TELATAH

Belajar dari kasus Via Vallen

Ilustrasi: Pelecehan seksual juga terjadi di dunia maya.
Ilustrasi: Pelecehan seksual juga terjadi di dunia maya. | Zenza Flarini /Shutterstock

Via Vallen, sang pedangdut fenomenal, kembali memantik perbincangan publik dunia maya. Kali ini bukan lantaran penampilannya yang ciamik di acara ulang tahun stasiun TV nasional. Melainkan karena kasus pelecehan seksual di dunia maya yang dialaminya.

Melalui fitur Insta Story di akun Instagramnya @viavallen, ia mengunggah sebuah foto hasil bidikan layar (screenshoot) yang berisi pesan bernuansa seksual yang dikirim melalui direct message (DM) Instagram. Konon, pengirim pesan tersebut adalah seorang pemain sepak bola terkenal di Indonesia.

Sebagaimana galibnya jagat media sosial, semua orang yang memiliki akun nyaris punya kebebasan tidak terbatas untuk mengomentari sebuah isu. Unggahan Via Vallen ini pun segera mendapat respons beragam dari warganet. Komentar-komentar warganet mengalir deras di akun Instagramnya. Tidak sedikit warganet, bahkan beberapa di antaranya juga para pesohor, memberikan dukungan atas apa yang dilakukan Via Vallen.

Di sisi lain, ada pula warganet yang beranggapan bahwa apa yang dilakukan tersebut tidak lebih dari sikap reaktif-berlebihan dan dinilai sebagai upaya untuk mendulang sensasi. Ironisnya, di antara arus komentar pro dan kontra itu, terdapat sekelompok kecil warganet yang justru menempatkan Via Vallen sebagai pihak yang bersalah.

Argumen yang dipakai untuk memojokkan Via Vallen umumnya berhubungan dengan identitas keperempuanannya, label artis yang disandangnya serta penampilan fisiknya. Lebih ironis lagi, beberapa di antara yang menganggap Via Vallen sebagai pihak yang bersalah adalah sesama kaum perempuan.

Terlepas dari segala atribut keartisan dan kecantikan yang disandang oleh Via Vallen juga pengirim pesan yang konon katanya juga pesohor, kita tentunya bisa belajar banyak dari kasus ini. Bisa dipastikan, kasus ini hanyalah fenomena gunung es, tampak sedikit di puncak, namun berserakan di bawah.

Selain Via Vallen, banyak perempuan lain mengalami perlakuan serupa, namun tidak pernah bersuara. Barangkali karena malu, takut dirundung atau bahkan menganggap hal itu sebagai kewajaran belaka.

Budaya patriarki

Ditinjau dari perspektif kajian gender, apa yang dialami oleh Via Vallen merupakan bentuk pelecehan seksual (sexual harassment). Abigail C. Saugy dalam buku What is Sexual Harassment? mendefinisikan pelecehan seksual sebagai semua tindakan, perilaku atau gerak-gerik yang tidak dikehendaki, baik dalam bentuk fisik, verbal, maupun tulisan bermuatan seksual yang berakibat pada munculnya rasa marah, malu, terhina, tidak nyaman dan terancam bagi orang lain.

Saugy mengklasifikasikan pelecehan seksual ke dalam dua bentuk. Pertama, kekerasan seksual secara fisik, yang merujuk pada tindakan pemerkosaan, pencabulan dan segala aktivitas pemaksaan seksual pada perempuan. Kedua, kekerasan seksual secara psikis. Bentuknya dapat bermacam-macam mulai dari pelecehan seksual secara verbal maupun tulisan.

Di Indonesia, angka pelecehan seksual terhadap perempuan terbilang tinggi. Data Komnas Perempuan menyebut 91 perempuan melaporkan adanya tindak pelecehan seksual pada tahun 2017. Dari keseluruhan kasus yang dilaporkan tersebut, 20 di antaranya adalah pelecehan seksual yang terjadi di dunia maya.

Jumlah itu tentu tidak merepresentasikan keseluruhan angka pelecehan seksual yang terjadi. Sebagaimana disebut di muka, tidak semua korban pelecehan bersedia membuka suara, apalagi melaporkannya pada pihak berwajib. Perempuan korban tindak pelecehan seksual umumnya enggan bersuara, apalagi melaporkan karena dilatari oleh setidaknya tiga alasan.

Pertama, lemahnya kesadaran perempuan mengenai hak-hak perempuan. Para perempuan acapkali tidak memiliki pengetahuan dan kesadaran mengenai bentuk-bentuk pelecehan seksual. Hal ini membuat perempuan cenderung permisif terhadap pelecehan seksual, apalagi jika dilakukan secara verbal.

Kedua, lemahnya penegakan hukum oleh aparat dan pihak terkait. Para korban pelecehan seksual, mulai dari pencabulan dan pemerkosaan umumnya enggan melakukan upaya hukum karena sistem hukum di Indonesia yang tidak ramah bagi para korban pelecehan seksual.

Ketiga, minimnya dukungan moral masyarakat bagi perempuan korban pelecehan seksual. Dalam setiap kasus pelecehan seksual yang diekspose ke ranah publik, hampir bisa dipastikan ada kelompok yang justru menempatkan perempuan sebagai pihak yang bersalah. Inilah yang disebut sebagai tindakan kriminalisasi korban.

Perempuan korban pelecehan seksual acapkali dicap sebagai perempuan penggoda, genit dan sederet stigma negatif lainnya. Lebih miris lagi jika stigma itu justru dilontarkan oleh sesama kaum perempuan.

Di era media sosial seperti sekarang, bentuk pelecehan seksual secara psikis memang tidak melulu terjadi secara langsung. Jagat maya media sosial, menjadi arena yang rawan bagi terjadinya pelecehan seksual. Apa yang terjadi pada Via Vallen adalah bentuk dari pelecehan seksual di dunia maya (cyber sexual harassment).

Meski dilakukan melalui media yang berbeda, pelecehan seksual di dunia maya umumnya masih dilatari oleh persoalan yang sama, yakni pemahaman gender yang timpang di masyarakat. Dalam struktur masyarakat yang patriarkis seperti umum dipraktikkan di Indonesia, perempuan memiliki kedudukan yang cenderung subordinat dibanding laki-laki.

Di ranah sosial-politik misalnya, anggapan bahwa perempuan adalah jenis kelamin kelas dua (the second sex) masih kuat tertancap di tengah masyarakat. Dalam perspektif yang timpang seperti itu, peran perempuan dianggap tidak lebih sebagai pelengkap bagi keberadaan laki-laki. Konsekuensinya, perempuan tidak akan pernah memiliki kedudukan yang setara di hadapan laki-laki.

Corak pandang yang demikian itu agaknya berpengaruh dalam relasi seksual laki-laki dan perempuan. Di ranah seksualitas, pola pikir yang patriarkis cenderung menempatkan perempuan semata sebagai obyek seks laki-laki. Dengan menganggap perempuan sebagai obyek seksual, laki-laki akan merasa berhak memperlakukan perempuan sekehendak hatinya.

Pelecehan seksual di dunia maya seperti dialami Via Vallen cukup menjadi bukti bahwa pola pikir patriarkis yang menempatkan perempuan sebagai subordinat dan obyek seks laki-laki masih berlaku di tengah masyarakat. Sehebat apa pun Via Vallen, sepopuler apa pun dia di ranah selebritas, sekaya apa pun dia secara finansial, di mata laki-laki patriarkis, dia tidak lebih dari sekedar obyek seks.

Dukungan moral

Langkah Via Vallen dengan mengungkap pelecehan seksual yang ia terima ke ranah publik -meski tidak secara terbuka mengungkap identitas pelaku- adalah hal yang tepat. Langkah tersebut selayaknya didukung oleh siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan yang masih memiliki komitmen pada nilai-nilai kemanusiaan.

Tindakan pelecehan seksual terhadap siapa pun tidak boleh dibiarkan. Pembiaran atas tindak pelecehan seksual boleh jadi adalah bentuk lain dari dukungan terhadap tindakan tersebut. Bersuara sembari mengungkap identitas pelaku ke publik adalah langkah kecil yang bisa dilakukan.

Teknik shaming (mempermalukan) seperti dilakukan oleh Via Vallen itu setidaknya akan memberikan semacam pelajaran moral bagi pelaku bahwa tidak semua korban akan bersikap diam.

Langkah selanjutnya adalah melaporkan tindakan pelecehan seksual ke aparat hukum. Selain sebagai sebuah upaya yuridis, menyeret pelaku pelecehan seksual ke ranah hukum juga bisa menjadi semacam trigger bagi munculnya kesadaran masyarakat mengenai hak dan kedudukan perempuan.

Dari kasus Via Vallen ini kita bisa belajar bahwa perempuan masih merupakan pihak yang rentan dilecehkan secara seksual. Tidak peduli status sosialnya, agama, maupun penampilan fisiknya. Dari Via Vallen juga kita belajar bahwa pelecehan seksual, bahkan dalam bentuknya yang paling halus tidak dapat dibiarkan dan harus dilawan.

Pernyataan Via Vallen di akun Instagramnya yang berbunyi “As a singer, I was being humiliated by a famous football player in my country right now. I’m not kind that girl, dude” adalah pernyataan yang menunjukkan bahwa perempuan dilahirkan dengan martabat dan kehormatan yang sama nilainya dengan laki-laki.

Siti Nurul Hidayah, peneliti, alumnus UIN Yogyakarta

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR