan!

Saya tidak tahu cara membaca cepat. Saya membaca seperti siput kebun yang hanya mampu bergerak secepat-cepatnya 25 meter per hari (karena ini urusan membaca, anda bisa mengganti kata meter dengan halaman), atau seperti orang bertamasya: menikmati kalimat-kalimat, menikmati cara penulis menyampaikan gagasan, menikmati irama yang lahir dari susunan kata-kata—dan sering menjumpai, pada pagi hari, beberapa halaman buku yang sedang saya baca menjadi kusut tertindih kepala atau tubuh saya karena saya tertidur di tengah tamasya menikmati halaman-halaman.

Selanjutnya orang itu memberikan hitung-hitungan matematika sederhana. Kecepatan rata-rata orang membaca adalah 200 kata per menit, katanya, dan panjang buku rata-rata adalah 64.000 kata. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan buku itu adalah 320 menit atau 5 jam 20 menit.

“Anda hanya perlu meluangkan waktu 45 menit sehari, membaca dengan kecepatan normal, dan anda bisa menyelesaikan satu buku dalam sepekan,” katanya.

Matahari bersinar cerah di dalam tempurung kepala saya.

Novel The Trial Franz Kafka panjangnya 84.000 kata, tebalnya 255 halaman (edisi paperback). Dengan kecepatan 200 kata per menit, kita hanya perlu waktu 420 menit atau tujuh jam untuk menyelesaikannya. Jadi, jika kita punya waktu dua jam sehari untuk membaca, kita bisa menyelesaikan dua buku dalam sepekan.

Tujuh jam untuk The Trial dengan kecepatan membaca normal. Itu sedikit lebih cepat dibandingkan dengan audiobooknya yang berdurasi 8 jam 50 menit. Mungkin untuk kenyamanan pendengar, pembaca audiobook tersebut membawakannya dalam tempo yang sedikit lebih lambat ketimbang orang membaca dalam hati.

Dan berapa jam anda butuhkan untuk menyelesaikan novel tipis Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway? Versi audiobook novel tersebut, dengan pembaca Charlton Heston, hanya berdurasi 2 jam 22 menit. Pemeran Ben Hur (1959) itu membaca dalam cara yang sangat bagus dan saya pikir The Old Man and the Sea jauh lebih bagus ketika dibacakan oleh Charlton Heston ketimbang saya baca sendiri.

Berkat iklan tentang membaca buku itu saya merasa seperti mengalami hidup baru. O, perlu dirayakan dengan secangkir kopi dan ucapan selamat kepada diri sendiri: Selamat menempuh hidup baru, ya!

Dua jam setiap hari. Dua buku dalam sepekan. Kalaupun hanya bisa satu buku, itu tidak buruk juga. Setidaknya tiap pekan pengetahuan saya bertambah.

Penting menambah pengetahuan tiap pekan sebab, sejauh ini, ia adalah harta paling berharga yang bisa saya miliki dengan mudah. Dan ia satu-satunya yang tidak bisa dirampas dari kita oleh siapa pun.

Anda bisa kehilangan uang, kehilangan jabatan, kehilangan tanah, kehilangan rumah, kehilangan teman, kehilangan saudara, tetapi anda tidak mungkin kehilangan pengetahuan, kecuali suatu hari anda kesurupan dan berubah menjadi kurang waras. Tetapi itu kasus langka. Secara umum, pengetahuan yang kita miliki akan abadi dan tetap menjadi milik kita selama kita hidup dan sehat.

BACA JUGA